Jamasan di Keraton Surakarta

Jamasan adalah upacara ritual untuk membersihkan benda-benda pusaka, seperti keris, tombak, dn sebagainya. Ritual jamasan jimat dilakukan setiap tahun pada bulan Sura. Sampai saat ini, ritual jamasan jimat masih dilaksanakan di desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas. Sumber wikipedia. Saya baru mengetahui ritual jamasan ini ketika berkunjung ke Keraton Surakarta akhir tahun lalu. Setelah dari Jogja, saya singgah ke Sragen menginap di sana. Setelah dari Sragen, saya menuju Semarang dan singgah ke keraton Surakarta.

Diantar oleh adik sahabat saya, untuk pertama kalinya saya menjejakan kaki di keraton Surakarta. Memasuki gerbang kraton yang entah di sebelah mana suasana sangat lengang. Setelah membayar tiket saya memasuki salah satu pintu gerbang yang tertutup. Ada seorang penjaga perempuan duduk tak jauh dari pintu, memeriksa apakah kami memiliki tiket atau tidak. 

Tak jauh dari situ, terlihat beberapa orang tengah bergerombol, duduk mengitari sebuah tempat tepat di tengah-tengah sebuah bangunan. Saat saya bertanya dengan penjaga pintu, katanya sedang ada ritual jamasan. Menarik buat saya yang tak pernah menyaksikan ritual tersebut. Setelah mengambil gambar di sekitar bangunan, saya mendekat di mana beberapa orang tersebut berkumpul. Sebagian dari mereka ada yang memakai seragam. Iseng, saya mengambil beberapa foto. Nampak di depan rupa-rupa sesajen disajikan, asap kemenyan menguap memenuhi persekitaran. 

Saya melihat lebih dekat. Ketika ramai-ramai beberapa orang mengarahkan kamera dan mengerubuti seorang lelaki berbusana adat resmi saya pun ikut merengsek maju ke depan. Kalau saya perhatikan, sebagian besar dari mereka adalah para wartawan. Banyak persolan-persoalan dilontarkan oleh para awak media. Tentang tujuan diadakannya upacara adat jamasan tersebut. Pasca erupsi Merapi, dikait-kaitkan dengan ritual ini. Dengan bersahaja pertanyaan wartawan dijawab oleh orang tersebut.

Setelah berhasil mengambil gambarnya, barulah saya mundur ke belakang. Ada dua orang perempuan yang berdiri di belakang dengan memegang sebilah keris di tangan. Saya mendekatinya bertanya siapa gerangan tadi yang banyak diburu para wartawan. Rupanya, beliau adalah Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Puger seorang penganggem musium dan pariwisata. Setelah mendapat kejelasan dari dua orang gadis yang ternyata ditugaskan sebagai dokumenter saya kembali ke tempat tersebut. Memotret beberapa sesaji yang tersedia, kemudian saya dan adik teman saya meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke kompleks lor *nggak tahu mana lor kidul :D. 
Saiyah kok syerem lihat ini, yaks? 

Di kompleks ini saya memasuki museum kuno. Di sini banyak tersimpan barang-barang peninggalan lama. Ada yang masih terawat dengan baik, ada juga yang sudah terbiar tak terpelihara. 


Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Puger

Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-45, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa. (wikipedia)

terlepas dar pemahaman tentang jamasan yang saya lihat buat saya yang masih dangkal ilmu menganggap bahwa apa yang saya temui dalam kehidupan saya bukanlah sebuah pemahaman baru untuk saya, tapi sebuah pengalaman baru yang bisa dijadikan pelajaran buat saya dan dijadikan pengajaran untuk dipelajari. Wallahua'lam.







The Anaz duduls

9 komentar:

  1. Jadi ingat memori study tour pas SMP ke Keraton Surakarta #agak konyol nih, padahal saya dah lupa karena itu dah lama hehehe

    Lestarikan budaya Indonesia

    BalasHapus
  2. sayang suasananya sudah ga sesakral kraton jogja naz
    udah kelangan wahyu apa ya..?

    BalasHapus
  3. koq sesajennya menyerupai manusia ya? kayak vodoo..hiiiiiiy
    dapet wangsit ga mbak??

    BalasHapus
  4. Keraton Surakarta, saya malah belum pernah masuk padahal sering lewat.

    Masalah jamasan, dulu di kampung pernah lihat tetangga melakukan hal serupa pada keris kesayangannya yang dilakukan setahun sekali ketika 1 syuro, cuman ndak pake sesajen kek gitu. Hanya asap kemenyan dan air campuran aneka bunga dan jeruk nipis. Entahlah

    BalasHapus
  5. Membaca dan melihat lihat.. Sepertinya ini kunjungan perdana buat saya.

    BalasHapus
  6. itu makanan yang ky orang itu apa ya?
    kok bentuknya lucu gitu

    BalasHapus
  7. aku heran seklai waktu kesana, kenapa banyak patung patung khas eropa d keraton. gak matching banget kan sebenarnya....

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P