Menyusun Kembali Serpihan yang Berserak

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun pada setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta yang tak terbantahkan. 
Ahad, 31 januari 2000

Alhamdulilah, akhirnya aku sampai di Jawa Tengah, bahkan sampai di kota Semarang, meskipun dengan susah payah. Aku tersesat, tidak turun di mana seharusnya aku turun, tapi Alhamdulilah, aku bertemu dengan orang-orang yang baik, masih ingat, bagaimana antusiasnya seorang sopir angkot mencarikanku mobil mana yang haru aku naiki, juga saat sopir itu merogoh kantongnya memberikan berapa aku harus membayar ongkosnya dan mengulurkan uang tersebut kepadaku. Aku menolak dengan halus, tak lupa kuucap terimakasih dengan takzim. Ah, Allah selalu menolongku...

Ahad, 30 september 2001

Hari ini, tanggal 30 september, saat aku sedang menyapu, entah angin dari mana, tiba-tiba aku merenung sendiri. Aku terpikir, bagaimana caranya supaya aku harus rajin belajar, biar pinter dan dapat nilai bagus. Pulang ke kampung halaman, membawa buku-buku yang aku punya, aku ingin memiliki perpustakaan kecil-kecilan yang lengkap dengan berbagai buku.

Jum'at, 5 oktober 2001

Pahitnya hidup untuk sekarang ini aku jalani (meskipun nggak pahit-pahit amat) Tekadku, minimal aku lulus SMU. Aku harus menunjukkan kemampuan pada diriku sendiri (Nggak harus sama dunia, soalnya kalau aku mampu dan bisa yang banggakan aku sendiri, bukan dunia)

Sabtu, 6 oktober 2001

Entah kenapa, sampai hari ini aku terkadang masih tak percaya kalau bapakku sudah tiada. Kadang aku selalu berpikir, masihkan aku bisa bertemu dengan bapak?

Senin, 9 september 2002

Ri, banyak sekali kejadian-kejadian selama ini, tapi sayang yah, aku nggak pernah menulisnya. Ya udah, Ri, Insya Allah mulai sekarang aku aktif deh, curhat sama kamu hehehe... Sekarang aku sudah kelas tiga. Beda lho, antara kelas dua dan kelas tiga. Aku ambil jurusan IPS, karena aku menganggap lebih mampu menjalaninya. Padahal, aku masuk kelas pilihan IPA lho.

Selasa, 24 september 2002

Aduh, Ri, sorry yah... Soalnya aku nggak nepatin janji? untuk mengisi hari-hari? Abis gimana, Ri, wong aku juga males. Terus kalau mau tidur langsung bablas aja... 

Hari itu, aku menulis begitu panjang...

Kamis, 17 April 2003

Hhhh... Sebellll... Ente rese! Belagu! SK! SP! SI! Pokoknya ente nyebelin...!!! (aku nggak tahu artinya yang huruf besar itu, sudah lupa)

10 Juni 2004

Aku mulai ini dengan harapan, aku berjalan dengan impian, aku melangkah dengan sejuta cemas. Sulit, sangat sulit menemui kenyataan. Yang kutemui kemalasanku, yang kusua kerapuhan jiwa, yang kutemukan hanya kebodohanku. Bukan hal mudah merubah impian menjadi kenyataan, tapi aku harus selalu optimis.

28 september 2004

Di, aku ingin menulis berbagai impianku, nggak apa-apa kan? Allah SWT dan kamu saksi impianku, semoga berhasil! dan harus! Insya Allah. Agak terlambat memang, tapi tak apalah, dari pada tidak sama sekali.

Aku, Eli Yuliana saat ini usiaku 22 tahun, aku ingin mentargetkan beberapa impianku...
1. Naik haji
2. Ngaji yang bener
3...
4...
5. Jadi penulis
6....
7...
8. Ngebahagiain Mamaku
9. Pergi ke Jogja
10. Pergi ke Bandung
11. Pergi ke Bali (awal bulan 12 udah dibeliin tiket sama temen, tapi gagal ke Bali :D)
12. Beli komputer
...... dan seterusnya, sampai ke nomor 70. Punya banyak temen+sahabat, ramah sama orang. (yang titik-titik sengaja gak diitulis karena isinya terlihat lebay.

2 Agustus 2004

Apapun, semua yang terjadi dalam hidupku semuanya mengejutkan. Subhanallah... Aku dateng ke nikahannya temen, di sana aku bertemu dengan teman-teman lainnya. Sorenya, aku ke Grogol, di rumah Tante leli ada arisan, aku sibuk membantu seperlunya. Malamnya, aku pulang ke PCI, dianterin sama Om Christ dan tante Leli. Ada kabar seru, sebuah tawaran kerja ke Malaysia.Aku pengen jadi TKI, tapi yang legal.

Beberapa hari belakangan ini, banyak surprise yang aku dapat. Aku pengen punya mukena, pengen dapet arisan, pengen ke Malaysia. Nggak tahunya, subhanallah, alhamdulilah... Semuanya terkabul. Kalau ke Malay sih, aku nggak tahu Masalahya, aku belum tahu persis prosedurnya apa emang bener-bener resmi apa enggak. (dulu, saya lupa kalau pernah menulis ini, saat membacanya kembali, justru ketika saya sudah berada di Malaysia. Sungguh saya tertawa terbahak-bahak dibuatnya)

4 Mei 2005

Mengasuh anak, pekerjaan yang amat sulit. Berat dan penuh tantangan. Misalnya, saat dia rewel butuh kesabaran khusus untuk menanganinnya. Sekarang, pekerjaanku selain pembokat aku beralih fungsi menjadi seorang pengasuh. . Awalnya sungguh sangat susah, tapi seiring berjalannya waktu, alhamdulilah aku bisa mengatasinya.

7 Januari 2006

Malaysia, i am coming...

6 januari 2006, aku tiba di Malaysia segala bayangan, angan, dan harapan tercapai. Sampai di situkah? Ternyata tidak. Sungguh peristiwa yang amat sangat memilukan menjadi TKW, tak pernah kubayangkan. Tapi, dengan niat tulus Insya Allah, aku bekerja hendak memperbaiki nasib. Meskipun pengorbanannya sangat besar, jauh dari orang-orang yang mengasihi dan aku kasihi...

2 januari 2011

Aku kembali melirik novel Edensornya Andrea Hirata, dan membaca satu demi satu kalimat yang ada pada lembar pertama, sebelum bab pertama... Sungguh, memang tak ada yang kebetulan dalam hidup...

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun pada setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta yang tak terbantahkan. 

Diinterprestasikan dari pemikiran agung
Harun Yahya (Edensor, Andrea Hirata)
31 Desember 2011

 Iseng saya melirik  jumlah postingan yang terpublish di blogspot, ah mengalami penurunan drastis. Selama setahun ini aku hanya posting sebanyak 85 tulisan. Kemudian saya beranjak ke dua blog lainnya, di kompasiana 105 tulisan sementara multiply, saya yakin ia lebih banyak, mungkin sekitar 200an atau malah lebih ditambah dengan quick notes. Buku harian, apa saya masih menyentuhnya? Masih, sesekali ketika saya harus menulis yang terlalu pribadi, tak segan saya menggoreskan tinta di atas lembar kertas biasa. 

Tulisan di atas saya copas dari jurnal multiply (kecuali yang tanggal 31 desember 2011) yang terpublish tepat tanggal 1 januari 2011 dengan judul "Serpihan Yang Berserak" Tapi ia hanya bisa dilihat oleh teman-teman kontak saya saja.

23 komentar:

  1. pengen tahu impian yang titik2..ahahahahha...

    BalasHapus
  2. @Arrian, punya uang banyak buehehehe terus kuliah

    Nggak nanya juga urutan 13-70? :P

    BalasHapus
  3. InsyaAllah Mbak Anaz, kalo mau kuliah sekarang banyak beasiswa. jadi nggak perlu banyak uang.
    Siapa yang berusaha dia pasti bisa,
    Saya sudah mencobanya dengan usaha dan doa.

    semangat mbak..
    semoga terwujud,

    BalasHapus
  4. Mas Rian, sekarang otak saya dah gak disetting untuk kuliah lagi. Semangatnya udah gak ada. Payah banget, kan? hiks...

    Aminnn, makasih atas doanya :)

    BalasHapus
  5. Wah masih inget....

    Tahun baru, tampilan blog baru ya mbak...?

    BalasHapus
  6. Huaaaa....

    Ada Jeng Sriiii
    Ealahhh, Anaz kok teriak2 muluk, sih? :D

    @Kak Rin, bukan inget itu kan nyontek diari hehehe.. Nggak sengaja ganti template tadi malem :)

    BalasHapus
  7. dikumpulkan lalu diikat mbak, hehehe supaya tidak berserakan

    BalasHapus
  8. Wah ternyata kisah mu penuh dgn liku2.Salut buat km krn tabah dlm menghadapi sgala coba'an

    BalasHapus
  9. Ana msh muda, msh banyak kesempatan untk kuliah, asalkan benar2 niat insyaAllah bisa. Sy aja msh ingin kuliah, tp pertumbangannya sangt banyk, anak2 lebih sy utamain. Semangat An...jngn terlalu lama menunda mumpung msh ada kesempatan. Tntng kuliah gratis/beasiswa hrs selektif memilihnya, krn biasanya ada "maunya"

    BalasHapus
  10. :)
    aku bersyukur bisa bertemu Elli Yuliana ...

    BalasHapus
  11. Permisi... Saya mau kenalan dengan Mbak Eli Yuliana dong...
    Hehe...
    Serpihanmu telah terkumpul, sementara serpihanku entah berada dimana kini :D

    BalasHapus
  12. Saya termasuk yang semakin jarang ngepost hehee... yah kadang suka gak kuat nahan kantukkk klo udah di rumah, jd gaa sempat lg updated.... :(

    Like to read it...
    Begitu banyak warna dan pengalaman hidup..... :)

    BalasHapus
  13. Wah seru banget bacanya Mbak..sebuah perjalanan yang mengasikkan,,ntar aku copas kata² dari Edensor, Andrea Hirata, aku taruh di FB ya Mbak..

    BalasHapus
  14. ya ceritanya seru dan pengalama yang begitu seruy dan banyak pengalamannya ya mba

    BalasHapus
  15. Mbak Ana, perjalanan panjang itu telah membuahkan hasil yg luar biasa. Aku salut dg segala karya mbak di dunia maya ini. Menurutku, semua sangat luar biasa. :)

    Salam kangen mbak....

    BalasHapus
  16. ceritanya dirangkum ya dalm setahun kemarin,hehehh

    BalasHapus
  17. perjalanan yg luar biasa ya mbak..dan kini menghantarkan mbak Anaz ke sebuah dunia yg hebat..

    BalasHapus
  18. wah catatan mbak Anaz ada dimana2 ya... semoga nggak ada yg hilang mbak.. klo punyaku dah banyak yg hilang.. jd sedih jg,,

    BalasHapus
  19. wah,,diary nya,,,mantap,,,kalo saya punya diary itu disimpan rapat,,hehehe,,malu jika diketahui oleh orang lain,,,
    maksih buat sharenya..hehe

    BalasHapus
  20. wah mbak anaz tahun baru tampilan blog nya baru :))
    aku mau tau dong yg nomor 13-70 hehehe
    ceritain juga dong waktu mbak anaz di malaysia :)

    makasih udah share..

    BalasHapus
  21. Luar biasa Jeng, si diary masih tersimpan rapi. Punya ekye entah dah berhamburan kemana :-)

    Kapan neh kita reunian lagi di PCI? Hehehe emang pernah yah boo reunian di PCI???

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P