Diposting oleh Anazkia | 18 komentar

Surat Dari Bu Guru

Tarak, 6 Februari 2012
Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya berterima kasih sekali kepada Kak Anazkia yang sudah mau meluangkan waktunya untuk bertegur sapa dan membantu anak didik saya.

Saya ingin bercerita sedikit tentang SD Negeri Tarak,
Sekolah ini pada awalnya adalah sekolah kelas jauh dari SD YPK Karas, yang induknya berada di Kampung Tuberwasa yang bersebelahan dengan Kampung Tarak. Meskipun bersebelahan tetapi jarak yang ditempuh terhitung jauh. Apalagi setiap hari anak-anak sekolah dari Kampung Tarak yang menduduki kelas 4, 5, dan 6 harus ke kampung sebelah untuk sekolah dengan mendayung, meskipun dengan cuaca dan keadaan alam yang tidak mendukung.

Pada saat itu saya baru mengajar di sekolah induk Kampung Tuberwasa. Pada awal November 2005 dengan memiliki 4 guru yakni 2 di sekolah induk Tuberwasa dan 2 di sekolah jarak jauh Kampung Tarak. Setelah bertambah 2 guru lagi akhirnya saya dipindahkan ke Kampung Tarak untuk kelas jauh. Setelah itu karena kondisi murid untuk bersekolah terlalu sulit, akhirnya Pak Sergius D. Inur memutuskan untuk membuka sekolah ini menjadi SD Negeri. kemudian pengajuan pengusulan sekolah negeri diterima oleh pemerintah. Akhirnya pada tanggal 1 November 2007, berubah menjadi SD Negeri Tarak, dengan kepala sekolah pertama Pak Sergius D. Inur. Setelah menjabat selama 4 tahun, beliau pensiun pada bulan September 2011.

SD Negeri Tarak, meskipun dengan kesederhanaan dan keterbatasan ruang belajar, sudah meluluskan 2 gelombang murid ujian dan tahun ini merupakan tahun pelajaran ke-3 untuk SD Negeri Tarak melewati proses kelulusan setelah terlepas dari sekolah induk SD YPK Karas di Tuberwasa.

Dan ditahun ini, saya dibantu oleh seorang pengajar muda yang dikirim dari Indonesia Mengajar, Pak Arif namanya. Ia sudah membantu saya dalam menangani masalah-masalah yang terjadi dan sedang saya hadapi di sekolah setelah Bapak Kepala Sekolah pensiun. Kami berdua melewati segalanya dengan penuh semangat untuk mendidik dan membina anak-anak didik kami ke masa depan. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana, dan dengan jumlah murid 100 orang, dan 2 ruang belajar, kami rasa itu bukan penghalang untuk mencapai kemajuan.

Selama mengajar di SDN Tarak, banyak pengalaman suka dan duka yang saya hadapi. Tapi semua itu terus saya ambil hikmahnya. Saya mau cerita pengalaman saya buat Kak Anazkia, bahwa ada seorang anak didik saya namanya Syahril Amarey, kakak dari Ridwan Amarey, anaknya selalu berbuat onar di dalam kelas dan suka mengganggu teman sampai menangis. Kalau ditegur selalu cari alasan yang tepat untuk mengelak. Waktu itu ada temannya diganggu sampai menangis, pada saat dia saya pukul, karena nakal... dia menangis tetapi kepalanya dimasukkan ke dalam laci meja. Sampai selesai menangis, anaknya kembali tertawa sendiri, seakan-akan dia tidak merasakan kesedihannya tadi.

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan murid-murid yang sayang kepada gurunya. Murid SD Negeri Tarak meskipun nakal dan suka membuat gurunya marah, tetapi tidak pernah untuk dendam kepada guru dan temannya. Saya merasakan memiliki keluarga besar, saya merasa tidak sendirian lagi, karena murid saya selalu mengerti akan keadaan saya. Keluarga saya yang jauh di tanah Maluku, seakan tidak terpikirkan lagi karena keceriaan dan keluguan semua anak didik, meskipun saya marah atau memukuli mereka tetapi mereka selalu menyayangi saya...

Dalam hati kecil, saya selalu berharap kepada Sang Khalik, semoga kelak semua anak didik saya menjadi yang terbaik, menjadi manusia yang berbakti kepada Tuhannya, orang tua, guru, agama, dan di mata masyarakat. Dan semoga bisa membangun negeri ini ke depan.

Saya berterima kasih sekali, kepada Kak Anazkia berserta teman-teman yang sudah banyak memberikan dukungan dan semangatnya kepada anak didik saya. Dan ungkapan beribu terima kasih sudah mau membantu anak didik saya, untuk memberikan buku-buku, beasiswa, dan berbagai dukungan lainnya sebagai pendorong semangat belajar mereka.

Saya tidak tahu harus berkata apa...selain ucapan terima kasih atas semua bantuannya....

Salam kenal saya buat Kak Anazkia beserta teman-teman.

Wassalam
Ibu guru Suhemi

 Ibu Guru Suhemi

18 komentar:

  1. Amin, semoga doa ibu guru bisa terkabul. kesekolah harus mendayung dulu ya

    BalasHapus
  2. Bu Suhemi apa Suhaimi mbak? yang mana ni yang benerr? tapi boleh saya tahu, kenapa harus memukul anak-anak? Apa nakalnya kelewat nakal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bu Suhemi. Bukannya di situ sudah diceritakan, kalau anaknya memang nakal? Saya rasa, bukan kerja mudah ketika seorang guru (hanya seorang guru) pada sebuah sekolah memarahi muridnya yang nakal. Lah wong satu sekolah hanya ada SATU GURU

      Hapus
  3. tadi udah baca di hape, tapi kagak bisa koment. hehehe

    eh pas nyolokin modem, liat blog di kompi lah kok ada yg berubah iki.

    hehehe, sepertinya ada yg utek-utek blog lagi ya.

    BalasHapus
  4. wahh waktu saya ke Tarak tidak sempat berjumpa Ibu Guru Suhemi ya. Semoga lain kali ada kesempatan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn, sekalian saya ikut yah, pak hehehe

      Hapus
  5. pasti penuh perjuangan ya,salut deh buat para guru yang mau ngajar di tempat terpencil,dan salut juga buat semangat anak-anak yang ingin terus belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, salut buat mereka semuanya. Luar biasa!

      Hapus
  6. Bu Guru mulia sungguh hatimu :)
    semoga betah dan awet ya mengajar di situ.

    BalasHapus
  7. Teruslah berjuang...
    Bangsa ini butuh pejuang-pejuang tangguh seperti bu guru dan mbak Anaz

    Salam perjuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Mbak Diyah. Kalau orang kayak Anaz mah gak dibutuhin hehehe

      Hapus
  8. tidak mudah sebenarnya utk bsa mengajar khususnya anak2, butuh kesabaran, ketelatenan bahkan pendekatan yg lebih guna bsa meminimalisir lahirnya anak2 yg rrspek trhdp gurunya sendiri. Mudah2 suhaimi bsa melakukan semuanya. Dan dari anak2 tsb papua bsa terus menjadi bagian dari NKRI. Semangat ya mbaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, betul sekali, Mas Yayack, apalagi dalam jumlah yang banyak. Kemudian ditambah dengan banyaknya murid serta ketiadaan guru. Masya Allah... Sungguh tak bisa membayangkan :(

      Amin Allahumma Amin :)

      Hapus
  9. Suhemi itu kayak nama guru bahasa inggris SMPku dulu

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P