Melihat Musibah Menuai Hikmah

Terburu-buru saya menaiki bus jurusan Merak-Kalideres. Kemudian mencari tempat duduk yang masih kosong. Siang itu, saya akan menuju ke Tanah Abang dan melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Saya turun di Kebon Nanas, kemudian singgah sebentar di sebuah masjid untuk menjalankan shalat ashar. Lantas melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus jurusan Tomang. Dengan keterbatasan yang ada, sebisa mungkin saya menuju Tanah Abang, tanpa harus tersesat. Alhamdulilah, meskipun tidak pernah ke Tanah Abang, kali ini tidak ada adegan nyasar.

Sampai di Tanah Abang, saya mencari teman-teman yang lain. Kemudian kami berkumpul di sebuah kedai makan, menunggu kehadiran Mbak Emma dan Mbak Ammy di mana mereka adalah sebagai trainer yang menerangkan beberapa hal tentang apa saja yang akan kami buat di Jogja nanti. Dari pihak MBC sendiri, di Jogja sudah ada dua orang. Tapi ia sudah di Jogja lebih dari seminggu. Menurut Mbak Ammy, relawan yang sudah bekerja lebih dari satu minggu, akan mengalami adrenalin rush, di mana dalam pengamatanadrenalin rush, relawan hanya dapat bertahan satu minggu, setelah itu ia akan tepar.

Bakda maghrib, kereta yang kami nantikan pun tiba dan segera beranjak meninggalkan stasiun.

Kami sampai di Jogja jam 9 pagi, Jogja, ternyata tidak seperti yang dikabarkan di televisi.

Sampai di posko dekat UPN (Universitas Pembangunan Nasional), kami disambut oleh Mbak Rika relawan MBC (Mom and Baby Center) yang sudah seminggu lebih berada di Joga. Gurat kelelahan tergambar jelas di wajah Mbak Rika. Setibanya di posko, kami tidak langsung menuju ke lapangan. Istirahat sebentar, kemudian mandi baru kami bergabung dengan tim lainnya. Kebetulan, MBC sendiri bekerja sama dengan Dhompet Dhuafa dan Layanan Kesehatan Cuma-cuma.

Setelah mengikuti briefing sebentar, kami langsung menuju posko pengungsian di UIN. Di sana, kami membuat assesment tentang kebutuhan para Ibu dan balita. Karena MBC sendiri, lebih mengkhususkan pertolongan kepada para Ibu dan balita. Membuat assesment, dengan menanyakan beberapa keperluan ibu-ibu membuatku berpikir, tentang arti sebuah bencana, buat kita yang tidak mengalaminya.

Sore hari, masih di hari yang sama. Saya dan Cici menuju ke Maguwoharjo, berdua kami meredah hujan, mencari kendaraan yang bisa membawa kami ke sana. Atas petunjuk beberapa orang polisi, akhirnya kami sampai juga di Maguwoharjo.

Sampai di Maguwoharjo, kami terbengong-bengong melihat jumlah pengungsi yang jauh lebih banyak berbanding di UIN. Juga perbedaan penempatan pengungsian. Di Maguwoharjo, keadaan pengungsi lebih memprihatinkan. Banyak dari para pengungsi yang tidur begitu saja di ruangan terbuka, bahkan di emperan stadion sendiri. Sedang di UIN, pengungsi di tempatkan di di dalam ruangan tertutup.

Tak bisa terucap dengan kata, menyaksikan hilir mudiknya para pengungsi. Juga lalu lalang para relawan serta para wartawan. Baju-baju bekas yang berserak, sebagian di antaranya untuk lap, karena hujan lebat menjadikan basah di beberapa emperan stadion. Dan tak sedikit tumpukan baju-baju bekas tersebut dijadikan lahan bermain untuk anak-anak kecil. Saya dan Cici mengelilingi stadion Maguwoharjo, menyaksikan keadaan mereka. Saya tak sedikitpun berniat membidiknya dengan kamera. Kamera saya sembunyikan di balik jaket sama sekali tidak saya keluarkan. Melihat mereka, menyaksikan mereka buat saya sudah cukup untuk meletakan diri berada pada posisi mereka. Bahwa musibah, ada kalanya membawa hikmah untuk yang melihatnya.

Ditulis untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh dokter Prita di sini

11 komentar:

  1. salam kenal... pertamax nih...tukar link yuk

    BalasHapus
  2. Hmmm sungguh beda rasanya ya mbak kalo menyaksikan langsung musibah yg terjadi dgn soaudara kita di jgj sana. smoga menang ya lombanya :)

    BalasHapus
  3. Subhanallah, Mbak dan teman2nya bisa membantu korban Jogja...
    salut Mbak,

    sukses lombanya :)

    BalasHapus
  4. siip deh mba...
    smga mkin skss z ya..

    BalasHapus
  5. Kebon Nanas kalau ke bandung aku juga kesana dan aku tau masjid yang mba maksud hehe soalnya disana kan cm ada satu masjid besar :D

    Sungguh mulya sekali hati mba anaz membantu korban bencana :)

    BalasHapus
  6. Mbak Naz kuaaaaangeeeen #hug
    Hiks, lama enggak silaturahmi kesini baru tahu kalo 'rumahnya' sudah ganti.
    Jadi ingat pas gempa 2006 dulu, sekuat apapun saya menahan diri untuk tidak menangis tetap saja saya menangis sesegukan begitu tiba dilokasi. Padahal harusnya saya menghibur mereka, ee..malah dihibur *ketahuan cengengnya* :)

    BalasHapus
  7. Subhanallah...

    Begitu menyentuh hati pastinya, menyaksikannya langsung di lokasi... berinteraksi langsung dgn para korban bencana... hikmah utk selalu bersyukur bagi yg masih diberi kemudahan hidup...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P