Diposting oleh Anazkia Aja | 10 komentar

Cemburu dan Mbojo

Kemarin, seperti biasa, seperti hari-hari ahad sebelumnya. Saya keluar rumah, mengejar bus, tertidur di dalam bus bahkan hampir kebablasan karena ketiduran. Ahad, adalah waktu di mana kadang saya keluar rumah untuk mengukur jalan. Kalau tidak meniki bus, ada kalanya saya menaiki kereta api. Begitulah rutinitas akhir-akhir ini. Mulai jenuh juga saat harus mengikuti kursus komputer, membuat tabel dari exel menghapal sedikit rumus. Adakalanya saya berpikir, itu nggak begitu penting buat saya. Saya, bisa dan tahu mengoperasikan word saja sudah cukup #pemikiran orang yang gak berkembang :D

Pulang dari kursus, seperti janji sebelumnya, saya mengajak salah seorang sahabat  untuk menuju suatu tempat di mana salah seorang teman facebook sedang meminta bantuan saya. Pergilah kita menuju tempat tersebut. Setelah menjalankan shalat ashar, kita menuju stasiun kereta api. Malangnya, sejak dulu saya bukanlah pengingat alamat yang kuat, tapi saya masih ingat di mana tempat yang akan dituju. Setelah bersitegang sebelum menaiki taksi dan prediksi kita akan kehujanan di tengah jalan, akhirnya kita sampai juga di tempat tujuan. Meski harus kembali berjalan kaki.


Karena kita belum makan siang dan sengaja mencari makan di area tersebut, singgahlah kita di sebuah kedai makan dengan menu utamanya adalah sate kambing. Sebaik saja duduk, mendung semakin menggantung dan pertanda akan segera mencurahkan isinya. Kita memesan satu porsi baso dan satu porsi sate kambing. Makannya barengan, alias tuker-tukeran *hemat eui :D 

Tak lama kita menyantap makanan, benar saja hujan sudah mencurah dengan lebatnya. Saya dan teman saya mencari tempat yang aman untuk terhindar dari percik air hujan. Selama menunggu hujan reda, sambil makan kita bercerita.

"Eh, Mbak, si X itu cemburu sama aku."

"Lho, cemburu? Emang kenapa?"

"Lah, dikiranya aku sama si D itu jadian. Aku ini dah ibu-ibu, Mbak, nggak ada jamannya kali mau deket-deket sama anak cowok." Lantas, mengalirlah cerita kronologisnya

Saya bengong... Aih, tuh si X ada-ada aja. Saya gak kenal akrab dengan si X, tapi hanya tahu sekilas-sekilas saja *artinya saya kenal dikit-dikit doank :D

Berlanjut ke pembicaraan lain. 

"Mbak, aku tuh sakit hati sama si N."

"Owh , yang dia cemburu ama dirimu?" Saya mulai lemot (padahal emang lemot

"Ih, bukan, Mbak." Kembali dia menceritakan identitas si N

"Owh, yang anaknya cantik itu." Tanya saya

"Ho'oh, jadi aku tuh minggu kemarin ditanya-tanya ama dia. Ditanya aku kerja di mana n tinggalnya di mana. Terus aku cerita, kalau aku kerja di sini dan tinggalnya di sana."

Saya ngangguk-ngangguk aja mendengar sahabat saya bercerita

"Pas dah aku jawab semua, eh dia malah ngomong gini, Mbak. Berarti Mbak mbojo sama orang sini, yah? Aku yah sakit hati, Mbak." Kata sahabat saya lagi...

"Owh, jadi kalau tinggalnya gak sama dengan tempat kerja dikira sudah menikah sama orang sini, yah?" Tanya saya polos. I think the kamsud is mbojo adalah menikah dengan orang sini a.k.a menikah dengan orang Malaysia dan memang itulah yang terekam dalam benak saya. Tapi mendengar kalimat selanjutnya oleh sahabat saya, saya mlompong kiong...

"Bukan, Mbak. Maksudnya mbojo itu menjadi perempuan simpenan atau kumpul kebo." Katanya, mbojo itu bahasa halus dari kumpul kebo, dari bahasa jawa timuran.

Astaghfirullah... Saya bengong, nepuk jidat, nepuk sendal dan nepuk lapi, sambil ngunyah sate lagi. Lha, sempit banget sih, yah, pemikiran orang? Lebih bengong lagi adalah mengingat umur sang penanya, yang masih belum  menjangkau dua puluh tahun dan baru beberapa bulan tinggal di Malaysia :( hiks... Sesempit itukah pemikirannya? 

Hmmm.. sebagai pekerja rumah tangga, ada banyak keterbatasan yang saya miliki termasuklah keterbatasan dalam pergaulan. Di satu sisi, itu kebaikan buat saya, tapi di sisi lain, ketika saya kudu eksplor untuk mengetahui dunia TKI kita ia menjadi kekurangan buat saya.

"Eh, kalau gitu kita wawancara dia aja, yuk?" Ajak saya.

"Lah, buat apa, Mbak?"

"Yah buat buat penyelidikan nuuu....Siapa tahu buat jadi bahan novel."

Jiyah, kumat deh...






10 komentar:

  1. Gyahahaha seru tuh mbak dibikin cerita... :)

    BalasHapus
  2. masih mencoba membayangkan. ada perempuan menjelang 20an dituduh mbojo, ada yang cemburu... mmm...

    BalasHapus
  3. Sama dong, saya paling seneng ngukur jalan pas di hari minggu.

    Kok saya baru denger istilah mbojo yg seperti itu ya? Apa kira2 di jember nggak ada? hehe..

    BalasHapus
  4. Lanjutkan Mbak, wawancara segera dan ditunggu Novelnya ;)

    BalasHapus
  5. mbojo...
    hahahhaaa
    kata kata itu mengingatkanku pada jaman masih kuliah dulu. istilah mbojo sering dipakai untuk mengganti kata 'pacaran'

    contoh kalimat:
    "Ojo mbojo ae!" (jangan pacaran melulu).
    heheheee

    komen gak penting banget ya

    BalasHapus
  6. Mbojo itu.... nikah ya maksudnya? :)

    BalasHapus
  7. hari gini cemburu,aduhh udah gak jamann kalee ya,ingetin saja c.X nya gak boleh cemburu.

    BalasHapus
  8. suiit suiiiiwwwwwww aada yang cemuru nich ..
    :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P