Diposting oleh Anazkia | 38 komentar

Atas Nama Anak Bangsa

Kamis lalu, ketika saya akan melaksanakan shalat ashar, hape saya berdering terlihat di layar skrin hape nomor Indonesia dengan kode wilayah Jakarta. Ragu juga saat mengangkatnya. Ternyata, suara seorang perempuan yang saya sama sekali tidak mengenalinya. Perempuan tersebut mengenalkan dirinya kalau dari VOA RRI. Saya langsung teringat dengan tulisan yang saya kirim dua minggu lalu ke VOA RRI untuk dibacakan di bilik sastra setiap hari ahad jam dua siang.

Perempuan tersebut kembali menyambung kalimatnya. Ujarnya, tulisan saya minggu depan akan dibacakan di RRI, bukan minggu ini. Saya manggut-manggut saja mengiyakan. Dan kembali suara perempuan itu menambahkan, 


"Mbak, kalau bisa beberapa kalimat tolong diedit, yah. Ini atas permintaan atasan kami," Saya terkejut dengan klimat tersebut. Berpikir, kalimat mana yang kira-kira tidak etis. "Kalimat yang kasar, Mbak, seperti misalnya, di negeri sendiri kami justru ditipu. Itu mohon diperhalus lagi, Mbak. Soalnya yang mendengar siaran ini dari seluruh dunia, Mbak"

"Owh, ok, Mbak. Insya Allah nanti saya edit." Jawab saya ringan. Seingat saya, saya memang ada menulis kalimat seperti itu. Judul tulisan saya, "Wajah Sebuah Negeri" Menuliskan pengalaman tahun 2007 ketika baru pulang ke Indonesia di Malaysia. Saya tulis di akhir tahun 2008 dan kemarin atas permintaan Teh Pipiet Senja ketika bertemu di Malaysia saya mencoba mengirimnya ke RRI.

Dalam tulisan tersebut, saya membukanya dengan dua bait puisi, Wajah Sebuah Negeri


Inilah wajah sebuah negeri

Negeri kelahiranku, negeri tercinta

Negeri Indonesia



Yang tiap harinya ada kelaparan

Yang tiap harinya ada kemiskinan
Yang tiap harinya ada penganiayaan
Yang tiap harinya ada pembunuhan Bahkan,
Yang tiap harinya ada korupsi
Yang tiap harinya penipuan terjadi di seluruh pelosok negeri



Dari tukang kuli, sampai orang yang berdasi

Di manakah keberkahan sebuah negeri...???


Membaca kembali tulisannya, saya mencari beberapa kalimat yang harus dibetulkan. Akhirnya ketemu, tapi saya bingung mbenerinnya gimana?

Mobil terus berjalan menerobos kesesakan lalu lintas. Meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta yang mengoreskan sedikit luka di hati kecilku. Ah, kenapa setelah di Negeri sendiri aku justeru harus di tipu?. Kenapa di saat memasuki Negara sendiri aku harus mengeluarkan beribu-ribu. Duhai Allah, inilah wajah bangsaku…??? Di mana wajah dan gambaran sebuah negeri yang loh jinawi..??? di mana cerita nenek moyang kita yang sopan antun dan menghargai…??? Negeriku sudah berwarna-warni. Dicampuri tidak hanya oleh asap polutan dan kekotoran tapi di warnai juga oleh sifat dan kekotoran manusianya. Wahai Allah… adakah keberkahan di Negeri ini…???

Saya kok jadi inget tulisan hari rabu lalu yang dimuat di halaman kompasiana freez, paragraf terakhir

"Tinggal di Negara orang, tak lagi  membawa nama orang tua, tak juga mencantumkan nama desa tak pula nama kota asal saya, tapi saya membawa nama bangsa, bangsa Indonesia. Di sinilah saya berperan sebagai diplomat atas nama anak bangsa, bukan sebagai diplomat wakil Negara. Kalau salah laku saya, kalau tersilap tindak saya, maka bangsa sayalah yang terkena imbasnya."

Yang mendengarkan siaran radio nanti meungkin di berbagai belahan dunia, ketika mendengar sedikit cerita buruk tentang bangsa kita, maka rusaklah nama bangsa. Ah, mampukan saya menjadi duta atas nama anak bangsa? Ternyata, nasib nama bangsa bukan hanya berada di tangan para punggawa, tapi sebagian besar justru berada di tangan warganya.

Kalau ingin membaca tulisan "Wajah Sebuah Negeri" lengkapnya ada di sini, tulisan acak kadut beberapa tahun lalu. Owh ya, disiarinnya minggu depan, hari ahad jam 2 WIB di RRI atau jam 3 waktu Malaysia :) yang mau dengerin silakan #halagh

Hehehe, alhamdulilah dimuat di kompasiana freez sisipan kompas tiap kamis.



38 komentar:

  1. wah mbak anaz sih hebat tulisannya sering dimuat ya

    BalasHapus
  2. Hebat yah sering di muat tulisannya,ikut kompasiana juga yah?love,peace and gaul.

    BalasHapus
  3. manteb sekali Mbak, buah pemikiran yang menyuarakan kebenaran dan mewakili suara nurani rakyat yang sebenarnya. Semoga ini menjadi penyambuh lidah kebaikan untuk bangsa ini

    BalasHapus
  4. Jadi bingung juga, bahasa yang apa adanya buah dari pengalaman, jujur tapi mesti dipoles untuk nama baik....Nama baik selama ini berarti cuma dikulit kali yaaa??

    BalasHapus
  5. sempet lihat tulisan mbak anaz di kompasiana tapi saya lupa udah temenan belum ya hehe.. di share dong kiat dan tips supaya tulisan kita bisa di muat media.

    BalasHapus
  6. emang ngomong barang nyata ki kasar naz..?
    wah anaz mulai katit dadi penipu ki...

    BalasHapus
  7. saya tertarik sekali dengan postingan mbak kali ini... ada beberapa kalimat yang membuat saya tergelitik... nice post mbak....

    BalasHapus
  8. hebat,,tulisannya di terbitkan bahkan akan disiarkan,,
    yapp,,tinggal di negeri orang bukan lagi bawa nama keluarga kampung atau apa tapi bawa nama yg lebih besar yaitu bangsa,,
    terima kasih buat sharenya

    BalasHapus
  9. wah hebat banget mbak saya suka sekali dengan postingannya itu makasih ya udah share

    BalasHapus
  10. Selamat ya Anaz, kian eksis aja nih sebagai penulis. Terus berkarya ya :)

    BalasHapus
  11. Selamat ya Anaz, kian eksis aja nih sebagai penulis. Terus berkarya ya :)

    BalasHapus
  12. Waaaah, selalu iri kalo kesini. Saya kok ndak bisa yaaaaa bikin yg begituan hikz

    Selamat ya mbak Anaz. Tulisannya bisa dimuat dan akan dibacakan. Smoga bisa mendengarkan :)

    BalasHapus
  13. ya kita sebagai anak bangsa kit harus lebih baik dari hari-hari yang kemarin

    BalasHapus
  14. Keren Mbak, tulisannya masuk kompasiana freez, ajari aku dung...

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah, ikut senang dengan pencapaian ini. Semoga satu saat kelak, saya bisa mengikuti jejakmu, membuat tulisan yang bukan saja enak dibaca tapi juga kaya akan makna.

    BalasHapus
  16. keren banget :) trus cerita editingnya tadi gimana?

    BalasHapus
  17. wah masuk kompasiana. itu yang majalahnya yah?
    soalnya kan ada kompasiana yang model URL feed gitu.

    BalasHapus
  18. heem, bener mbak, kuncinya di warganya sendiri...
    keren lho mbak tulisane sampeyan..sipppp

    BalasHapus
  19. hebat banget tulisannya , memberikan inspirasi ,
    sukses trus ya :-)
    ditunggu postingan berikutnya

    BalasHapus
  20. good post , sangat bermanfaat dan memberikan inspirasi .
    ditunggu gan postingan selanjutnya .
    sukses trus ya

    BalasHapus
  21. Maaf mbak cuma numpang lewat nie..
    aku lagi ngecek backlink kook enggak ada,kemana??
    soale blog aku tak pindah ke http://blog.hoiron.info/ jadi semua ada disana termasuk link mbak
    monggo dicek

    BalasHapus
  22. Mbak, baca judulnya bikin hati bergetar
    "atas nama anak bangsa"
    melihat keadaan yang begitu miris
    terkadang kita harus pandai2 membawa diri ya mbak
    soalnya membawa nama bangsa..
    Hmmm..
    Sukses terus ya Mbak Anaz..
    ini baru pertama kalinya aku komen disini kayaknya :D

    BalasHapus
  23. tulisane mantep abis.... bukan cuman banyolan seperti tulisan diriku hebad mantap

    BalasHapus
  24. Seperti juga anak kampung itu merupakan duta bagi kampungnya, maka setiap anak bangsa adalah duta bagi bangsanya

    BalasHapus
  25. waahh, keren ah.. tulisan dhe belum pernah masuk koran mbak, jadi pengen segera mengikuti jejaknya mbak anaz ini.. sukses yaa mbak :)

    BalasHapus
  26. mbak anaz hebat...
    salam kenal mbak :)

    BalasHapus
  27. keren neh..cocok nerbitin buku..
    baru nyadar blognya sekarang pake domain dot com :p

    BalasHapus
  28. Mbak udah ketemu sama Pipiet Senja..
    woaaahh..saya malah baru ketemu sama buku-bukunya ;D

    BalasHapus
  29. hebat euy .. tulisannya makin menggigit aja *emang ada giginya apa :D*

    teruskan langkahmu dek!

    BalasHapus
  30. Saleum,
    wah tulisanmu hebat sob,.... ah mudah2an suatu saat nanti tulisan saya pula menyusul, hahahaha ( mimpi kali...)

    saleum dmilano

    BalasHapus
  31. Tinggal di negeri orang, mau tak mau harus bisa mandiri dan harus mengerti budaya negara sana. :)

    BalasHapus
  32. emang sih pas di negara sendiri kita semaunya...
    namun kadang di negara orang kita jg semaunya...
    :P
    harusnya sikap dan perilaku yg baik di tanam dimulai dari keluarga....
    keluarga adalah unsur negara dan bangsa....
    :)

    BalasHapus
  33. Jadi bagaimana siarannya mbak? Lancar kan?
    Hebat euy... makin banyak hal hebat yg telah mbak lakukan. Salut banget aku.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P