Kenangan Lama di Rumah Dunia


Tulisan di bawah ini, saya copas dari multiply, postingan tahun 2010 lalu. Lagi demen ngubek-ngubek postingan lama di empe. Soale tulisan di empe itu lebih banyak dari pada di sini hehehe... Jadi, kalau lagi nggak ada ide, yah kerjaannya gini, ngangkutin salah satu tulisan ke blog lainnya. Nah, kalau di empe lagi males, saya juga suka ngangkutin tulisan dari blogspot ke empe. Enaknya punya tulisan yang nggak sama, yah gini. Nanti, kalau dah males di blogspot sama empe, saya pindahin tulisan dari kompasiana buehehehe... Ini namanya jurus #males jangan ditiru :D kalau males semuanya? Yah saya posting tulisan dari diari lama #dikeplak sendal



Beberapa hari lalu, saya mengirim wall di facebook adik kelas. Menanyakan, jadi tidaknya pergi ke Baduy. Wallnya, bukan dibales oleh adik kelas saya. Tapi justru dikomentarin sama Wanja al Munawar, teman saya yang di Palembang dan kini menetap di Samarinda.

Wanja ALmunawar Naz,kmrn aku ktmu sama mas Gong loh di Samarinda. Dia bilang km kmrn mudik kenapa ga mampir ke RD?

Wednesday at 2:38pm

Membaca komentarnya, saya tersenyum. Senang, sekaligus tertanya-tanya sendiri. Sepertinya, ada miskom dengan Mas Gong. Ini mungkin akibat dari status-statusku beberapa waktu lalu yang sering menulis tentang keberangkatan ke Baduy. Mas Gong, menyangka saya sudah kembali ke Indonesia. Dan kembali pulang ke Malaysia, tanpa singgah di Rumah Dunia...

Ah, Mas Gong. Pria dengan sejuta cerita yang selalu mengobarkan mimpi untuk selalu menjadi nyata. Mengingat segala kenangan dengannya sungguh saya merasa bersyukur dengan apa yang Allah anugerahkan. Saya, sering ditemukan dengan orang-orang yang hebat. 

Mengingat pertama kali saya mengenali Mas Gong, adalah dari sebuah majalah Annida. Di sanalah, awal mula saya mengenali tulisan-tulisan Mas Gong. Saya tinggal di Cilegon, dan saat mengetahui Mas Gong adalah orang Serang, saya amat sangat terobsesi ingin bertemu dengannya.

Hingga pada suatu waktu, tatkala saya masih duduk di bangku kelas satu di MAN 2 Serang OSIS mengadakan "Diklat Teater dan Sastra" pembicaranya adalah Mas Gong. Tanpa berpikir panjang, saya mengikutinya. Bayarnya, Rp.5000 menginap satu malam, sabtu malam sampai ahad sore. Saya lupa bagaimana meminta izin kepada majikan saya waktu itu. Tapi, sabtu sore tersebut, akhirnya saya bisa bertemu Mas Gong.

Mas Gong mengisi materi pertama tentang kepenulisan. Dan saya, ah... Kalau cerita kok jadi lucu ya...??? Tapi, inilah yang saya rasakan saat itu. Entah kenapa, saya begitu gembira, senang dan entahlah... perasaan itu tak dapat tergambarkan. Saya jadi maklum, kenapa ada yang sampai pingsan ketika ketemu artis idolanya. Tapi, alhamdulilah banget kok yah nggak pake pingsan.

Saya betul-betul terkesima melihat Mas Gong. berulang-ulang saya meyakinkan kepada Kakak kelas, bahwa pria berbaju kemeja warna putih tanpa lengan kiri itu adalah Mas Gong. kakak kelasku mengangguk yakin. Maka bukan saja gembira yang kurasakan saat itu, tapi juga kagum. Kagum dengan kekurangan yang dimiliki Mas Gong. Lagi-lagi, sangat sulit ketika harus menggambarkan perasaan saya ketika itu.

Diskusi berjalan lancar, sesi tanya jawab, saya betul-betul pengen ngobrol langsung dengan Mas Gong. Biar Mas Gong ngelihat saya, biar Mas Gong denger suara saya. Dan entah menggunakan metode apa, tiba-tiba Mas Gong menunjuk saya untuk memilih penanya selanjutnya. Ya Allah... Buncah gembira betul-betul saya rasakan. Deg-degan, saya melihat sekeliling dan langsung menunjuk salah seorang lelaki yang duduk di pintu samping masjid. Hilal namanya, anak kelas satu 7.

Setelah pertanyaan Hilal dijawab, lantas Mas Gong kembali menunjuk Hilal untuk mencari siapa penanya selanjutnya. Karena merasa terhutang budi (bener gak yah hehehe) Hilal kembali menunjuk saya sebagai penanya selanjutnya. Saya masih inget sampai sekarang pertanyaan yang saya lontarkan.

"Mas Gong, apa sih sastra Islam itu?" tentunya, dengan perasaan deg-degan 

That's right, pertanyaan ini rupanya lumayan berat. Mas Gong bilang, sampai saat ini masih ada polemik untuk menterjemahkan kalimat "sastra Islam" itu sendiri. Selanjutnya saya lupa, tapi yang saya ingat, kata Mas Gong kita nggak usah terlalu memikirkan tentang pengertian-pengertiannya yang penting adalah berkarya. Dan Mas Gong, katanya lebih suka menyebut "sastra religi" berbanding "sastra Islami"

Abis nanya, pokoknya saya seneng, dah bisa ngobrol langsung sama Mas Gong. Dan di saat sesi akhir, Mas Gong memberikan novel terbarunya kepada beberapa penanya. Ada 3 orang terpilih. Dan saya, saya terpilih mendapat salah satu novel terbarunya (Pada-Mu Aku Bersimpuh, yang pernah disinetronkan di RCTI) waaa.... berkali-kali lipat senangnya...


Temen-temen sekelas banyak yang iri... yang minjem novelnya udah antri, padahal yang punya juga belum baca. Itulah pertama kali saya bertemu dengan Mas Gong. Rupanya, tak sampai di situ, masih ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Suatu waktu, saya menghadiri seminar yang diadakan oleh toko buku Hikari. Pembicaranya, Mas Gong, Mbak Asma Nadia dan Biru laut. Diskusi seperti biasa...

Dan, ndilalah pas akhir acara, ada temannya teman saya yang kebetulan wartawan di Fajar Banten hendak mewawancari pembicara. Entah gimana ceritanya, katanya janjian di Rumah Dunia rumahnya Mas Gong. Denger mau ke sana, saya langsung ngikut bareng temen. Yang wartawan itu naik motor. Mbak Asma di mobil penyelenggara. Saya, sama temen saya disuruh ngikut mobilnya Mas Gong. Seneng... Lagi-lagi...?? ah.. rezeki... Mas Gong nyetir sendiri, di sebelahnya ada Mas Biru Laut sementara di tengah ada dua orang dosen UNTIRTA (Universitas Tirtayasa) saya duduk paling belakang sama temen.

Kalau janji pada awalnya adalah ke rumah Mas Gong, ternyata kita malah diajak ke sebuah restoran di jalan perbatasan menuju pandeglang. Gubraks... sementara yang wartawan tadi menuju rumahnya Mas Gong. Lagi-lagi... Tanpa direncana saya malah ada kesempatan makan bareng sama Mas Gong, Mbak Asma, Mas Biru laut dan penyelenggara... Rezeki. lagi-lagi memang tidak ke mana... Alhamdulilah

Dari situlah pertemuan-pertemuan selanjutnya berterusan. Ketika mengikuti Diklat jurnalistik di STAIN dan sampai akhirnya membawaku ke Rumah Dunia seperti yang diceritakan pada tulisanIbnu Adam Aveceina.

Dan kemarin, saat aku mengirim wall di facebooknya Mas Gong, Mas Gong hanya membalas
Gol A Gong Anaz, ditunggu kepulangannya ya. nuhun

15 hours ago ·


Ah, jadi malu. Saya jadi ingat saya dulu memang pernah belajar di Rumah Dunia, aktif di sana tapi, tak sekalipun saya pernah menulis. Mas Gong tahu akan hal itu. Semenjak bertemu kembali di facebook dan Mas Gong melihat saya menulis di blog, Mas Gong dan Mbak Tias gembira melihat itu semua. Dan Mbak Tiaslah yang kerap kali menyuruh saya mengirimkan tulisan ke berbagai media. Sayangnya, saya tetaplah saya yang tak berani sekalipun mengirim tulisan ke media.

Menulis itu, rupanya bukan sejauh mana kita belajar, tapi sejauh mana kita berani menulis. Rumah Dunia, di sana saya mengenal dunia kata, di sana saya belajar mengeja kata. Rumahku Rumah Dunia, Kubangun Dengan Kata-Kata.

kenangan beberapa tahun lalu... Melihat mas gong dengan kekurangannya tapi beliau mampu menerbitkan 70 buku bahkan sekarang lebih saluuuuttt!!!


Setelah ngubek-ngubek diari, rupanya saya pertama kali bertemu Mas Gong pada sabtu 27 januari 2001

16 komentar:

  1. Pengen banget kenal sama Mas Gong. Nitip salam ya Mbak :)

    BalasHapus
  2. Aku juga pernah ke Rumah Dunia loh, bareng-bareng Komunitas Blogger Benteng Cisadane.

    Silakan digoogling "Dari Rumah Dunia ke Banten Lama deh"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owalah, pernah ke sana juga tho, Kang. Seeppp, wusun, nanti Anaz googling

      Hapus
  3. Lebih dari 70 buku? Subhanallah!

    27 Januari 2001, ini berarti sudah sebelas tahun yang lalu, ya Mbak. Saat itu saya masihlah seperti katak dalam tempurung.

    Oh ya, empe apa kabar ya? Ah, rupanya saya masih harus banyak belajar untuk membuka blog lebih dari satu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, 11 tahun yang lalu, betapa cepatnya waktu berlalu.

      Empe masih baik2 saja, Pak :) jiyah, Bapak mah dah kebanyakan blog, tuh :)

      Hapus
  4. Aih mbak,aku merasakan rasa senengnya sampean kok bisa bertemu dengan mas gong.aku mah cuma bisa baca karya-karyanya ajah.

    BalasHapus
  5. Rumah Dunia? Aku belum pernah sekalipun kesana Mbak. insya Allah bulan depan aku dkk berencana kesana. Doain Mbak, semoga gak ada aral melintang. Semoga dimudahkan Allah. Amin.

    BalasHapus
  6. ooo Rumah Dunia itu sebuah komunitas ya

    BalasHapus
  7. Aku pernah mampir RD tapi waktu itu gak ketemu mas Gong :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ealahhh, Mbak Eka dah ke sana juga tho? :)

      Hapus
  8. pokoknya nanti klo mudik, dan mau ke RD, ajak2 ya Naz

    BalasHapus
  9. Postingan tahun 2015-nya mana nih? sepertinya sudah jarang di update lagi ya blog ini..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P