Kenapa Nggak Nikah Lagi, Mbak?

"Mbak nikah umur berapa?"

"Dua puluh."

"Waktu suami Mbak meninggal, Mbak umur berapa?"

"Dua puluh enam tahun."

"Jadi Mbak nikah cuma enam tahun doank?"

"Iyah."


Kadang, setiap melihat Mbak Ati bercerita saya dibalut salut dan kagum yang luar biasa. Perjuangan seorang perempuan, menjadi single parent, menghidupi kedua anaknya setelah sang suami dipanggil keharibaan-Nya.

Yah, Mbak Ati adalah seorang TKW, bekerja di sektor rumah tangga. Dia bekerja dengan anak majikan saya, sudah dua tahun. Sekarang, ia sedang cuti pulang ke Indonesia. Mbak Ati, setiap kali datang ke rumah ibu, sering dan kerap bercerita tentang masa lalunya. Tak hanya itu, sesekali ia juga bercerita tentang penat lelahnya menjadi seorang kuli rumah tangga. Di mana harus pintar memenej perasaan juga menjaga perasaan, saat lelah dan dilanda susah.

"Setahun pertama, Mbak seperti orang gila. Anak-anak tidak diurus, bahkan yang mengurus adalah kakak lelaki Mbak," Ia tak bosan menceritakan detik-detik pahit yang telah dilewatinya.

"Apa waktu itu Mbak nggak kasihan sama anak-anak, Mbak?"

"Kasihan, tapi waktu itu mengurus diri sendiri saja Mbak nggak bisa." Tanpa beban, ia terus bercerita. "Mbak seperti orang gila, beneran. Mbak gak percaya kalau suami Mbak sudah meninggal"

Mengikut hati, cukup sudah rasanya saya mengorek cerita masa lalunya. Tapi, ceritanya membuat saya terus dibuai tanya, apa yang membuatnya setegar itu.

"Lama kelamaan, Mbak sadar. Mbak mengurus diri, baru mengurus anak-anak. bahkan, orang tua Mbak juga berusaha mencarikan air penawar, untuk melupakan bayangan-bayangan suami Mbak," tak ada sedikitpun air mata dalam ceritanya. "Sejak saat itu, Mbak mulai bekerja, apapun Mbak lakukan, kerja di warung, pabrik roti juga pernah jualan di dekat sekolah. Melihat anak-anak membesar, Mbak semakin semangat menghadapi hidup. Mbak berjanji berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi mereka dan menyekolahkannya."

Sigh... Selama ngobrol, saya benar-benar sering menyimpan air mata di depannya. Saya tidak mau menangis di depan Mbak Ati.

Beberapa tahun lalu, Mbak Ati pernah kerja di Malaysia dengan majikan India, alhamdulilah, meskipun majikannya galak, tapi ia bertahan sampai dua tahun. Kalau sudah mengungkit masa lalunya, saya juga pernah bertanya,

"Kenapa Mbak nggak nikah lagi?"

"Nggak pernah kepikiran untuk nikah lagi. Buat Mbak, anak-anak Mbak sudah cukup. Kalaupun menikah, belum tentu suami Mbak mau menerima mereka. Banyak yang datang melamar setelah suami Mbak meninggal, tapi Mbak tidak pernah menghiraukannya."

"Orang tua, Mbak?"

"Mereka menyerahkan semuanya ke Mbak. Setelah suami Mbak meninggal, Mbak masih mengaku kalau suami Mbak masih ada dan status Mbak adalah istri orang."

Hadeuh.. meleleh deh mendengarnya. Betapa besar cintamu pada suami, Mbak. Terharu inget ibu saya yang nggak mau menikah lagi. Alasan sama, merasa mendiang suaminya masih hidup

Mendengar kronologi meninggalnya suami Mbak Ati, almarhum hanya sakit sesaat. Hanya beberapa hari, katanya, angin duduk.

"Suami Mbak orangnya baik banget."

Kenapa orang baik selalu cepat pergi yah?

Mbak Ati, aku salut padamu!

Jelas gak foto Mbak Ati?


34 komentar:

  1. kesetian istri pada suaminya....
    emang gitu ya mba kalau orang yang baik itu sering pergi lebih awal..

    BalasHapus
  2. Kenapa orang baik selalu cepat pergi ya? pertanyaan yang sama.

    Beruntung judul tulisan ini berakhiran 'mbak'. heheheh...

    BalasHapus
  3. hiks, aku juga ikutan meleleh membacanya,..malam minggu g endu..:( :(

    BalasHapus
  4. wanita/istri memiliki kecenderungan mencintai sampai mati pada 1 hati... itu seperti kuku, dia tumbuh, tumbuh dan tumbuh terus walau setiap saat dipotong

    BalasHapus
  5. Saya jg pny temen sist skrg usianya sudah 50lbh msh krj di hongkong. Suaminya selingkuh hasil krj di hk 2thn pertama habis tnp sisa. Single parent dngn 4 anak. Berkat kegigihannya krj di hk, skrg 4 anaknya sdh sarjana semua bahkan ada yg sudah S2.
    Subhanallah. . . . Beliau cerita sambil nangis, Ehmmm wanita kalo udah pny anak apapun diperjuangkan untk anaknya, tnp mikir dirinya sndr (ga cari suami lg he)

    BalasHapus
  6. supaya ndak terkontaminasi mbak kalau kelamaan di bumi. salut juga saya sama orang yang mbak ceritakan ini, pekerjaan menjadi ibu rumah tangga memang tidak mudah, tidak seperti yang terlihat :)

    BalasHapus
  7. kalo ada istri yang mau nikah lagi kenapa ya?????

    BalasHapus
  8. kurang jelas fotonyambak.
    seneng deh mbak anaz balik nulis lagi disini

    BalasHapus
  9. hmm...cerita yang mengharukan,,kestiaan seorang istri,,jadi pingin cari seorang yang setia seprti itu,,tapi memang orang baik itu lebih sering dipangiil lebih dhulu krena harum baunya tercium sampai kesurga...AMIN

    BalasHapus
  10. Subhanallah... Mba Ati orang yang sangat tegar yah Mba...

    BalasHapus
  11. Kisah menyentuh.

    Menikah atau tidak menikah lagi, sesungguhnya sebuah misteri juga. Seberapapun ingin atau seberapapun menolaknya, bila ia tak tiba atau malah tiba, tak seorangpun mampu menolaknya.

    Semoga mba Atiknya mendapat situasi yang terbaik.

    BalasHapus
  12. hadeh, jadi inget paman.
    meninggalkan istri dan anak kembar dalam usia pernikahan yang belum ada 5 tahun :(
    sampe sekarang sudah beberapa tahun, istrinya juga belum mau menikah lagi.

    BalasHapus
  13. sayang ya gak keliatan fotonya.....
    aku pengen liat lebih deket mbak, pasti orangnya keren, orang yg tabah.

    BalasHapus
  14. @vie_three : coba deh di klik fotonya, keliatan jelas kok :)

    BalasHapus
  15. Slaut Mbakk...
    hehhehe
    Link kku Pasang donk di Blog Listnyaa..hehehhe

    BalasHapus
  16. Menjanda diusia yang masih sangat belia, dan memilih untuk tidak menikah lagi demi anak-anak...
    *berkaca-kaca, semoga Mbak Ati selalu tegar, titip salam ;)

    BalasHapus
  17. ntar kirim duitnya aja via WU
    persyaratannya gimana?

    BalasHapus
  18. kalo dah nulis komen panjang, prepare dengan menekan Ctrl+A (select all) di kotak komen, lalu Ctrl+C (copy)
    ntar kalo gagal komen, tinggal Ctrl+V aja utk paste

    BalasHapus
  19. wah sungguh setia sekali mba ati ya mbak, saluuut.

    BalasHapus
  20. mungkin mbak ati penganut faham
    cinta hanya sekali, dan menikah juga sekali,

    atau yang agak ngeles dikit...
    mungkin mbak Ati mau nikah setelah melihat si empunya blog ini menikah dulu.
    pisss ah..... kabooorrrr

    BalasHapus
  21. daku faham kalo dirimu kangen sama tulisan lamaku, dirimu kan paling demen kalo aku makan melon ditiap tulisanku kan.. hahhahahha (pitnah)
    kalo kangen ubek aja postingan ku Nak... ada di related post by categories... monggo dipilih..dipilih... mumpung masih anget

    BalasHapus
  22. berjalannya waktu mendidik mabk Ati menjadi pribadi yang tegar dalam menghadapi banyak hal. Kematian suaminya menjadikan semua yang tidak pernah terbayang menjadi hal yang harus digeluti.
    salut atas kesetiaan dan ketegarannya

    BalasHapus
  23. Bisa saja ini, tetapi kurang pendalaman....konten perjuangannya, ketangguhannya belum dieksplorasi....ayoooo, sudah baca buku Duhai Muslimah Bersyukurlah?

    Itu contoh karya yang oke, makanya itu buku cetak ulaaaaang...

    BalasHapus
  24. wah Cinta mati banget yaah mbak itu dengan suaminya.. semoga dipertemukan kelak saat di Surga, Aamiin

    BalasHapus
  25. kasihan dengan lelaki yg ditolak cintanya :(

    BalasHapus
  26. jadi teringat dengan seseorang..... ^_^

    BalasHapus
  27. hiks, terharuuu tapi sedih jugaaa :(
    aku aja yg ada suami, ngurus anak2 msh terasa berat, apalagi mbak ati yaaa :(

    BalasHapus
  28. tegar bener yach.....si mba Atinya.......???

    BalasHapus
  29. ya Allah mbak... Subhanallah... terharu bgt saya sama kisahnya mbak Ati. salam ya mbaak :')

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P