Legenda, Dongeng dan Mitos

Ada beberapa buku yang selalu saya bawa ke mana setiap kaki ini melangkah jauh, tentunya, selain kitab Al-Qur'an. Buku Sakti menulis Fiksi dan sebuah modul tentang ilmu jurnalistik. Buku Sakti Menulis Fiksi, saya dapatkan ketika mengikuti upgrade FLP Serang, di sebuah masjid di belakang kampus IAIN Serang. Meskipun saya tidak termasuk ke dalam anggota FLP, tapi saya ke sana hanya mengikutinya saja. Dan saya mendapatkan buku tersebut seharga, Rp.25.000. Harganya murah, tapi isi buku tersebut mahal menurut saya... Dan tulisan di bawah ini, sepenuhnya saya menyalin dari buku tersebut
Dongeng(folktale) sebenarnya hanya bagian kecil dari sebuah lingkup besar kebudayaan kolektif yang dalam antropologi disebut sebagai folklor (folklore) Folklor Folklor adalah istilah umum untuk aspek verbal, spiritual dan material suatu budaya yang disebarkan dengan lisan, pengamatan atau dengan peniruan. Orang-orang yang hidup dalam kebudayaan yang sama akan mempunyai kesamaan pekerjaan, bahasa, etnis dan lokasi geografis, yang membentuk materi tradisional. Nah, materi tradisional inilah yang akan dijaga dan diwariskan ke geenrasi selanjutnya dengan berdasarkan ingatan, tujuan dan bakat si penyebabnya. Pakar antropologi dari UI, Prof. Dr. james danandjaja, membagi folklor yang jumlahnya melimpah di negeri kita ini ke dalam tiga kategori besar, yaitu folklor lisan, folklor lisan sebagian dan folklor bukan lisan. Folklor lisan terdiri atas bahasa rakyat, ungkapan tardisional, pertanyaan tradisional, sajak serta puisi rakyat, serta cerita dan prosa rakyat. Nah, dongeng, legenda dan mitos ini masuk ke kategori cerita prosa rakyat. Mitos Mitos adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh sang empunya cerita. pelaku mitos adalah para dewa atau manusia setengah dewa. Mitos bersifat universal , dan hampir terjadi di semua penjuru bumi. Ia menerangkan asal mula dunia, manusia, hewan: asal mula suatu adat, dan bagaimana interaksi manusia dengan Tuhannya. Legenda Ia mirip dengan mitos, dan merupakan bauran antara fakta dengan fiksi. Bedanya pelaku legenda adalah manusia (walau kerap kali punya sifat yang luar biasa). Ada empat macam legenda. pertama legenda keagamaan (cerita seputar walisongo, Syeh Siti jenar, dan para tokoh suci lain), kedua legenda alam ghaib (cerita Sundel Bolong dan Gendruwo dari jawa Timur, Kisah hantu Cina di kebun raya Bogor); ketiga legenda perseorangan, (Andhe-Andhe Lumut, Kethek Ogleng); keempat legenda setempat, (legenda Kuningan, asal mula nama kota Banyuwangi, asal mula nama desa Jember, asal mula nama Tengger dan terjadinya gunung Batok, legenda Tangkuban Perahu) Dongeng Di dongeng, cerita tidak benar-benar dianggap terjadi, bahkan oleh yang empunya cerita. Ia juga tidak terkait waktu dan tempat. Tahun 1910, ahli folklor dari Finlandia, Antti Aarne, menulis buku yang menguraikan jenis-jenis folklor. karyanya ini kemudian dijelaskan dan diperkaya oleh Stith Thompson dari Indiana University pada tahun 1928 dan tahun 1961. Arne membagi jenis dongen kepada empat. pertama dongeng binatang, pelakunya para binatang.Cerita tentang si kancil yang cerdik dan licik mungkin adalah contoh dongeng binatang paling terkenal di Indonesia. Lho, bukannya itu fabel? Fabel adalah jenis khusus dari cerita binatang, yaitu cerita binatang yang mengandungi pesan moral jelas. Kedua dongeng biasa, yaitu ditokohi manusia dengan suka dukanya. Cinderella mungkin jenis terkenal dalam cerita ini. Bahkan ia menjadi tipe dari beberapa dongeng di Indonesia. Ande-Ande Lumut (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Bawang Merah dan Bawang Putih, Si melati dan Si Kecubung (Jakarta), dan I Kesuna Lan I Bawang (Bali), adalah dongeng yang setipe dengan cinderella. Dongeng jenis ketiga adalah lelucon dan anekdot yang melimpah jenisnya. Ada yang tentang agama, suku, seks, politik, orang sinting dan sebagainya. Dongeng keempat adalah dongeng berumus. Dongeng ini punya tiga bentuk, yakni dongeng bertimbun banyak (berantai), dongeng untuk mempermainkan orang, dan dongeng yang tidak memiliki akhir. Dalam membicarakan dongeng, rasanya kurang pas kalau tidak membicarakan Hanz Christian Anderson dan Grim bersaudara. Anderson (1805-1875) adalah seorang pengarang Denmark, yang dongeng perinya (fairy Tales) telah diterjemahkan lebih dari 80 bahasa. Anderson mengelana ke Eropa, Asia dan Afrika dan terus menulis novel dan catatan perjalanan, tapi yang membuatnya menjulang di jagad sastra adalah 150-an cerita fantasi untuk anak-anak yang ditulisnya yang terangkum dalam The Ugly Duckling(1843), The Emperor's New Clothes(1837), The Snow Queen(1844), The Red Shoes (1845), dan the Little Mermaid (1837).
Disalin sepenuhnya dari Buku Sakti Menulis Fiksi

9 komentar:

  1. makasih review bukunya, An. jadi lebih tau perbedaannya nih

    BalasHapus
  2. bukunya benar2 sakti ya mbak.moga2 aja aku jadi pintar nulis kaya mbak Anaz

    BalasHapus
  3. thank you, mbak Anaz... like your post deh...
    ngomong2 soal mitos, mbak percaya sama mitos ga? :D

    BalasHapus
  4. hai..apa kbr Mbak? lama tak berkunjung nih.. aku juga byk beli buku2 tentang teknis menulis..yah buat baca2 dan menambah pengetahuan dlm bidang tulis-menulis..soalnya aku ngebet banget pengen jadi penulis..

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ... baru tau perbedaannya dari postingan ini.

    Gimana khabarnya Naz... Themesnya mantap, loadingnya ngacir.

    BalasHapus
  6. nah ini pelajaran bahasa Indonesia-ku dulu
    sering lupa
    sering tak ingat
    hadoooh

    BalasHapus
  7. Lama tak berkunjung. Tampil dengan template yang lebih fresh...

    Lebih segar dari kisah2 mitos...

    BalasHapus
  8. Suka ke balik-balik, dan semuanya sering kali saya menyebutnya sebagai "cerita" saja.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P