Karena Aku Mencintainya


Aku dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Sejak kecil, aku dan Kakakku ditinggal merantau oleh kedua orang tua. Aku tinggal dengan Nenek dan Budeku. Sepertinya, sejak aku berumur 3 tahun dan Kakakku, umur 4 tahun. Aku masih ingat, di kota mana pertama kali kedua orang tuaku merantau. Aku juga masih ingat, saat kepulangan kedua orangtuaku dari rantau, mereka akan membawakanku banyak oleh-oleh dan makanan. Saat ibuku pulang, kadang aku masih sering digendongnya ke sana ke mari dengan  makanan yang dibawakannya.


Gembira, saat kedua orang tuaku pulang. Tapi, adakalanya kegembiraan itu seringnya tak berlangsung lama. Ia harus segera aku akhiri, di mana orang tuaku akan kembali berangkat ke kota. Aku dan Kakakku kembali ditinggalkan dengan Nenek dan Budeku. Sepi. Tak jarang, aku lah yang lebih sering menangis panjang saat kedua orang tuaku kembali berangkat ke kota. Bahkan, kadang sampai senja turun ke peraduannya aku masih saja menangis tersedu di tepi jendela. Berharap, kedua orang tuaku akan kembali. Tapi ternyata, sampai malam dan keesokan harinya, mereka tidak juga kembali.

Hari-hari selanjutnya kembali seperti biasa. Aku kembali mengakrabi hidup dengan Kakak, Nenek, Bude dan saudara-saudara sepupuku. Sekolah pagi, mengaji petang menjadi agenda pentingku sehari-hari. Nenek dan Budeku, tidak mengenal huruf maupun angka, tapi justru kekurangan merekalah  yang menyemangati kami untuk belajar sebaik-baiknya. Senasib denganku, sepupuku pun orang tuanya merantau.

Ditinggalkan sejak kecil dan jauh dari orang tua menjadikanku tidak begitu mengenali orang tuaku sendiri. Bahkan, aku cenderung jauh dengan Bapakku. Beruntung, aku amsih akrab dengan ibuku. Aku jarang sekali berinteraksi dengan Bapak. Pun saat Bapak pulang ke kampung. Aku justru merasa malu, ketika harus mencium tangan Bapakku. Aku juga merasa malu saat harus duduk dengannya. Apatah lagi, hendak bergurau senda, ia jarang sekali kulakukan.

Semakin hari, kejauhan itu menjadi jurang pemisah antara aku dengan Bapak. Tak hanya aku, begitupun dengan Kakakku. Komunikasi, jarang sekali kami lakukan. Apalagi, dulu tidak ada fasilitas handphone. Suratpun, kami jarang sekali mengirimkannya. Kecuali mengabarkan kami meminta uang. Silaturrahmi, betul-betul menjadi hal yang mahal untuk kami. Kejauhan itu, menimbulkan riak-riak kebencian dalam hatiku. Pun dengan Kakakku.

Waktu terus bergulir. Orang tuaku, kadang hampir setahun lebih tidak pulang ke kampung halaman. Apalagi, setelah aku memiliki dua orang adik. Kami sebagai anak-anaknya merasa tertekan. Menimbun perasaan rindu. Dan memendamnya menjadi dendam kebencian yang membara. Apatah lagi, pihak keluarga Nenekku seolah memojokkan pihak Bapak. Sementara dengan Ibu, aku amat sangat merinduinya saat itu.

Tak lama setelahnya, aku mendengar Bapak kecelakaan. Naluri seorang anak, tetaplah menangis saat mendengar musibah yang menimpa Bapak. Tapi keegoisanku tetap bergeming, untuk membenci Bapak. Hingga hari yang dinanti itu tiba. Bapak dan Ibukku pulang dengan kedua adikku. Ternyata, bapak tidak seperti semula. Akibat dari kecelakaan yang dialaminya, kaki Bapak pincang. Kaki kanan, menjadi lebih pendek sedikit berbanding kaki kirinya.

Sesekali, aku masih bisa akur dengan Bapak. Bersalaman, bercengkrama juga bisa duduk satu meja. Tapi adakalanya ia tak berlangsung lama. Lagi-lagi, aku masih harus melakukan “perang dingin” dengan Bapak. Pernah suatu ketika, saat Bapak pulang sampai kembali pergi ke perantauan aku tak menyalaminya. Bahkan, tak bertegur sapa. Bapak marah besar kepadaku. Aku, yang ketika itu baru lulus SD disuruhnya melanjutkan sekolah. Tapi dengan gembiranya, aku justru mengikuti Budeku bekerja di Tangerang, sebagai seorang pembantu rumah tangga. Setelah sebelumnya, menjadi kuli di sawah.

Bapak kecewa denganku. Aku semakin tidak peduli dengan Bapak. Buatku, dekat dengan Ibu sudah cukup. Mungkin karena masih terlalu kecil, aku bekerja di Tangerang tidak bertahan lama. Hanya 6 bulan. Setelah itu, aku justru menyusul keberadaan kedua orang tuaku. Di sana, aku kembali akrab dengan Bapak. Meskipun, tak lama setelah itu aku justru kembali bekerja di Pamulang. Di Pamulang, majikan menyuruhku sekolah. Tapi, pada saatnya, aku justru memilih kembali tinggal dengan orang tuaku.

Saat berumur 15 tahun, aku mendaftar sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Di saat teman-teman yang lain seusia denganku menduduki bangku kelas 3, aku justru baru memasuki kelas 1. Aku kembali menduduki bangku sekolah, setelah hampir dua tahun tidak merasakannya. Setiap harinya, aku tak lagi disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga. Aku justru disibukkan dengan buku dan pena. Kembali, menjadi seorang pelajar.

Hubunganku dengan Bapak, sudah normal seperti biasa. Meskipun aku masih menjaga jarak dengan Bapak. Sampai usia remaja, aku masih enggan bercerita banyak dengan Bapak. Jarang sekali aku menceritakan masalah-masalah yang ada. Sering, aku disulut cemburu, saat menyaksikan teman-teman yang sebaya denganku, bisa beramah mesra dengan Bapaknya. Sementara aku ah, jarang sekali.

Pun ketika aku baru memasuki kelas satu catur wulan ke tiga, masalah kembali melanda keluargaku. Lagi-lagi, dengan masalah yang ada justru menyulut kembali kebencianku yang ada dengan Bapak. Lagi-lagi, aku harus melakukan “perang dingin” dengan Bapak. Akibat dari semuanya, Ibuku seolah menjadi korban keadaan. Di mana Ibu, selalu berbelah bagi menghadapi antara aku dan Bapak. Meskipun sudah remaja, aku kembali bersifat kekanak-kanakan. Aku tak lagi mau sekedar menyalami Bapak. Apalagi, menegurnya. Keadaan itu berlangsung cukup lama.

Hingga pada waktunya, Bapak dan Ibuku kembali harus merantau ke Jakarta (kemudian pindah ke Pamulang). Sementara aku dan Kakakku bekerja dengan orang. Aku kembali sekolah seperti biasa. Sementara kedua adikku, mengikuti Budeku.  Sewaktu kecil, aku tinggal di kampung bersama Nenek, tetapi saat remaja  aku lagi-lagi  harus (mampu) hidup mandiri. Di mana aku bekerja dan ikut dengan orang. Kami membagi tugas. Sebelum pergi ke sekolah, adakalanya aku menyempatkan diri membantu Kakak mengemas rumah. Sementara Kakaku, melakukan kerja lainnya. Saat petang menjelang, aku menyiapkan masak untuk majikanku. Begitulah, rutinitas itu kujalani, selama hampir 5 tahun. Meskipun aku harus seorang diri, saat Kakakku menikah. Alhamdulilah, dari situ juga aku bisa mengenyam pendidikan, meskipun tak sampai bangku kuliah.

Selama itu juga, hubunganku dengan Bapak mulai membaik. Aku sudah bisa berbicara biasa dengan Bapak. Tak lagi dipaksa-paksa Ibu saat harus menyalami tangan kasar Bapak. Saat Bapak berkunjung ke tempat majikanku, aku juga sudah terbiasa bercerita dengan Bapak. Banyak hal yang kami bicarakan. Ah, baru aku tahu penderitaan Bapak selama itu. Masih teringat, ketika hampir semalaman kami bercerita. Betapa perjuangan Bapak selama hidup penuh dengan liku dan cobaannya. Ah, betapa aku merasa sangat durhaka sebagai anak.

“Waktu di pamulang, Bapak pernah tidur di emperan toko.”
“Betulkah, Pak? Terus, Bapak selimutannya pakai apa?”
“Pakai kardus. Banyak orang, Nggak Cuma Bapak.” Aku terdiam. Tercekat dalam kesedihan yang dalam. Rasa bersalah, bertubi-tubi menderaku. Kenapa selama itu, aku tak pernah bertanya? Kenapa aku tak pernah membuka hati, untuk sekedar bertanya apa dan bagaimana kehidupan Bapak ketika itu.

Bapak juga bercerita, saat musibah kecelakaan dulu menimpanya. Bagaimana Bapak dan Ibu mencoba bertahan agar terus “hidup” selama musibah itu. Ibu harus membanting tulang, menghidupi Bapak dan kedua adikku. Sedang aku, di kampung nunjauh sana. Bapak menunjukan kaki bekas kecelakaan dulu, ada sedikit tulang yang menonjol. Seingatku, baru kali itulah aku memegang kaki Bapakku. Juga malihat sendiri, kalau kaki Bapak, tak lagi sama dengan kaki-kaki orang normal lainnya.

Tapi, dengan kecacatan yang dimiliki, Bapak masih bekerja. Bapak masih berusaha, untuk menghidupi anak-anak dan isterinya. Pun, ketika suatu hari Bapak menelponku, mengabarkan kepulangannya dari Pamulang.
“Nak, besok Bapak pulang.” Waktu itu, aku sedang bermain ikan di kolam depan rumah majikanku. Hari ahad.

Esoknya, aku sekolah seperti biasa. Aku menanti-nanti kepulanganku. Karena Bapak berjanji, akan pulang hari itu. Sayang sekali, senin, adalah jadwal terpadat di kelas saat itu. Bimbel Matematika, juga ada ekskul Merpati Putih. Jadilah, kepulanganku saat senja, ketika matahari hampir terbenam.

Sampai di rumah, hari sudah merayap malam. Tapi, Bapakku belum juga sampai. Ada sedikit kekhawatiran. Entah apa yang aku lakukan, aku pun sudah lupa... Majikanku pun, tidak berada di rumah. Jadi, aku ditemani Kakakku. Saat hari mendekati tengah malam, tiba-tiba ada telepone, mengabarkan kalau Bapak kecelakaan. Dan aku beserta adik-adikku disuruh segera menuju Pamulang, malam itu juga. Saking penasarannya, aku menanyakan keadaan Bapak. Tapi, sang penelpon tetap keukeuh, bilang bahwa secepat mungkin aku harus ke Pamulang. Kakaku, kebetulan ada di rumah majikanku.

Jam sebelas malam, sunyi mulai terasa. Aku dan Kakakku, kehilangan ide. Setelah menelpon kesana kemari, akhirnya, diambil keputusan, aku ke Pamulang beserta dua adik dan Budeku. Sementara, Kakakku, menyusul bersama suaminya malam itu juga. Hampir jam dua belas malam, aku, kedua adikku dan Budekku menunggu bis jurusan Kalideres, di Simpang Tiga Cilegon. Sepi sekali, hanya ada beberapa tukang becak dan lalu lalang kendaraan sesekali. Semenjak mendapat telpon tadi, sebetulnya, hatiku sudah menangis. Menangis, takut dengan keadaan bapakku. Menangis, jangan-jangan, bapakku sudah pergi untuk selamanya.

sepanjang jalan, antara Cilegon-Kalideres air mataku tak henti-henti mengalir. Meskipun sesekali hanya isaknya saja. Budekku, membiarkan saja aku demikian. Sesekali, ia mengelu-elus pundakku Sementara kedua adikku, hanya diam membisu. Mereka masih terlalu kecil, untuk memahami sebuah musibah. Hatiku masih menangis, segala doa dan harap ku ucap dalam hati. Ya Allah, andaikan bapakku Kau ambil, maka, berilah hamba keikhlasan untuk menerimanya. Segala harap, kusimpan erat. Segala perkara buruk, kusiapkan bulat-bulat.

Sampai di Kalideres, sudah melewati tengah malam. Kami mencari kendaraan menuju Muncul dari situ, baru kamu mencari angkutan lagi menuju Pamulang 2. Sampai di depan perumahan Pamulang 2, kami naik becak. Ah, betapa luluhnya hati ini. Mendekati gang rumah yang kami tuju, terpacak sebuah bendera kuning. Yah, bendera kuning. Itu artinya, sebuah bendera kematian. Lagi-lagi, aku menangis. teka-tekiku terjawab sudah. "Bapakku, telah pergi..." Bude memegang erat tanganku, mungkin untuk menyejukkan hati.

Semakin mendekat ke rumah yang aku tuju, ramai orang berkerumun. Aku cepat-cepat mencari Ibukku. Dan, apa yang aku khawatirkan memang betul. Ibuku sedang menangis, merintih juga sesekali meraung. Bahkan, terlihat lebih histeris ketika bertemu dengan kami (anak-anaknya dan juga Bude, kakanya sendiri) Ibuku lunglai di pelukan Bude. Sementara aku, aku hanya tergugu pilu. Ya Allah, ternyata Engkau betul-betul telah mengambil Bapakku. Tak lama setelah itu, Kakak sepupuku datang dari Jakarta. Ia memelukku erat, aku terisak di pundaknya. Aku belum melihat jenazah bapakku.

Setelah, tangisku reda. Aku memberanikan diri mendekati jenazah yang terbujur kaku di ruang tamu. Menyibak kain yang menutup muka, melihat dan menyusuri seluruh wajahnya. Ah, lelaki itu. Lelaki yang menelponku sehari lalu, lelaki yang mengabarkan kepulangannya ternyata, ia pulang kepada-Nya. Seluruh badannya dingin, Kaku. Satu persatu, aku memegang dahi dan kedua pipinya. Sejuk. Ada sisa-sisa air mata di kedua pelupuk matanya. Kesedihanku, kembali menjalar. Aku mengusap airmatanya dengan penuh cinta, cinta yang tak akan pernah terkata dan sampai kapanpun, lelaki itu tak akan mendengarnya. “Bapak, aku mencintaimu…”

" Wahai Tuhanku, kasihihlah mereka keduanya, sebagai mana mereka telah mendidik aku waktu kecil." (QS, Al-Israa:24)



24 komentar:

  1. Asslm Mbak Anazkia, ini kisah nyata kan?
    Bahasa cinta seorang Bapak terkadang qta salah pahami ya Mbak..?
    Semoga beliau bahagia selamanya disisiNya... Amin...

    BalasHapus
  2. mendoakan bapak supaya diberikan tempat yang layak disisi Allah SWT mbak

    BalasHapus
  3. salam kenal buat mba anazkia,membaca cerita ini membutku berurai air mata,karna ayahkupn telah tiada.sekedar ntuk menciumnya untuk yg terakhirpun,kesempatan itu tak ada dan hanya doa2 yg mampu kuslip dalam sujud2 terakhir untknya...semoga Allah memberi tempat yang terbaik untuk2 ayah kita yang tak kenal lelah,berpeluh keringat memperjuangkan hidup ini untuk kita...aamiin.mba af1 follow me in my blog please...http://redgrden.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. Menyentuh...bahasa cinta yang menusut kalbu...jos jaya mbakyuku...

    Do'akan sukses ya adek mbakyu ni dalam seo kontes....mudah-mudahan bisa menang 5 seo kontes sekaligus pas desember nanti ha ha ha ha ha amiin ya rabb

    BalasHapus
  5. haii kunjungan pertama..
    kamu yang di fb nya "anazkia aja " bukan...

    salam kenal ya...

    semoga Bapakmu Mendapat tempat di sisi-Nya..

    BalasHapus
  6. saya jadi ikut tergetar membacanya mbak.. :(
    semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya mbak.. yang sabar iya mbak sekeluarga...

    sukses buat kontesnya :)

    BalasHapus
  7. Kisah sedih yang semoga saja membawa hikmah bagi pembacanya.
    Semoga almarhum bapakmu mendapat tempat yang baik disana.

    Sukses buat kontesnya.

    Salam.. .

    BalasHapus
  8. " Wahai Tuhanku, kasihihlah mereka keduanya, sebagai mana mereka telah mendidik aku waktu kecil." (QS, Al-Israa:24)

    Aamiin YRA...

    Ikut terbawa dengan kisah ini, menyentuh sekali Mbak Anaz...

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum mbak..

    Akhirnya, saya cuma bisa nitip salam buat Bapak saja ya mbak. Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT

    BalasHapus
  10. terharu, semoga Bapak selalu disayang Allah :)

    BalasHapus
  11. Mbak Anaz.. tak terasa menangis aku membaca kisah ini, Semoga beliau selalu mendengar do'a-do'a Mbak Anaz.. :)

    BalasHapus
  12. MBa.. aku terharu :(
    aku benar2 terharu..
    apalagi setelah 2 tahun tak bertemu bapak. aq rindu :(

    mba anaz pasti salah satu hamba Allah yang begitu sabar.

    BalasHapus
  13. saya di kabupaten semarang mba, ibukotanya ungaran.
    30 menit dari kota semarang ^^

    BalasHapus
  14. cintailah yg perlu di cintai...jngan pernah mnyerah smpai darah pnghabisan...

    slm knal and jngan lupa kunjungi blog.q yach

    BalasHapus
  15. selamat pagi mbak,..maaf baru sempat mampir dan menyapa.
    maaf lahir batin dulu ya mbak..dan gudlak atas kontesnya.

    kisah ini pun mengingatkanku..hiks hiks

    BalasHapus
  16. menyentuh :(

    terimakasih ya mbak atas partisipasinya, sudah dicatat sebagai peserta.. *masih spechless*

    BalasHapus
  17. uwaaaaaa lama ga mampir, ternyata dirimu rajin update ya sekarang... hmmm tanda-tanda apakah ini? *pasang senyum curiga
    wekekekkeke

    BalasHapus
  18. . menyentuh sekali bacanya juga .

    . jngan pernah nyerah

    BalasHapus
  19. semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah swt. sesungguhnya dialah seorang ayah yang telah menjalankan semua kewajibannya atas anak-anaknya...

    *nyeka air mata* hiksss

    BalasHapus
  20. artikel yang sangat bagus..
    like it pokonya, nyentuh banget..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P