Akhirnya, Saya Mendapatkannya

Dalam keseharian kita, tentunya ada yang sering kita perhatikan dan ia menarik perhatian kita. Ya iyalah, udah menarik yah diperhatikan. Gimana, sih, bahasamu, Naz? #nyengirrrr... Nah, kalau saya, suka memperhatikan pohon kering yang meranggas tanpa daun. Kenapa? Entahlah, tak ada jawaban pasti kenapa saya menyukainya. Tak hanya suka, tiap kali melihatnya, saya kerap ingin mengabadikannya dalam kamera. Tapi, niat itu jarang sekali terlaksana. Ada pohon yang sudah sangat tua, daunnya sudah habis serta kering rantainya. Sangat terlihat indah menurut saya. Sayangnya, ia berada di tepi jalan besar. Kalau melewatinya, saya sering bergumam sendiri kalau pohon itu bagus.

Celetukan saya membuat anak majikan (Nani) selalu berkerut kening dan kerap berujar, "Kak Eli ni peliklah" Ah, saya sebodo amat, lah wong emang suka hehehe... Sayangnya, saya tak berhasil mengabadikan pohon tersebut. Ketika melewatinya dan saat kamera sudah ada di tangan (kamera digital minjem punya Nani) ternyata oh ternyata, pohon itu sudah tidak ada #duh :(


Nah, selain pohon tersebut, masih banyak pohon-pohon incaran lainnya. Pohon kering yang ada di taman dekat dengan rumah Shah Alam (tapi sampai sekarang belum memotretnya) Lantas, pohon kering tanpa daun yang ada di dekat rumah Ibu di Gombak. Saya membayangkan memotret pohon itu dalam remang senja, sepertinya bagus. Atau tidak, dalam keadaan cuaca yang cerah, langit biru dan sedikit awan #eh, ngayal hehehe...

Nah, week end kemarin saya di Gombak selama tiga hari. Pas hari senin sore, saat Mbak Samini hendak ke warung, saya mau ngikut aja. Saya bilang ke Mbak Samini, sekalian ke ujung jalan sana, saya mau motret.

"Kak Eli jadi ikut?"

"Iya, Mbak jadi. Eli pengen mhoto pohon yang ada di ujung jalan sana. Tapi malu bawa kameranya, Mbak."

"Lah, kenapa malu? Sini saya yang bawa." Mbak Samini menawarkan jasa. Saya mikir-mikir. Saya malu kalau mau nenteng-nenteng kamera, tapi nggak enak juga kalau kamera dibawakan Mbak Samini.

"Eh, nggak apa-apa, Mbak. Eli bawa tas aja, biar Eli yang bawa." urusan kamera selesai, saya membawa tas gendong, bukan tas emaknya kamera. Kita menuju warung. Selesai urusan dari warung, kembali berjalan agak jauh. Sampai di tempat, tepat di depan restoran saya mengeluarkan kamera. Mbak Samini sepertinya aneh melihat saya.

"Kak Eli mau ambil gambar ini?" Mulai terlihat bingung

"Iya," Jawab saya enteng, sambil mulai ngejepret. Etapi, coba lihat Mbak Samini, dia ketawa kel-kelan, sambil megangin perut.

"Apalah Kak Eli, kayak gini mau diphoto." Ahahahaha... saya juga ketawa ditambah nyengir tentu saja :D

Selesai dari situ, kita mulai jalan lagi. Niat saya, satu pohon lagi yang dekat dengan warung. Pohon ini juga lebih kelihatan unik, soale di bawah pohon ini ada warungnya. Saya kok ngeri kalau ngebayangin pohon ini tumbang :( selesai ngejepret pohon dekat warung, saya kembali melihat di tepi jalan raya besar, ada segerombolan ilalang. Akhirnya, kembali iseng jeprat-jepret ilalang, meskipun GAGAL! karena oh karena angin sore yang berhembus :D

Keluar dari gerombolan ilalang, kita kembali berjalan sambil mata saya jelalatan. Pas melihat lagi di ujung sana ada pohon tanpa daun juga.

"Eh, Mbak, ada lagi tuh pohon yang kering. Kita ke sana mau , nggak?"

"Ayo, ke sana!" 

Saya pikir Mbak Samini main-main, rupanya beneran mau. Akhire kita menuju TKP #halagh, opo, sih, Naz? :D. Makasih buat Mbak Samini yang udah nemenin nyari2 pohon kering hehehe, jadi inget dulu saya suka cari ranting kering untuk kayu bakar. Ah, terjawab sudah, selain mengingatkan masa lalu, meranggasnya pohon tanpa daun, ada kalanya seperti usia kita yang terlucuti sehari demi sehari kemudian menghabiskan jatah kita di dunia...




 Susah sekali mengambil bunga ilalang ini...

Ada senja dan mobil #halagh, bahasamu, Naz. ANCURR! :D :P

 "Itu ada satu pohon lagi, Mbak."
Dan inilah hasil pohon terakhir...

15 komentar:

  1. aku koq merinding ya mbak, sama foto yang paling bawah. kalimat keterangannya membuatku ngeri.
    "inilah hasil pohon terakhir"
    seolah-olah itu adalah satu satunya pohon terakhir di bumi ini
    aduh..aduh...
    wedi aku Mbak..
    serem mbayanginnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, ada Mbak Prit :)

      Soale foto itu jepretan pohon terakhir yang diincer sore itu, Mbak :)

      Hapus
  2. Foto terbaik memang foto nomor 1. Kita tidak akan bisa menampilkan detail sebuah foto pohon seperti itu. Makanya dengan menampilkannya secara siluet dia akan terlihat lebih indah dan menyimpan misteri. Kawat berduri dan lampu sebelah bawah sebaiknya di kroping sehingga tidak mengganggu keutuhan pohon.


    Foto ke 2 dan ke 3 terganggu oleh bentangan kabel yang mengganggu keindahan foto, begitu juga tiga buah lampu neon yang ada di foto kedua.

    Memotret bunga ilalang memang sulit, karena dia sangat sensitif terhadap hembusan angin. Kalau Eli ingin memotretnya lagi, coba ambil dalam posisi vertikal dengan fokus manual, kalau bisa ajak teman untuk memegang bagian bawah tangkai bunga, agar tak begitu sensitif terhadap tiupan angin.

    Foto ke 5, cukup diberi judul "Senja", fotonya sudah bagus, sayang tiang lampu yang ada disebelah kiri agak mengganggu, coba ananda kroping dan hilangkan tiang itu, maka fotonya akan semakin indah, karena penglihatan kita tidak lagi diganggu oleh adanya tiang lampu ini.

    Foto ke 6 tak usah dikomentari ya? hehehe

    Foto ke 7, berhasil memperlihatkan suasana senja yang temaram, mungkin akan lebih baik lagi kalau cahayanya di tambah 0,5 atau 1 f-stop lagi biar agak sedikit lebih terang, sehingga ranting kayunya lebih kelihatan.

    Tetaplah berkreasi..,

    Salam dari Jakarta
    Tetap jaga kesehatan ya ananda.
    DK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak, Bapak, atas kritik dan sarannya :)

      Hapus
  3. Naz? Arep dadi fotografer? :D
    wes apik og Naz, aku malah blom bisa sama sekali hehhe

    BalasHapus
  4. foto yang nomer 6 foto apaan sih? Hehe itu yg pke jilbab warna pink bukan foto model ya ko membelakangi kamera.

    Iya, kabel atau bangunan lain mengurangi keindahan foto khususnya foto yg punya tema alam, jadi kerasa kurang alami aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto nomor 6 Menunjukan pohon yang jauhhhh :P

      Ok, makasih masukannya :)

      Hapus
  5. Dengan segala kelebihan foto dan ketidak mengertianku akan fotografi aku suka foto no 7, tapi judulnya tak mauuu ach, sereeem...

    BalasHapus
  6. aku gak bisa berkomentar tentang foto, abisnya aku gak isok motret dengan hasil bagus. hehehehehe

    pokok'e mbak, aku suka sama nuansa-nuansa senja-senja gitu. dan menurutku bagus banget tuch. like this.

    BalasHapus
  7. kalau langitnya lebih terang, aku suka yang terakhir

    BalasHapus
  8. Aku justru paling suka dg foto bunga ilalang itu mbak... Suka banget, tapi gak bisa menjelaskan apa alasannya hehehe.

    BalasHapus
  9. awalnya gak jelas nih apaan pohon kering pake di fhoto segala,,gak saya sangka saat lihat hasilnya keren mbak....! hebat ikh,,bagus sekali,,saya mau jadi ikutan suka fhoto2 alam,,selain fhoto2 diri sendirim,hehe

    BalasHapus
  10. betul sekali mbak, kalo dipikir2 betul juga "usia kita yang terlucuti sehari demi sehari kemudian menghabiskan jatah kita di dunia"

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P