Mengais Remah-Remah Cerita di Jogja

Sudah beberapa hari, aku berada di Jogja. Rencananya, hari itu kami akan kembali ke Muntilan bersama dengan tim medis dari Dompet Dhuafa dan LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) Aku duduk di ruang tamu bersama dengan teman-teman yang lain. Di rumah seorang kepala dusun, yang dijadikan posko pengungsian untuk lansia dan balita. Kembali, aku melihat seorang nenek yang kemarin bersitegang dengan menantu lelakinya

Aku melihat nenek itu ngesot keluar. Buru-buru, kami mengejarnya “Mau ke mana, Mbah?” Tanya Mbak Prapti

“Ke kamar mandi, panas. Saya mau mandi.” Jawab si Mbah dengan suara perlahan. Lantas dengan sigap, Mbak Prapti dan seorang pengungsi perempuan mengangkatnya menuju kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, nenek itu segera melepas bajunya. Yah, nenek itu ternyata sudah tak bisa berjalan lagi, ia hanya bias mengesot

Melihat sang nenek melepas baju hatiku menangis, Mbak Prapti pun menyeka air matanya. Tak hanya aku dan Mbak Prapti yang menitikan air mata, bahkan nenek tersebutpun terisak, dengan bahasa jawa ia berujar,

“Mohon maaf, saya telah merepotkan.” Ujarnya, sambil menyeka air mata dengan kain jariknya. Dia juga membuka diapersnya sendiri. Kemudian ia masuk ke kamar mandi, tanpa mau dibantu oleh kami. Lagi-lagi, ngesot…

Ah, aku betapa pilunya. Apakah orang tua menjadi bencana ketika umurnya telah senja? Duh Gusti, aku menangis, membayangkan masa tuaku, juga mengingat orang tuaku. “Ya Allah, jauhkan aku dari sifat mendurhaka kepada orang tua.”

Selesai mandi, kami sudah menyiapkan baju ganti juga diapers. Melihat nenek tadi keluar dari kamar mandi tertatih-tatih dengan ngesotnya, tak urung membuat aku, Mbak Prapti dan juga pengungsi satunya kembali menyeka air mata, simpati. Setelah selesai mandi, Mbak Prapti dan teman pengungsi kembali mengangkat nenek tersebut, sampai ke ruang tamu kepala dusun.

Teman-teman lelaki belum kembali dari shalat jum’at. Iseng, aku kembali menyusuri stadion Maguwoharjo. Dengan membawa kamera, aku mengambil beberapa gambar. Melihat antrian panjang di dapur mie instant, juga melihat para jama’ah lelaki yang melaksanakan shalat jum’at tepat di depan stadion Maguwoharjo. Aku semakin jauh berjalan ke arah selatan stadion, di sana ada tanah lapang, di mana ada beberapa orang yang sedang memukul batu. Semakin dekat aku melihat, rupanya mereka sekumpulan orang yang sedang membuat lumpang. Salut dengan usaha mereka, di tengah-tengah bencana, masih ada yang bekerja keras dan berusaha.

Tak lama, aku mendapat SMS, katanya, akan segera berangkat ke Muntilan.

Lagi, aku menemui jalanan yang berdebu rumah yang gentengnya berwarna kelabu… Sunyi. Kali ini, tim kami kembali ke Muntilan, tapi lebih jauh dari tempat kemarin. Kalau kamis sebelumnya kami membuka posko kesehatan di SD, jum’at tengah hari itu, kami membuka posko kesehatan di sebuah pondok pesantren. Melihat sekeliling juga sesekali menterjemah beberapa bahasa yang ditanyakan oleh beberapa ibu-ibu kepada Mas Hadi. Yah, Mas Hadi berasal dari Makassar, dia sama sekali tidak bias berbahasa jawa.

Ketika melihat seorang bapak-bapak yang sedang mengacak-acak tumpukan sampah, aku penasaran dan bertanya,

“Nyari apa, Pak?” dengan menggunakan logat jawa bahasa halus

“Ini, Mbak. Nyari bekas sisa nasi kalau ada. Buat ayam, kasihan. Ayam juga butuh makan.”

Deg. Aku teringat kotak nasi jatah makan siang yang belum kujamah, kuletakan di pojokan tenda di depan stadion Maguwoharjo. Aku jadi berandai-andai sendiri, “kalau saja aku membawanya.” Betul juga kata bapak tadi, dalam keadaan musibah seperti itu, tak hanya manusia yang membutuhkan bantuan, tapi juga hewan. Muntilan, jum'at 12 nopember 2010

20 komentar:

  1. jadi inget kata temen pas lagi nyari dog food ... "lebih mentingin buat binatang ketimbang perut sendiri"

    :p

    BalasHapus
  2. Dan seringnya hewan2 itu terlupakan :(
    Sungguh perjalanan yang berharga ya mba,
    jadi bisa memperkaya batin
    saya juga sedihi ngebayangin nenek itu yang harus ngesot untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain :(
    Ngenes aja kalau sampai mengalami sendiri hiks ...

    BalasHapus
  3. masih ingat sama hewan yang belum makan ya, sungguh mulia

    BalasHapus
  4. malam semakin larut, dalam kiasan sebenarnya bumi semakin tua...kalau mau berandai, inginnya mati dalam keadaan bagus....tidak menjadi tua yg nantinya merepotkan yang muda. tapi itu cuma andai, manusia cuma wayang...bergerak karena kuasa Sang dalang. Jadi tidak mengapa, karena sudah ada hak pengelolaan pada diri kita, untuk menuju hidup bermanfaat atau tidak.
    bernilai dimata sang dalang, bukan pada sesama wayang....itu kalau mau luhur adanya.

    salam damai ^__^

    BalasHapus
  5. dibalik semua hal ada hikmah ya mba Anaz....ada anugerah dibalik bencana...dan untuk berbenah memang selalu ada korban. Dilihat dari struktur sistem alam, tidak ada kekejian padanya, semua sudah prosedur pengembangan dan seleksi alam pada yg ada diatasnya. Sekarang bagi jiwa yg ada, pandai-pandai untuk mencari celah syukur...walau itu sempit sekali dan berkecamuk antara kedukaan dan sengsara.

    BalasHapus
  6. salam damai dan kenal mba Anaz...senyummu simpul dan polos ^_^

    BalasHapus
  7. Naz...lama yaa, baru mampir lagi. Jempol n sukses selalu!

    BalasHapus
  8. hiks.... sementara kita mengeluh dengan sedikit kesulitan yang kita temui...
    terima kasih sudah mengingatkan mbak Anazkia...
    salam kenal.....

    BalasHapus
  9. mengharukan yah..
    makanan memang tidak bisa dibuang2 begitu saja.

    BalasHapus
  10. hmmm,,,,betapa bersyukurnya kita yng masih diberi kelebihan rizki berupa makanan,,,terima aksih telah mengingatjan

    BalasHapus
  11. bersyukur bencana merapi kemaren malah jadi bikin kita makin banyak sodara yo mbak n_n

    BalasHapus
  12. Salam kenal
    Blognya mencerahkan :)

    BalasHapus
  13. sejak pertama tjd bencana..suasananya begitu menyayat hati..pdhl ga menyaksikan langsung,..apalagi mbak anaz yg lihat dg mata kepala ya??...koq br diposting skrg mbak??sibuk bgt ya??? mksh ya mbak..dah berbagi cerita yg menyentuh hati kita semua..:)

    BalasHapus
  14. Kemarin ikut jadi relawan gunung merapi to mbak? Sy juga ikutan beberapa hari.

    BalasHapus
  15. semoga di beri ktabhan yaa
    maju trz jgn ptah smangtt,jd ingt wkt studytour k kota jogya teh

    BalasHapus
  16. emz mengharukan sekli...
    stju bgt gx cm mnusia membutuhkan mkn,v hewan jg

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P