My Silly Diary

Waktu ikutan lomba My Silly Diary di multiply setahun lalu, saya menjadi juara pertama. Pas ngobrol-ngobrol sama jurinya, tak sengaja terkeluar kalimat kalau keunikan dari menangnya tulisan tentang diary pada punya saya adalah karena ada kata pengantarnya. Lah, saya bengong dengan alasan itu. Lantas ketika kemarin saya membuka kembali tulisan diary tahun 2004 tersebut, saya malah cengengesan sendiri membaca kata pengantar dalam buku tersebut. Kalau yang mau baca penggalan kata pengantarnya ada pada lomba My Silly Diary di sini 

Dulu saya memang rajin banget nulis diary. Kalau sudah pisah sama temen sekelas, karena masing-masing sudah berada di kota lain, saya juga kerap menuliskannya. Atau nggak, kalau saya lagi nggak suka sama teman sekelas saya juga selalu menuliskannya. Yang paling bikin suedih dan nulisnya sambil nangis bombai adalah ketika menuliskan kepindahan saya dari salah satu sekolah ke sebuah sekolah yang terdekat dari rumah. Padahal, ketika masuk ke sekolah sebelumnya penuh dengan perjuangan hehehe...

Waktu kelas satu Mts, saya punya seorang sahabat. Namanya Tania, anaknya cantik, wajahnya bujur sirih, dagunya panjang, rambutnya panjang, berwarna keperangan. Saya akrab banget sama dia, dari kelas satu sampai kelas 3. Waktu sudah lulus, pas pisahan saya sediihhhh banget. Soale Tania pindah melanjutkan sekolah di Lampung, sementara saya di Serang. Ketika masih satu sekolah, saat ada teman terdekat yang ultah kita akan membelikan hadiah secara patungan. Dan saat tak bersama lagi, selalunya saya hanya menuliskan kata-kata di dalam diary, selain melalaui surat tentu saja.

Senin, 19 maret 2001

To Sobatku, Tania

28 februari 84 adalah hari lahirmu. 28 februari 2001, tepat usiamu 17 tahun. Tak banyak yang aku lakukan, aku tak memberimu ucapan selamat, apalgi memberika sebungkus kado. Aku harap kau memakluminya sobat, karena kita jauh. Yah, kita jauh... Kau berada di seberang laut sana, sedang aku ada di sini. Tapi percayalah sobat, Insya Allah aku akan selalu mengingatimu dan mendoakanmu.

Sobat, di usiamu yang yang ke tujuh belas ini semoga kamu tambah dewasa, dewasa dalam berpikir maupun dalam bertindak, tambah rajin shalatnya, nurut sama ortu, nurut sama kakak, sayang sama adik, sama temen-temen tak lupa pula sama aku donk hehehe...

Itu salah satu tulisan yang ada pada salah satu diary saya. Selain Tania, masih ada beberapa teman yang saya tuliskan selamat ultah. Kalimat-kalimat di atas, tentu saja tak pernah dibaca oleh sahabat saya, bahkan sampai sekarang tentu saja.

Beranjak Aliyah, saya masih sama suka menulis diary. Ketika sekolah di Serang, pun saat harus pindah ke Pulomerak. Diary menjadi teman setia saya. Mengisahkan bagaimana rasanya menjadi murid baru, mengabarkan juga apa rasa saat harus meninggalkan kelas lama. Semua terekam, semua ada dalam catatan, meski nggak begitu lengkap :D

Ketika di sekolah baru, saya juga akrab dengan seorang sahabat. Tak usahlah saya sebut namanya. Dia baik banget, rumahnya di sebuah kampung. Sementara saya tinggal di perumahan mengikuti majikan saya. Ayah teman saya, kadang sering ke laut mencari ikan. Meski melautnya bukan pekerjaan utama, karena selain mengarungi lautan, ayah teman saya ini juga seorang petani.

Kalau malamnya ayah dia ke laut dan paginya memperoleh banyak ikan, dia tak segan membawakan ikan untuk saya, masih mentah, dibungkus plastik. Kadang, yang sudah masak pun dibawakan juga. Atau ketika musim timun suri, saya akan ikut ke rumahnya kemudian mengikuti teman saya ke ladangnya juga ke sawahnya sesekali. Kalau pas di kebunnya sedang musim timun suri, saya akan berlari ke sana kemari memunguti buah yang terhampar dan berkeliaran di sela-sela pohonnya yang menjalar. Wis, pokoke saya seneng banget deh...

Nah, kadang saya ke sekolah bawa diary buluk saya yang udah lama banget. Sahabat saya itu pengen baca, karena di buku diary saya nggak ada yang rahasia-rahasia, saya biarkan aja dia membacanya. Selain itu, saya juga masih ada diary-diary lainnya yang terkadang menuliskan tentang sohib terdekat tersebut. Saya juga meminta sohib terdekat untuk membawa diary saya, kemudian dipersilakan menulis apa saja.

Tapi teman, tahukah di balik segala kebaikannya? Rupanya ia sering memendam kecewa dengan tingkah laku saya dan sepertinya ia menumpahkannya dalam buku diary miliknya, tapi tak pernah sekalipun ditunjukannya kepada saya. Tak mengapa, saya pun tak memintanya. Dulu, ketika masih sekolah  kadang saya sering diam. dan saat diam itulah, saya akan duduk di kursi paling belakang, membawa buku dan banyak menuliskan sesuatu. Dan diamnya saya, membuat kecewa sahabat saya tersebut #duh :( maafkan saya...

Di jaman digital kayak gini, masih ada yang nulis diary enggak, yah? Terus, kalau ada yang masih nulis diary, mau nggak yah tuker-tukeran diary? Bercerita dari seluruh plosok negeri juga mungkin di luar negeri? #mungkinkah...???

Diary-diary lama, kemarin beres-beres kardus, menemukan diary tahun 2007.  Ada kiriman dari kampung juga, diary tahun 2003, tapi belum diambil :D

19 komentar:

  1. Hhuhu seru ya punya diary, aku ga punyaaaa...

    BalasHapus
  2. Masih ada doooong. Saya pun nulis jurnal harian di buku, meski sudah ada blog pribadi. :D Karena ada kesenangan di dalamnya. ^^

    BalasHapus
  3. Saya rajin nulis diary waktu tingkat 3 kuliah. Pagi sama sore nulis. Tapi sekarang gak lagi. Gak tau kenapa.

    BalasHapus
  4. diariku udah hancur dihajar banjir :(

    BalasHapus
  5. widiw rajin amet. ane aja enggak punya gituan

    BalasHapus
  6. dulu temenku juga nulis diary.. hloh malah nyeritain temen sih..

    aku g punya mbak, buku catatanku dari dulu g ada isinya, sekarang ganti merek mencurahkannya di facebook

    BalasHapus
  7. wehehe.. jadi inget diary pertamaku waktu smp dulu, mbak. :P

    BalasHapus
  8. Diary saya berbentuk lirik lagu dan lukisan Mbak, aneh ya.. hehe..

    BalasHapus
  9. Hihi aku juga hobi nulis diary sewaktu sekolah dulu sis, sekarang sih udah jarang :p

    BalasHapus
  10. bukan mungkin tapi bisa aja nulis diary kroyokan..tinggal provokasi banyak orang :D

    BalasHapus
  11. Aku juga dulu punya diary :) *nggak nanya ya Mbak, heheee...

    BalasHapus
  12. Sekarang diary oofline-nya diganti dengan diary offline.
    Untuk membaca penggalan diary diatas harus login dengan akun multiply?

    BalasHapus
  13. aku gak punya diary, tapi dulu sering diare, hehey :D

    BalasHapus
  14. hohoho...diary, aku gak punyaa...duluuu prnh penegn pny diary jd pake buku tulis tp hny ta isi sbntr saja..

    BalasHapus
  15. diaryku mbuh mbak wis ilang kepangan rayap yak'e nek diare sih..........

    *ora ono sing takon*

    BalasHapus
  16. aku sampe sekarang masih nulis diary mbaaakk.... hehehehe

    BalasHapus
  17. tunjuk tangan;).. aq juga masiiih mba.. klo lagi kesel, suka baca2 ulang trus ngakak sendiri, ternyata konyol ya driku.. Seru banget bikin jurnal harian juga.. tapi sering males juga.. he..he..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P