Bias Senja Abu-Abu

Kali ini saya kembali posting copas :D ini masih tulisan yang kemarin, dari event Festival Fiksi Kolaborasi di kompasiana bulan maret lalu. Hasil tulisan dari tiga pemikiran. Saya, Peran Sabeth dan Inseeya. Tidak begitu sulit ketika harus menulis kolaborasi, dengan berbekal diskusi baik melalui YM maupun inbox FB kami dapat bekerja sama dengan baik.  Sebelum masing-masing menulis, saya wanti-wanti ke mereka kalau jangan mengambil genre cinta, soale saya nggak bisa. byuhhh... Akhirnya, inilah hasil tulisan kami...




Aku duduk termangu di ruang tamu yang tak begitu besar ruangannya. Sepi, seorang diri. Ayah sepertinya sudah berangkat ke sawah. Begitu setiap pagi, rutinitas terbaru ayah, yang jarang sekali dibuat sebelumnya. Ayah seolah tak mau bertemu denganku. Aku bingung sendiri menghadapi kelakuan ayah. Aku seolah terjepit dengan keadaan yang serba salah, menyebelahi antara kemauan ayah juga menghargai kerja keras juga usaha ibu.

Malas-malasan, aku menuju kamar mandi di belakang rumah. Kamar mandi sederhana yang dibuat sepenuhnya oleh ayah, tapi atas jerih payah ibu. Kalau mengikutkan hati, aku malas pergi kuliah. Tapi demi mengingat kerja keras ibu, aku harus memaksa diri untuk ke kampus. Dan ayah...??? Ah, aku lelah mengingat dan memikirkannya.

Selesai mandi, aku buru-buru menukar baju. Menyicipi sedikit makanan yang ayah masak pagi tadi, juga menyeruput teh kurang manis buatan ayah. Duh, ayah... Engkau begitu baik, ayah yang penyabar, tapi kenapa engkau memberikan keinginan yang amat sulit buatku, ayah...???
Tidak mau berlama-lama dengan segala gundah gulana, aku segera menyarungkan sepatu, menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Berharap, saat sampai di kampus, aku boleh bercengkrama dengan teman-teman dan melupakan sedikit dilema yang melanda pikiranku.
***
"Gimana kabar ayahmu, Ris?" Nina duduk menyebelahiku di depan koridor kampus.

"Ayah baik, Nin. Makasih." Aku menjawab lesu... Berharap ketika tak ada soalan tentang ayah di kampus, rupanya Nina bertanya lebih dulu.

"Maaf, Ris, aku kembali mengingatkan." Nina meraih tanganku, seolah memberi kekuatan.

"Tak mengapalah, Nin. Tanpa kamu tanya, masalah ini pun akan selalu ada. "

"Apa ayahmu masih dengan niatnya? Ibumu sudah tahu?"

Ah, Nina. Aku seolah dijatuhi dengan berbagai bebanan yang berat untuk menjawab pertanyaan Nina. Tak satu pun mampu kujawab. Ayah, ibu, keduanya orang yang sangat kucintai...

"Nin, aku belum bisa menjawabnya sekarang," Aku menangis tiba-tiba. Nina langsung memelukku erat.

"Yuk masuk, Pak Dosen dah masuk tuh... Hapus air matamu." Nina mengulurkan tisyu.

"Makasih, Nin..."

Beriringan, aku masuk ke dalam kelas. Hati ini begitu hampa. Entah ke mana segala pikiranku, padahal sebentar lagi MID semester. "Ayah, kenapa engkau mengutarakan niat yang sangat berat? Tak ingatkah ayah dengan ibu?" Aku membatin. Duh Gusti, apa yang sedang ibu lakukan kini di luar negeri, bekerja sebagai buruh migrant, membanting tulang, demi memenuhi kebutuhanku?
***

Masuk ke dalam ruang kelas, aku bagai memasuki ruang gelisahku yang lain. Sejuk. Hembusan dingin hawa AC semakin mencekik gelisahku. Langkah kakiku galau menapaki lantai keramik mencari nomor urut tempat dudukku. Di pojok, mentok tembok, nomor 30 di sanalah aku duduk di kursiku. Di kerumuni rasa gelisah. Seakan tembok di kananku adalah sekat pembatas jarak antara aku dan ibuku, antara gelisah dan sadarku.

Setelah lembar-lembar kertas  jawaban dan kertas soal-soal di bagikan. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Jawaban apa yang harus aku katakan kepada ibu? Desahku dalam lamunan. Kenapa pula aku gelisah begini? Apa yang aku gelisahkan ini? Stop! Aku harus konsentrasi dulu dengan soal-soal ujian MID semester ini. Biarlah yang lain aku selesaikan dirumah.

Waktu bergulir cepat dalam konsentrasiku, tak terasa aku telah menyelesaikan soal sampai nomor 3 diantara ke 5 soal ujian dan berhenti. Gelisah kembali mengusik pikiranku. Dan kembali melamun.
Dalam lamunan, kenanganku berlarian jauh ketika seseorang melambaikan tangan perpisahan di ruang tunggu koridor bandara Sukarno-Hatta. Masih jelas aku mendengar di telingaku deru mesin turbelensi pesawatnya. Basah rintik gerimis flury diatas landasan pacunya. Titik kecil kerlap-kerlip lampu di belakang ekor pesawatnya. Air Asia, nama pesawat yang menerbangkan ibuku ke negeri antah-brantah itu. Meninggalkan aku dan ayahku dua tahun yang lalu.

"Rin, sudah selesai apa belum? Ayo kita pulang!" bisik Nina yang duduk disebelah kiriku membuyarkan lamunanku.

Aku gragapan, pena di dalam genggaman tangan kanan lepas bergemeretak di atas lantai keramik putih. Dan aku pungut kembali, "belum Nin, kurang nomor 4 dan 5", jawabku dan aku meneruskan menulisku kembali.
Selesai. Aku pulang, dan berpamitan dengan Nina di jalan. Sampai di rumah aku terlentang pada kasur kerasku. Memandangi langit-langit kamar yang berlubang. Remang samar oleh lampu pijar kuning 25 watt menggelantung di eternitnya. Sesamar aku mengenang wajah ibuku. Oh... Ibu, kenapa pula kau harus pergi meninggalkanku? Untuk sesuap nasi? Dan oh,,, ayah kenapa pula kau ingin menyudahi cintamu kepada ibu? Untuk mencintai perempuan lain?

Kembali gelisah meloncat-loncat di dalam kepalaku. "Aku harus bagaimana?" Bisikku, keras pada diri dan hati. Pernah aku dengar orang-orang berkata: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya. Ya Alloh, apakah aku harus memilih ibuku, dan meninggalkan ayahku yang baik itu?

"Dalam hidup kita, cuman satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau kita tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?" bisik hatiku. Ah, tidak. Tidak!!! ini bukan soal berani atau menjadi pemberani. Tapi ini soal kenyataan hidup yang harus aku jalani. Cukup. Cukup sudah!
Dalam hening di malam sunyi, aku sudahi drama monologku dengan hati kecilku. Aku paksa mataku untuk terpejam, mengatup-ngatupkan bibirku, agar aku bisa melupakan sejenak gelisahku yang merajam pilu.
***
Tiga bulan telah berlalu, dan keadaan berubah 360 derajat dari sebelumnya. Ayah mendadak sakit, terkapar terbaring di ranjangnya karena penyakit disentri. Selama tiga bulan dia sudah banyak melawati saat-saat kritis penyakitnya, dan sebenarnya aku sudah mengabarkan keadaan ayah kepada ibu, tapi ibu tak mau meninggalkan pekerjaannya barang sejenak untuk pulang menengok ayah. Dia hanya mengirimkan sejumlah uang untuk perawatan dan doa saja. Sangat disayangkan, kenapa ibu bisa begitu.

Pada suatu malam aku duduk di sisi ranjang ayah tempat ia berbaring, menunggunya, tak percaya bahwa ayah akan berhasil mengelakkan maut sekali lagi. Namun demikian, kulakukan segala sesuatu yang dapat kulakukan untuk memberi harapan baru padanya.

Tiba-tiba, ia setengah menegakkan badan di ranjangnya, dan mendekatkan bibirnya yang panas karena demam dekat ke telingaku, "Riska, anakku, Ibumu, di mana ibumu anakku..."
Ia berbicara, makin lama makin cepat, seakan-akan takut akan kehabisan waktu untuk menyampaikannya semua itu kepadaku. Aku berusaha menerangkan padanya bukan ini akhir riwayatnya, bukan sekarang. Dan kemudian aku menatap sejenak wajahnya yang pucat pias dan tubuhnya yang ringkih itu. Dadanya turun naik, mencoba berusaha memasukkan paksa oksigen kedalam paru-parunya. Kelihatan pula olehku ketika ia benapas tulang-tulang rusuk di dadanya yang tak berdaging lagi, di antara balutan baju tipis rumah sakit.

Ayah membisikkan kembali sebentuk kata, tapi telingaku tak cukup bisa menterjemahkan gaung yang berasal dari kedua katup bibirnya yang semakin pucat, aku hanya bisa mendengar suatu frasa seperti…”A-pa I-bu-mu a-kan pu-lang?..”. Samar, suara serak hilang timbul memenuhi rongga telingaku hingga menembus ujung-ujung saraf penterjemah di dalam otakku. Namun masih tak kumengerti apa maksud pembicaraan Ayah. Hanya saja segala hal yang sedang ada di hadapanku sekarang seperti sebuah episode yang mampu membuat air mataku buncah ruah, tak terbendung dan akhirnya tumpah. Ayah, pribadi yang begitu aku sayangi semenjak aku mengenal sosoknya, semenjak kali pertama beliau melatihku berjalan, ketika masih tertatih maka aku di tuntunnya, ketika terjatuh maka aku di raihnya, dan ketika aku mulai limbung, akan selalu ada sebuah dada lapang yang siap kupeluk. Tapi sosok itu kini terbaring lemah di sampingku. Mungkin aku hanya memiliki satu permintaan. Ya Tuhan…berilah kesempatan kepada ayah untuk bertemu ibu. Satu kali saja, di saat-saat terakhir yang Ayah miliki.

Mendung masih saja menggantung ketika senja bersamaan dengan warnanya yang abu-abu kembali melukis jejak yang tampak bias di pelupuk mataku. Segalanya begitu cepat terjadi, ketika secara tiba-tiba ayah tersengal hingga detaknya perlahan meredup. Tubuhnya mendingin, merambati ujung jemari kaki hingga sampai pada bibirnya yang berubah menjadi biru. Aku hanya terpaku, menatap kelopak matanya yang cekung, garis-garis halus berkerut yang menghias dahinya, serta helai-helai putih yang menyebar di seluruh lengkung kepalanya. Sekarang ayah telah lelap, Bersama dengan bulir rintik hujan mengulin di jendela kaca rumah sakit yang terbuka miring... Dan aku kembali pada dekap dadanya yang lapang, meski tak sehangat dulu.
***

Aku mengantarkan Ayah ke tempat istirahatnya yang terakhir, bersama dengan sanak saudara dan kerabat yang lain. Mereka menanyakan apakah Ibu akan pulang, maka akan selalu aku jawab dengan senyuman dan anggukan kecil, entah apakah aku sanggup sepenuhnya mengiyakan. Hingga pada bulir-bulir terakhir gerimis yang melengkapi senjaku yang abu-abu, aku mencoba berdiri kembali pada kedua kaki yang seharusnya telah kuat. Tapi seakan lekat, disamping pusara Ayah, rasanya ingin tinggal lebih lama untuk menemaninya.
***

Dering pertama pagi ini tidak berasal dari jam wekker di meja samping tempat tidurku, akan tetapi ponsel yang tergeletak di atas kasur memaksakan getaran serta bunyinya untuk tertangkap indra pendengaran dan kulitku untuk merasakannya. Ini dari Ibu, nomor yang semenjak kemaren tidak dapat aku hubungi, kecuali sambungan terakhir kali yang menjelaskan bahwa Ibu tidak bisa pulang. Kemarin adalah senja terakhir milik ayah, tanpa Ibu.

Suara di seberang mengucapkan salam, lalu aku menjawabnya, masih dengan suara serak sisa tadi malam.

“Riska…sudah bangun?”, hanya itu yang mampu dikatakan Ibu, mungkin Ibu telah menerima pesanku, atau pesan itu menyasar kebelahan dunia mana yang tidak kuketahui hingga tidak pernah sampai kepada Ibu.

“Sudah Bu,” jawabku. “Bu…,” sebelum aku mengeluarkan suara, Ibu telah memotongnya.
“Ibu sudah mendengarnya… Innalillahi wainna ilaihi roojiun”, aku terisak kecil sementara suara Ibu lebih tegar, tidak tampak getar sama sekali.

“Maafkan Ibu”

“Untuk apa?,” tanyaku sesak menahan isak.

“Ibu banyak bersalah dengan kalian, sungguh Ibu tidak tahu bagaimana harus menebusnya…,”

“Tapi ada apa? Kenapa Ibu minta maaf?  Untuk ketidakpulangan Ibu?  Tidak apa-apa, Riska tahu kok kalau Ibu tidak akan dengan mudah mendapatkan ijin dari majikan.”

“Bukan itu saja Riska, sepertinya ini saatnya Ibu memberitahukan padamu bahwa…, Senyap, tak ada kata lanjut terucap. “Ibu sekarang telah menikah lagi dan Ibu yang meminta Ayah untuk mencari pengganti Ibu, jangan sedih, Ibu akan selalu menyayangi kalian.”

Sepersekian detik, aku dapat memahami kata-kata Ibuku, tubuh dan perasaanku merespon, tiba-tiba aku merasakan saluran nafas yang serasa buntu, pita suara yang tak dapat sedikitpun bergaung meski hanya satu kata. Seperti ada sebuah batu besar menghimpit. Selanjutnya aku menutup telepon dari Ibu tanpa menjawab pengakuan yang baru saja dilakukannya. Dan ketika aku keluar dari kamarku, kusaksikan rumah rumah yang lengang, sarapan dan teh hangat kurang manis yang beberapa hari lalu masih bisa kunikmati sekarang tak lagi tampak di meja dapur. Kosong. Meninggalkan sebuah ruang tak berpenghuni diantara tulang-tulang rusuk. Dan aku telah kehilangan dua malaikatku.

Kolaborasi : Anazkia+Peran Sabeth+Inseeya ( No:40 “Trio Bingung”)

10 komentar:

  1. Pertamax!!!!...belum selesai bacanya...
    Jadi pengen banget bisa nulis di kompasiana...
    Gimana ya? DM saya apakah sudah diterima?

    BalasHapus
  2. @arr rian, sudaaahhhh

    Nanti tunggu publish di blogspot, alamatnya saya cantumkan. Terimakasih :)

    BalasHapus
  3. bagus banget mbak,..meski aku bacanya loncat, dari awal langsung keakhir,..tapi bisa menebak maksud kegelisahan Ris,..
    dilema ya mbak,..:)

    BalasHapus
  4. wawawa aq kok ga iso bikin ngono kuwi *nanges guling2*

    BalasHapus
  5. disinilah enaknya jadi penulis ya Mbak, kita bisa bilang senja itu abu2, jingga, pucat, ceria, biru, kelabu atau apa saja ndak ada yang larang, hehe...

    Walau namanya Trio Bingung, karyanya oke punya ya Mbak...

    BalasHapus
  6. Wahhh... endingnya gak kebayang wkwk, ternyata ibunya juga nikah meneh tho...

    BalasHapus
  7. aku mau donk jadi malaikatnyaaaa..... sundul...

    BalasHapus
  8. This is a very good article .. Thank you .. have a great day!.! happy blogging ...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P