Pelangi Rasa

"Ikut sedih, ya Nas. Kalo masa kabung udah kelar, kembali fokuskan lagi ke rencana2 baikmu." sepenggal pesan pendek yang saya dapatkan melalui fasilitas personal messege di multiply seminggu lalu ketika saya menulis jurnal, "Selamat Jalan, Mbok" pesan itu adalah serangkaian dari ucapan belasungkawa dari jurnal  tersebut, bedanya, Mbah Marto mengirimkannya melalui personal messege, bukan kolom komentar seperti yang lain. Akhir-akhir ini, saya sering sekali mendengar berita duka. Dari temennya Novi yang ibundanya meninggal, ayahnya Uni Dian yang tiba-tiba meninggal, ibundanya Mbak Sarah, juga si Mbok saya seminggu lalu dan terakhir adalah di jurnal Mbak Prit siang tadi.


Awal mendengar berita kepergian ayahnya uni Dian, saya terpikir. Memikirkan keadaan uni Dian yang sedang sarat mengandung. Tak bisa membayangkan apa reaksinya, lantas saya terkedu ketika membaca jurnalnya di sini  Tak lama setelah kabar ayah uni Dian meninggal, Mbak Sarah memuat jurnal yang ibunya dilarikan ke rumah sakit. Do'a dan harap dari teman-teman adalah semoga ibundanya mbak Sarah lekas sembuh.

Dan saya, diam-diam juga selalu up-date kabar si Mbok yang sedang terbaring lemah karena sakit tuanya. Saya selalu update beritanya dari kakak, di mana ibu saya sedang berada di kampung halaman. Si Mbok, adalah nenek dari pihak ibu, ketika saya kecil beliaulah yang merawat juga membesarkan saya bersama dengan sepupu-sepupu lainnya juga kakak saya. Banyak remah-remah cerita di masa kecil saya bersama si mbok di kampung halaman. Bahkan, kalau boleh saya bilang saya justru lebih banyak menghabiskan waktu bersama si mbok berbanding ibu saya. Maka, sakitnya kerap menjadi pikiran di kepala, tapi apakan daya ketika kaki ini jauh berada dari tempatnya. Hal kecil dan sederhana adalah mendoakannya.

Sampai akhirnya, minggu lalu kabar itu saya dengar. Si mbok, telah dipanggil oleh-Nya. Ah, Mbok, semoga ini yang terbaik. Semoga perginya si mbok adalah untuk istirahat dari masa lelah dan sakit yang diderita selama ini. Sesiap-siapnya saya menerima kabar buruk tersebut, tetap saja kematian menimbulkan kesedihan. Yah, saya menangis meski berusaha sebisa mungkin menyembunyikan tangis. Malamnya, sepulang dari rumah ibu majikan ke rumah anaknya saya masih menyembunyikan isak tangis. Dan ketika kami sudah hampir dekat dengan rumah, ada bias sinar lampu yang bertemu dengan sisa-sisa air mata, ia berubah warna menjadi pelangi sekilas. 

Dan kembali kepada pesan Mbah Marto di atas, "Kalo masa kabung udah kelar, kembali fokuskan lagi ke rencana2 baikmu" Menyadarkan dan mengingatkan saya, boleh sedih tapi jangan lama-lama, boleh berduka tapi jangan sampai membuat terpenjara. Dan saya berharap kepada-Nya semoga  hidup kita sebagai penambah kebaikan, dan matinya kita kelak sebagai istirahat dari segala kejahatan. Amin...

Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar ibunda mbak Sarah meninggal. Lagi, doa dan takziyah teriring. Pun saat Mbak Prit mengabarkan kepergian sahabatnya, semoga kebaikan selalu menyertai jalannya menuju yang diridhoi-Nya. Amin...

"Sesungguhnya, tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) Dan hanya kepada Kamilah  kamu dikembalikan. QS, 21: 35.

Terimakasih atas ucapan belasungkawanya dari teman-teman semua. Baik melalui multiply, komentar facebook juga twitter.

29 komentar:

  1. dan demi mendengar satu per satu berita berpulangnya orang2 terkasih oleh orang2 yang kita kenal, ditambah lagi tgl.9maret kemarin adalah harlahnya adikku yang sudah berpulang, rasanya tidak karuan Naz.

    seperti katamu, hal paling sederhana yang dapat kita lakukan, adalah mengirim doa yang tulus sesering mungkin.

    BalasHapus
  2. Turut berduka cita... :( innalillahi wainnalilahirajingun.

    Mati rahasianya, semoga kita mati dalam keadaan khunul khatimah.

    BalasHapus
  3. Segala yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah, itu semua hanya titipan-Nya mbak

    BalasHapus
  4. innalillahi wa inna ilaihi rajiun..
    semoga ibu mb diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah..

    BalasHapus
  5. innalillahi wa inna ilaihi rajiun..

    Mbak aku kok baru tahu berita duka ini ya...
    Turut berduka ya atas berpulangnya si Mbok. Semoga beliau diterima amal ibadahnya dan diampuni dosanya serta mendapatkan tempat yang indah di sisiNYA.

    BalasHapus
  6. Turut berduka cita Mbak Anaz.... saya juga baru kehilangan embah saya tanggal 28 februari kemarin karena sakit tua. Di ambil hikmahnya saja mbak, pasti itu yang terbaik buat yang ditinggal dan yang meninggal. Semangat lagi mbak Anaz :)

    BalasHapus
  7. Terpikir sejenak akan kematian???sesungguh memang iya kematian itu akan dan pasti dirasakan semua manusia dan semuanya mahluk yang bernyawa,namun dengan adanya kehidupan kita harus berpikir untuk apa kita hidup di duni ini???selalu melihatlah bahwa hidup ini cuma titipan sang kholiq pencipta alam ya Allah SWT. saya turut berduka cita ya mbak Anaz...semoga mbah'nya bisa diterima disisi Allah amin.

    BalasHapus
  8. anaz, ikut berduka cita ya.

    BalasHapus
  9. ikut berduka cita anaaz. semoga sedihnya nggak lama-lama

    BalasHapus
  10. saya juga turut bela sungkawa mbak, semoga beliau diterima disisi-Nya.

    BalasHapus
  11. Semuanya berasal dari-Nya dan akan berpulang kepada-Nya..
    Kepergian dan perpisahan memang sangat menyakitkan sekali Mbak
    sakit dan rasanya jatuhhh banget..
    dan sakitnya bagi saya hanya bisa di hapus oleh waktu.
    Semoga dimudahkan dan dilapangkan jalan Mbok di sisi-Nya ya Mbak..
    semoga kita diikhlaskan oleh semua kehilangan yang telah kita lalui. Aminnn...

    BalasHapus
  12. Innalillahi peluk mba Anaz,, baru kemarin saya jawil di blog saya ga taunya mba Anaz lagi sedih di sini,,, :(

    BalasHapus
  13. semoga ibu mb diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah..

    BalasHapus
  14. semoga kian bahagia dalam rengkuhan rahmat-Nya....

    BalasHapus
  15. Yang hidup dan yang akan mati, harusnya tulisan ini bsa menyadarkan ttg bagaimana saya seharusnya menyempurnakan tujuan sya hidup. Karena mati adalah keharusan.

    Buat mbok mbak anaz, semoga beliau kelak di tempatkan di tempat yg layak berupa surga Allah. Amiiin. Dan semoga yg ditinggalkan bsa selalu di berikan kesabaran utk mengantarkan pada rasa ikhlas yg sebenar benarnya. Doa anakcucunya senantiasa akan selalu di harapkan oleh beliau. # jadi ikut sedih.

    BalasHapus
  16. tak ada duka berlebihan apabila kita yakin bahwa umur sudah ditentukan dan kematian adalah kehendak ilahi. saya sudah mengalami semua, dipanggilnya kakek-nenek dan juga bapak-ibu.

    untuk simbokmu kudoakan, allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu'anha.

    allahumma la tahrimna ajraha, wa la taftinna ba'daha, waghfirlana wa laha.

    BalasHapus
  17. Turut berduka cita ya mbak
    selamat jalan Mbok..
    semoga diterima di sisi-Nya

    BalasHapus
  18. Inna lillahi WIIR
    turut berduka mbak :)

    BalasHapus
  19. Turut berdukacita atas berpulangnya si Mbok-nya mbak Anaz. Memang hidup ini penuh dengan pelangi rasa. Sebentar berubah dan berubah terus. Yang penting berkabungnya jangan lama-lama ya Mbak. Kita yang masih hidup ini harus tetap tegar untuk melanjutkan perbuatan baik mereka.

    BalasHapus
  20. turut berduka cita....

    bacaartikel nya mbak anaz jadi terharu, inget bahwa hidup kita didunia hanya sementara :"(

    BalasHapus
  21. Innalilahi wa innalilahiroji'un. Kehilangan org yg kita cintai memang kadang bisa membuat kita Shok apalagi bila bnyak kenangan2 indah bersama org tersebut. Saya harap kamu bisa kembali tegar.

    BalasHapus
  22. innalillahi wa inna ilaihi rojiun..

    smoga kita tak lupa untk mengigati diri sndiri juga..

    BalasHapus
  23. jangan lama lama sedihnya ya Tante Naz

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P