Tentang Wawancara Diaspora

Tulisan ini saya usung dari kompasiana, sebetulnya pagi tadi saat menulisnya saya di blogspot dulu, tapi saya usung ke kompasiana. Kenapa harus nulis di sini dulu? Karena kalau nulis di sini lebih aman, saat laptop mati mendadak berbanding ketika saya harus menulis di words maupun dashboard kompasiana sendiri. Jadi, inilah cara termudah berdepan dengan laptop yang sering mati mendadak :) hehehe


Rabu malam lalu, saya ditelpon oleh Pak Fandy dari KBRI. Beliau mengabarkan kalau bisa kamis siang saya diminta datang untuk mengikuti meeting juga makan siang bersama. Meetingnya adalah untuk membahas sebuah video dokumenter. Awalnya saya menolak, saya bilang kalau saya nggak pedean :D tapi kata Pak Fandy coba datang dulu, minta izin majikannya boleh apa enggak. Karena sudah malam dan majikan saya ada di luar, saya belum meminta izin sampai ke pagi harinya. 

Setelah mendapat izin di pagi hari, saya telpon ke Pak Fandy kalau saya bisa datang ke KBRI. Awalnya saya kira di KBRI, rupanya di luar, tepatnya di Restoran Bumbu Desa , lantai 4 Suria KLCC. Berangkat dari rumah jam 11 siang, mengira-ngira biar sampai di KLCC jam satu siang. Meski sampai di KLCC jam satu lebih.

Sampai di restoran Bumbu Desa, beberapa orang yang hadir sudah menyelesaikan makan tengah harinya. Saya dikenalkan dengan beberapa orang yang saya tidak kenal tapi sudah familiar beberapa di antaranya. Wajah Pak Suryana yang sering saya lihat di tabloid Caraka juga kerap menyampaikan kata sambutan saat ada acara. Pak Dimas, yang saya lupa-lupa ingat setelah mengingat lagi rupanya banyak foto beliau di file saya saat datang ke beberapa acara. Bu Dewi yang ramah, yang baru saya kenali siang itu. Ada juga Bu Jar dan beberapa orang yang saya tak kenali. Selain itu, di situ juga ada Mas Mahfudz, seorang teman TKI yang saya kenali di Kompasiana.

Sambil menyantap makan siang, Pak Fandy meminta Bu Dewi menyerahkan dua lembar undangan untuk saya. Katanya, untuk ditunjukan kepada majikan saya, hehehe, majikan saya mah cuek. Nggak ngurus apa dan mau apa kalau saya keluar :D 

Membaca sekilas tentang undangan tersebut adalah berisi tentang pembuatan video untuk acara Congress of Indonesian Diaspora (CID) 2012 yang akan diselenggarakan di Los Angeless pada tanggal 6-8 juli bulan depan. Panitia berencana membuat video singkat diaspora Indonesia dari berbagai negara, salah satunya adalah dari Malaysia yang dianggap memiliki aktivitas kebaradaan diaspora terbesar. 

Sambil makan, saya berbisik kepada Pak Fandy, menanyakan arti diaspora :D (katrok banget saya, ketahuan jama'ah googliyah apa-apa bisanya googling kalau nggak ada inet mlongo aja) Barulah menganggukan kepala ketika Pak Fandy menerangkan arti diaspora dan langsung teringat pelajaran geografi tentang transmigrasi, urbanisasi. Video diaspora ini akan ditayangkan pada acara konser musik yang menajdi bagian program CID. Dalam video tersebut, durasinya hanya sekitar 2-3 menit di mana diwakili oleh beberapa pihak,

1. Ibu Kandi Rahayu, Executive Director PT. Sari Sihat (M) Sdn Bhd-Kuala Lumpur
2. Bapak Dwiono Hermantoro, Dosen Tamu di Universiti Pertahanan Nasional Malaysia
3. Nggak tahu namanya :D
4. Mas Mahfudz, TKI (pekerja sektor kontruksi)
5. Anazkia, TKI (pekerja sektor informal)

Setelah selesai makan siang, saya dan Mas Mahfudz diajak ke KBRI oleh Pak Suryana dan staf-stafnya. Sedang Bu Kandi Rahayu dengan Bapak Dwiono hari lain baru bisa mengambil sesi wawancara. Sampai di KBRI, saya diberikan kertas skenario #halagh, gayamu, Naz! :D

Pas dapat wejangan untuk tidak memandang kamera saat sesi wawancara, saya jadi inget Om Srondol yang membuat video Janji Bukan Lelucon. Waktu itu kan saya dikasih arahan sama Om Srondol, meski tanpa skenario :) 

Sesi wawancara tidak lama, hanya beberapa menit. Bergantian antara Mas Mahfudz dan saya. Yang ditanyakan adalah tentang nama, asal muasal, sejak kapan berada di Malaysia, faktor apa yang melatarbelakangi berangkat ke Malaysia, kesan di Malaysia, harapan sekarang dan terakhir adalah sebuah pertanyaan pamungkas, Apa Arti Indonesia buat saya? Huah... Pertanyaan sederhana yang sulit untuk dijawab. Alhamdulilah, semuanya berjalan lancar...



Kemarin, adalah hari yang menggembirakan buat saya. Bukan tentang pengambilan gambar untuk video itu saja, tapi berbarengan dengan saat kami berada di KBRI salah seorang teman saya yang juga panitia Workshop Blogging membawa proposal ke KBRI alhamdulilah mendapat acc dari Pak Suryana

Menurut dua lembar kertas yang saya baca, menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, bahwa sampai dengan bulan desember 2010 terdapat sebanyak, 3. 294.009 warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. 60 persen di antaranya adalah di Malaysia dan Arab Saudi. Tapi, bukan tidak mungkin jumlahnya lebih besar karena banyak yang tidak mendaftarkan diri di KBRI maupun KJRI setempat.


Terimakasih saya ucapkan kepada Pak Fandy yang sudah mengabari saya juga mengundang saya untuk mewakili sektor rumah tangga. Sempat mikir juga, apa alasan saya sehingga dipilih untuk mewakili dari ratusan ribu teman2 TKW sektor rumah tangga? Kalau mau lebay, dalam hati kecil saya berkata “Mungkin karena saya ngeblog, mungkin karena saya nulis di kompasiana” ini beneran, soale kemarin kalau ngobrol-ngobrol yah tidak lepas beberapa kali kita menyebutkan kompasiana :) Lah, salah satu dari pekerja konstruksi, Mas Mahfudz juga kompasianer, kan? :) Terimakasih untuk semuanya…

15 komentar:

  1. anaz kereeen...
    makin terkenal wae...

    #ga minta pulsa ah
    kapokk...

    BalasHapus
  2. WhaoW alhamdulillah yah sampai bisa dekat dengan penulis penulis media :)
    iri akuuuhh

    BalasHapus
  3. hebat nih mbak anaz, majikannya baik ya mbak

    BalasHapus
  4. wah slamet ya...pasti gara2 eksis didunia maya..
    blogger itu kreatif..
    blogger itu manfaat

    BalasHapus
  5. komenku ga aku copas dari kompasiana euyyy

    BalasHapus
  6. ngeblog memang beramnfaat ya,,sekarng mbak anaz makin eksis aja hehehe

    BalasHapus
  7. Jadi, ga boleh mandang kamera saat wawancara ya mbak, hmmmm.... selamat ya mbak; sungguh saya ikut senang....

    BalasHapus
  8. Tek doain mudah2an mbak anaz bsa jadi duta TKI, itu pahlawan loh apalagi jiwa sosialnya mbak anaz begitu tinggi khususnya trhadap nasib anak2 di indonesia. Selamat yaaaaaaa :D

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum Mbak Anaz,
    Alhamdulillah, semoga kegiatan ini memberikan kemanfaatan bagi banyak pihak. Dan Njenengan diberikan kemudahan dalam melakukan banyak hal.

    Emangnya laptonya kenapa Mbak kok suka mati mendadak ? baterainya kali ya

    BalasHapus
  10. salam jumpa mbak Anas...

    permisi saya ikut menyimak blog ini,

    salam blogger..ditunggu di lapak sederhanaku ya ..salam.

    BalasHapus
  11. Pantesan belakangan makin sulit dihubungi, ternyata sudah jadi selebritis baru tah? hehehe...saya turut bangga dan bahagia dengan segala pencapaian yang mbak Anaz dapatkan.
    Tapi....ngomong-ngomong diaspora iku opo,Mbak? Kenapa mbak Anaz jadi inget pelajaran geografi, apa Pak Fandy itu dulu mantan guru geografi? Hehehe..tunggu dulu, Mbak. Saya ambil dulu isinya, baru rantang boleh kau lemparkan.

    BalasHapus
  12. lagi nyiapin kopi dan teh manis nih,mau menyelam di sinoooo hehe..

    maaf ya lapaknya mo di "shoot " juga nih, hehe..

    BTW>> ...def,diasfora itu apa nyampai tulisan selesai enggak ada definisinya wkwkwkwk???

    BalasHapus
  13. diaspora, sama dengan mas abi dech, melongo apa itu diaspora
    apa kegiatan para urban di malaysia yang akan dijadikan dokumenter

    he.. he..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P