Relawan, Antara Alay dan Jalan-Jalan

Apa jadinya kalau blogger jadi relawan? Mungkin, yang ada di benak, postingan para blogger yang bersangkutan akan banyak berbicara tentang keadaan di mana mereka menjadi relawan. Seperti kejadian musibah erupsi merapi bulan oktober tahun lalu, banyak sebagian dari rekan-rekan blogger yang berkunjung ke Jogja, menjadi relawan merapi. Lah kalau saya sih malu sebenernya mau menyebut relawan, kalau mengingat ngapain aja kegiatan saya di Jogja, kok kesannya seperti jalan-jalan aja. Apa saya termasuk alay yang jalan-jalan juga yah?
Dan berangkat dari kealayan tersebut, november tahun lalu saya ada ide untuk membukukan cerita-cerita para relawan yang sempat singgah ketika erupsi merapi terjadi. Sayangnya, info itu terbatas hanya saya tulis di multiply. Dan orang-orang yang mengetahui info tersebut juga sangat terbatas. Dari keterbatasan tersebut, ketika saya melakukan blogging dan menemukan beberapa cerita-cerita teman blogger yang menjadi relawan saya todong, saya minta izinnya, untuk mengikhlaskan naskahnya dan akan saya bukukan. Satu persatu, saya menemukan tulisan-tulisan tentang teman-teman blogger yang menjadi relawan merapi. Sebelumnya, saya sudah ada beberapa naskah dari teman-teman di multiply, tapi tidak banyak. Karena hanya terbatas kepada tiga sampai empat orang saja. Berbekal blogwalking, juga beberapa teman-teman facebook, satu persatu saya mulai menemukan naskah lainnya. Ada Dwi Wahyu, teman blogspot. Beruntung, saat selalu meminta naskah dan tulisannya tidak ada seorangpun yang keberatan. Setelah mendapat naskah dari Dwi Wahyu, ketika saya sering membuka kompasiana beberapa kali menemukan artikel tentang merapi juga. Dan penulisnya juga menjadi relawan di sana. Tanpa segan, saya langsung mengirim sebuah pesan di inboxnya, meminta tulisannya juga menyebutkan latar belakang permintaan tulisan tersebut. Alhamdulilah, dari semua permintaan tulisan yang saya minta, hanya seorang saja yang tidak memberikan jawaban. Dan semua tulisan-tulisan tersebut saya copy paste dan disusun dalam naskah word, disatukan dengan naskah-naskah sebelumnya. Saat tulisan sudah selesai terkumpul, ternyata urusan tak hanya sampai di situ. Saya, harus memperoleh penerbit. Saat berbincang dengan seorang yang sudah terbiasa berhubungan dengan penerbit konvensional, katanya, naskah yang saya punya sudah tak up to date lagi, cenderung basi secara jurnalis. Tapi saya ngeyel, dengan alasan gaya penulisan kami menggunakan tekhnik feature, Insya Allah tulisan-tulisan kami tidak menjadi basi. Toh, dari beberapa tulisan teman-teman yang menjadi relawan juga ada yang update terbaru mereka masih berada di lokasi merapi sekitar bulan februari. Alternatif lain, saya mencoba mencari indie. Setelah melihat kekurangan dan kelebihan indie yang ada, serta mempertimbangkan hasilnya, saya justru semakin bingung. Hasil penjualan sepenuhnya buku ini adalah untuk disumbangkan, jadi saya mencari penerbit indie yang sesuai. Alhamdulilah, saat saya memiliki banyak teman yang memang berkecimpung di dunia indie dan sudah pernah menerbitkan karya yang lebih kurang sama. Berceritalah saya kepada si Akhi Dirman, sahabat duduls saya, tapi yang baiknya luar biasa sama saya. Diskusi ke sana ke mari, akhirnya saya menemukan penyelesaian. Dengan bantuannya, naskah saya diedit, dia juga yang membuatkan cover. Alhamdulilah, terimakasih Akhi... Dan sekarang, naskah tersebut masih dalam proses untuk terbit. Semoga dimudahkan jalannya, juga dimudahkan pemsarannya nanti, amin ya Allah... Buat teman-teman bertuah, terimakasih juga atas ide dan bantuannya. Tak lupa, ucapan terimakasih saya ucapkan kepada rekan-rekan saya yang telah mau menyumbangkan naskahnya untuk proyek ini, tak ada yang dapat membalas budi baik kalian, kecuali Allah SWT, amin. Dan nama-nama tersebut adalah, Kang Rawins (seorang mper's, blogger's juga kompasianer's) Mas Dwi Wahyu (seorang blogger) Mas Dhave (seorang mper's dan kompasianer's) Mbak Emi (seorang mper's) Mas Trie (Seorang mpers dan kompasianer's)< Mas Arif Lukman Hakim (Saya menemuinya di kompasienr, tapi rupanya beliau seorang mper's juga) Romo Wito (Seorang mper's dan komapsianer's) Dan terakhir adalah saya sendiri.

14 komentar:

  1. wah yg namany relawan tetap sy hargai. karena tetap peduli... so berbanggalah jadi relawan n bantulah masyarakat kita

    BalasHapus
  2. Semoga sukses dengan cita-cita yang luhur ini mbak, dan di permudah jalan nya :D

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  3. kalau bukunya sdh terbit jgn lupa diulas ya Mbak dlm blognya, biar aku bisa baca gratisan, hehe..

    BalasHapus
  4. Mbak Anaz,ide cerita dan tulisannya selalu bagus, gimana trik2nya

    BalasHapus
  5. satu kata untuk mba, "luarbiasa!". menerbitkan buku menurut saya adalah proses yang rumit, tapi setelah baca tulisan mba kayaknya gampang ya.. atau mungkin karena tergantung apa yang akan kita bukukan berhububung temanya sosial/non profit/humanity jadi lebih mudah. Btw semoga Allah SWT memberi kemudahan dan kelancaran untuk pemasaran dan sirkulasinya. Amin.

    BalasHapus
  6. saluuuuuuuutttt......
    Anaz emang yahuuuuuuuuddddd

    ayo semangat

    BalasHapus
  7. Ide mbak Anaz emang gak ada matinya ya..? Seneng banget nerbitin buku kayaknya. Salut deh... dan semoga bukunya laris manis mbak.

    BTW, maaf baru sempat mampir karena sedang sibuk ikutan diklat sampai tgl 26 Mei nanti.

    BalasHapus
  8. Tante, nerbitin buku lagi ya? Hebat banget...

    BalasHapus
  9. Tante... templatenya ganti ya? Jadi terang sekali sekarang... bagus banget.

    BalasHapus
  10. Subhanallah...niat tulus Anaz, semoga dimudahkan Allah pencapaiannya. Salut, dan dengan niat lillah, akan selalu ada perpanjangan tanganNya.Sukses ya..

    BalasHapus
  11. salut buat anazz..
    semangat yaa..
    maaf baru sempet blogwalking :D

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P