Diposting oleh Anazkia | 26 komentar

Tetanggaku Menjadi TKI

Tulisan ini dibuat ketika mengikuti event Festival Fiksi Kolaborasi (FFK) di kompasiana bulan maret lalu. Saat itu saya mengikuti dua kolaborasi. Membuat cerpen dan puisi. Kolaborasi puisi dengan Mbak Endah Raharjo, seorang penulis asal Semarang. Agak grogi juga ketika diajak kolaborasi dengan beliau. Al-maklumlah saya segan dengan beliau. Waktu membuatnya, saya berani-beranikan diri aja. Syukurnya, Mbak Endah partner yang baik dan memberikan semangat kepada saya. Duet saya dengan Mbak Endah saat itu namanya "Duet Maut EA" huehehehe... singakatan dari Endah Raharjo-Anaz. Nyaingi Erianto Anas huehehe :D.

Nah, kalau yang satunya saya trio bareng anak Semarang dan Surabaya. Namanya Trio Bingung. Eh, baru inget kalau saya ikut tiga kolaborasi, yang terakhir namanya Trio Gemblung joint bareng temen-temen multiply yang punya acount kompasiana. Kalau yang trio saya membuat cerpen. Trio Bingung judul cerpennya, "Bias Senja Abu-Abu" Kalau yang bareng Trio Gemblung, judulnya "Rahasia Emak" Uniknya, festival Fiksi Kolaborasi itu dibukukan oleh penyelenggara. Bukan untuk komersil, tapi untuk kenang-kenangan kami semuanya. Di kompasiana, awalnya saya konsisten menulis tentang dunia TKW dan apapun yang berhubungan dengan Malaysia, tapi sekarang sudah mulai melenceng :D

Ini puisinya...

E:
“Siwi anakku, gundahkah hatimu?”
Emak bertanya, kesekian kalinya.
“Tidak, Mak. Siwi baik-baik saja.”
Berbohong aku lantaran malu.
Tak ingin aku menyusahkan Emakku.

A:
Beberapa waktu lalu
Tetanggaku permisi
Meminta izin, hendak menjadi TKI
Aku diam memperhatikan
Tanpa bertanya
Karena enggan

E:
“Siwi, anakku, inginkah engkau pergi?”
Emak menatapku, kabut menggelayuti matanya.
“Tidak, Mak. Siwi di rumah saja.”
Muka merunduk, leher tertunduk.
Sembunyikan hasrat, agar tak terlihat.

A:
Tiga bulan berlalu
Aku termangu di depan tivi
Melihat berita, tentang penyiksaan TKI
Aku teringat tetanggaku
Yang pamit tiga bulan lalu

E:
“Siapakah gerangan dia, Siwi?”
Wajah Emak mendung,
Berita di TV membuatnya bingung
“Entahlah, Mak. Aku tak tahu.”
Hatiku cemas, mataku panas
Jiwa meratap, doa terucap

A:
Aku kerepotan sendiri
Bertanya sana sini
Tentang nasib tetangga yang menjadi TKI
Aku ke rumahnya menanyakan
Terlihat pemandangan yang memprihatinkan
Kursi dan meja berserakan
Rumah tak layak sebagai hunian

“Bu, bagaimana kabar anaknya yang menjadi TKI?”
Seorang ibu berwajah sayu
Sendu, tak menjawab tanyaku
Aku diam menunggu
Berharap, kutemu jawab tentang nasib anaknya
Anak yang umurnya tak jauh beda denganku

“Dia tak pernah memberi kabar”
Jawab sang ibu sekilas
Air matanya mengalir…

Sunyi…
Adakah yang di tivi, tetanggaku yang pamit tiga bulan lalu untuk menjadi TKI?


E:
“Siwi, anakku, datanglah kemari.”
Aku mendekat, duduk merapat.
“Masihkah engkau hendak berangkat?”
Aku terdiam, leher serasa tersumbat.
Emak tahu isi hatiku
Emak menangkap yang tak terucap
Emak mendengar bisik yang samar

“Siwi, anakku, tatap mataku.”
Lembut Emak, menyentuh daguku.
“Siwi, anakku, katakan pada Emakmu.”
Mataku basah, tangisku pecah.

Haru….
Tanpa kata, Emak tahu,
Aku tak lagi berniat pergi, tinggalkan Emak seorang diri.

Kolaborasi: Endah Raharjo dan Anaz (No: 154 “Duet Maut EA”)
Saksikan karya-karya FFK lainnya sebagaimana yang tertera pada link berikut ini

Tadi saya iseng aja posting puisi kolaborasi ini. Eh, pas berkunjung ke group FB Fiksiana, rupanya akan ada lagi event kolaborasi lagi. Ayo buat yang mau ikutan, gabung di group FBnya Fiksiana Comunity dan kudu ada acount di komapsiana juga, yah :)


Foto di atas bukan saya yang memegang buku, tapi itulah hasil FFK bulan Maret lalu

26 komentar:

  1. Mantapzzz....
    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  2. wah kolaburasi fiksi yang keren... itu jadinya bukunya yah?

    BalasHapus
  3. @Nuellubis, terimakasih. Yang bikin keren Mbak Endahnya :)

    @Arr rian, ada acount FB? Ada acount kompasiana? kalau ada gabung aja :)

    @Lozz Akbar, suwunnnnn *sungkem sama si Mbah halagh

    @Ejawantah's Blog, terimakasih

    @Saidalhady, Ho'oh jadi buku. Soale dibukukan semuanya :)

    BalasHapus
  4. waduh, punya sih akun kompasiana tapi dah lupa paswordnya hehee

    BalasHapus
  5. Puisi ini--dalam literatur yang saya pahami--termasuk ke salah satu bentuk puisi modern yang dikenal dengan Balada. Ya, sebuah puisi balada, puisi yang berisi cerita. Dalam sejarah sastra, puisi jenis ini sangat digandrungi Rendra (saat muda) seperti Balada Orang-orang tercinta, Balada Orang Rangkas Bitung, termasuk yang tidak menggunakan title balada, yaitu Blues untuk Bonny. Saya jadi ingat dalam puisi-puisi Rendra, menampilkan dua bentuk antarmuka. Satu bentuk tuturan cerita, satu bentuk lain dialog tokoh. Hal yang sama dilakukan dalam teknis penulisan puisi ini. Tapi, bukan masalah teknis penulisan, kia terbiasa pinjam-meminjam, tetapi tema yang diusung puisi iniadalah sesuatu yang sedang aktual. Satu tema masalah sosial. Ini adalah puisi bukan an.sich, tetapi puisi fur sich... Jempol deh...

    BalasHapus
  6. aku ada akun kompasiana tapi cuma berapa postingan aja itu juga pindahan dari blog asalku.

    BalasHapus
  7. hmmm, aku gak bisa bikin tulisan indah gitu... tulisanku pokoknya ngomongin yang ada di kepala doang. bravo mbak Anaz

    BalasHapus
  8. Hebat sudah dibukukan, sayang saya tidak pandai mengarang indah.

    BalasHapus
  9. Nama duet dan trionya lucu2 Mbak, hehe... Ntu puisinya nyentrik abizzss ;)Sucses ya Mbak...

    BalasHapus
  10. pendatang baru.salam kenal ya dan jangan lupa mampir balik.blog ku banyak menceritakan tentang belitung atau yang sering di sebut negri laskar pelangi

    BalasHapus
  11. Wah keren mbakkk... selamat tulisannya dibukukan~

    BalasHapus
  12. Puisinya keren mbak anaz :D.
    Semoga semakin keren.heheee

    BalasHapus
  13. ehem, sudah lama gak puisi puisinan, terlalu lama hidup dalam dunia nyata... :)

    BalasHapus
  14. Kalo mbak anaz yang pegang foto itu pasti tambah keren deh..

    BalasHapus
  15. Mbak, kemarin saya baru aja ninggalin komentar di Cengegesan Family. :)

    BalasHapus
  16. tetanggaku juga banyak yang jadi tki
    eh tetangga di kampung istri ding
    saking mendarah dagingnya sampe sampe pas citra lahir
    udah ada yang komen, bisa diekspor ke taiwan neh
    haha sialan...

    BalasHapus
  17. Puisi hasil kolaborasinya keren mbak.. ^_^

    BalasHapus
  18. Anaz kok bisa sih bikin puisi bagus.... fiksi bagus...

    iri deh

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P