Jamasan di Keraton Surakarta




Mengunjungi Keraton Surakarta akhir tahun 2010 lalu, sungguh tak disengaja buat saya. Ia tak ada dalam agenda saat itu. Setelah kepergian saya ke Jogja selama hampir satu minggu, kemudian saya akan melanjutkan ke Semarang, tanpa diduga saya justru menambah rute dengan berkunjung ke Sragen. Karena sudah terlanjur ada di Sragen, saya singgah sebentar di Solo, tepatnya di keraton Surakarta. Di mana ketika saya mengunjungi tempat tersebut, sedang dilakukan ritual jamasan.

Jamasan adalah upacara ritual untuk membersihkan benda-benda pusaka, seperti keris, tombak, dn sebagainya. Ritual jamasan jimat dilakukan setiap tahun pada bulan Sura. Sampai saat ini, ritual jamasan jimat masih dilaksanakan di desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas. Sumber wikipedia. Saya baru mengetahui ritualjamasan ini ketika berkunjung ke Keraton Surakarta akhir tahun lalu. Setelah dari Jogja, saya singgah ke Sragen menginap di sana. Setelah dari Sragen, saya menuju Semarang dan singgah ke keraton Surakarta.

Diantar oleh adik sahabat, untuk pertama kalinya saya menjejakan kaki di keraton Surakarta. Berangkat dari Sragen sekitar jam sembilan pagi, sampai di Keraton Surakarta dalam pukul sebelas siang. Memasuki gerbang kraton yang entah di sebelah mana suasana sangat lengang. Setelah membayar tiket saya memasuki salah satu pintu gerbang yang tertutup. Ada seorang penjaga perempuan duduk tak jauh dari pintu, memeriksa apakah kami memiliki tiket atau tidak. 

Tak jauh dari situ, terlihat beberapa orang tengah bergerombol, duduk mengitari sebuah tempat tepat di tengah-tengah sebuah bangunan. Saat saya bertanya dengan penjaga pintu, katanya sedang ada ritualjamasan. Menarik buat saya yang tak pernah menyaksikan ritual tersebut. Setelah mengambil gambar di sekitar bangunan, saya mendekat di mana beberapa orang tersebut berkumpul. Sebagian dari mereka ada yang memakai seragam. Iseng, saya mengambil beberapa foto. Nampak di depan rupa-rupa sesajen disajikan, asap kemenyan menguap memenuhi persekitaran. 

Saya melihat lebih dekat. Ketika ramai-ramai beberapa orang mengarahkan kamera dan mengerubuti seorang lelaki berbusana adat resmi saya pun ikut merengsek maju ke depan. Kalau saya perhatikan, sebagian besar dari mereka adalah para wartawan. Banyak persolan-persoalan dilontarkan oleh para awak media. Tentang tujuan diadakannya upacara adat jamasan tersebut. Pasca erupsi Merapi, dikait-kaitkan dengan ritual ini. Dengan bersahaja pertanyaan wartawan dijawab oleh orang tersebut.

Setelah berhasil mengambil gambarnya, barulah saya mundur ke belakang. Ada dua orang perempuan yang berdiri di belakang dengan memegang sebilah keris di tangan. Saya mendekatinya bertanya siapa gerangan tadi yang banyak diburu para wartawan. Rupanya, beliau adalah Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Puger seorang penganggem musium dan pariwisata. Setelah mendapat kejelasan dari dua orang gadis yang ternyata ditugaskan sebagai dokumenter saya kembali ke tempat tersebut. Memotret beberapa sesaji yang tersedia, kemudian saya dan adik teman saya meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke kompleks lor *nggak tahu mana lor kidul :D. 
Saiyah kok syerem lihat ini, yaks? 

Di kompleks ini saya memasuki museum kuno. Di sini banyak tersimpan barang-barang peninggalan lama. Ada yang masih terawat dengan baik, ada juga yang sudah terbiar tak terpelihara. 


Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Puger

Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-45, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa. (wikipedia)

Terlepas dari pemahaman tentang jamasan yang saya lihat buat saya yang masih dangkal ilmu agama menganggap bahwa apa yang saya temui dalam kehidupan saya bukanlah sebuah pemahaman baru yang harus saya yakini, tapi sebuah pengalaman baru yang bisa dijadikan pelajaran buat saya dan dijadikan pengajaran untuk dipelajari. Wallahua'lam.










Tulisan ini saya reposting  semula untuk diikutkan giveway Pertama di Kisahku bersama Kakakakin


7 komentar:

  1. Ibu juri datang... :D
    Ehm, diriku merasa serem juga melihat sesajen itu... :(
    Rasanya waktu ke solo, aku juga ke keraton. Tapi kok beda dengan yang ini ya? Mungkin aku mengunjungi keraton yang lain :)

    BalasHapus
  2. Aku malah belum pernah berkunjung ke Keraton Surakarta mbak, malah keraton Yogyakarta sudah hehehe.
    Asyik ya pas datang ada acara jamasan, dan bisa menyaksikan secara langsung. :)

    Selamat ngontes mbak.. semoga menang :)

    BalasHapus
  3. Foto2nya bagus mbak
    Infonya juga lengkap. Terima kasih ya udah ikut serta

    BalasHapus
  4. wah, berkunjung gan..
    jamasan ini ritualnya dilakukan kapan ya gan? ane selama di solo belum pernah liat..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P