Indonesian Maids On Sale, Memang Jasa PRT

Ahad lalu, di ranah twitter sedikit ramai dengan sebuah gambar selebaran yang menuliskan kalimat sungguh tidak mengenakan "Indonesian Maids Now On Sale" Pertama kali, saya melihat foto tersebut di facebooknya Pak Wahyu Susilo. Ada kekesalan saya melihat isi selebaran tersebut, sangat menghinakan. Beragam komentar di foto tersebut pun bermunculan, yang sebagian besar adalah geram dan marah. Tak lama kemudian, saya langsung meraih hape yang tergeletak tak jauh dari laptop. Menekan nomor-nomor yang tertera di selebaran tersebut.



Nomor pertama, berhasil tersambung nada dering lagu India menemani telinga saya menunggu handphone diangkat tuannya. Tapi sampai terhenti lagu India, tak ada jawaban dari nomor tersebut. Lantas saya kembali menekan nomor lainnya, karena memang dalam selebaran tersebut ada 3 nomor yang tertera. Kembali, musik India menemani halwa telinga dan kali ini tanpa menunggu lama suara diseberang langsung terdengar. Suara seorang perempuan denganbahasa Inggris menyapa saya. Suaranya terdengar terburu-buru dan snagat sibuk. Disapa menggunakan bahasa Inggris, saya agak tergagap, lalu menjernihkan suara menggunakan bahasa Melayu pekat.

Saya bertanya, apakah betul tempatnya menyediakan jasa pembantu rumah tangga? Suara di seberang mengiyakan. Dia bertanya di mana saya tinggal. Dalam berucap, saya berpikir memberi kejelasan di mana saya tinggal. Karena tempat saya sekarang lumayan dekat dengan alamat yang tertera di flayer tersebut, akhirnya buat-buatlah mengatakan kalau saya dari Gombak.

"Ok, tak apa, nanti saya call balik. Tutuplah telpon ni." Ujarnya menyudahi percakapan dengan tergesa-gesa.

 Jam 4 lewat 2 menit sore saya menelpon ke agen tersebut, jam 4 lewat 20 menit pihak agen kembali menghubungi saya

 Selain saya, rupanya Mbak Anis Hidayah pun menghubungi nomor tersebut malam harinya dengan pura-pura membutuhkan jasa PRT. Pun tak lama setelah itu pihak agen kembali menghubungi Mbak Anis Hidayah. Lihat, betapa ia memang menyediakan jasa PRT!

Saya terdiam cukup lama di depan laptop, kembali melihat selebaran yang diunggah oleh Pak Wahyu Susilo, juga melihat rekasi teman-teman di twitter mengenai flayer tersebut. Tak lama, hape saya kembali berdering. Nomor yang tadi saya hubungi betul-betul kembali menelpon saya. Tapi saya sudah enggan berbicara dengan wanita itu lagi, ada rasa kesal yang menjunam.

Esoknya, saat saya membuka facebook melalui handphone, reaksi beragam mengenai flayer yang kemarin saya lihat semakin ramai. Antarakl menurunkan berita kalau BNP2TKI menolak keras selebaran iklan tersebut. Entahlah, saya tak update lagi karena tidak online dengan maksimal. Tak juga up-date melalui twitter.

Lantas, saat malam tadi membuka facebook, kembali salah seorang rekan yang saya kenali di facebook dan beliau adalah wartawan antarakl, kembali menurunkan berita yang membuat saya tercengang tentu saja "Dubes: "TKI On Sale" Hanya Kedai Gunting Rambut" Jelas saya ternganga. Tak mungkin, jelas-jelas tak mungkin! Ahad lalu saya menelponnya dan pihaknya membenarkan kalau ianya memang menyediakan khidmat jasa PRT. Kenapa juga sekarang berubah menjadi kedai gunting rambut? Apapun, saya masih sangsi dengan apa yang ditemui meski ia ada bersama bukti. Sebuah akal-akalan agen pembantu liar sepertinya, yang menawarkan kemudahan kepada pengguna jasa PRT, tapi jangan-jangan ia adalah berkedok penipuan. Wallahua'lam.

 Gambar pertama yang saya lihat di FBnya Pak Wahyu Susilo

 Gambar kedua, yang berhasil diabadikan oleh Mas Dimas (Mas Dimas atau Pak Oli) alamatnya sama persis dengan alamat di atas

Teringat ahad pagi, saat membaca berita di antara di sini, ada sebuah petikan kalimat Pak Menteri yang membuat saya tersenyum getir, "TKI yang informal seperti pembantu rumah tangga (PRT) harus dihentikan pengirimannya karena selain devisa yang didapat kecil, harkat dan martabat bangsa juga hancur," kata Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri di Tangerang, Banten, Sabtu (27/10). Saat menyambut kedatangan WNI yang tinggal di suatu negara melebihi izin (overstay) dan TKI bermasalah dari Arab Saudi di terminal 4 Selapajang, Tangerang,  Mensos mengaku sepakat TKI yang menjadi pembantu rumah tangga tidak dikirim lagi tapi harus yang ahli seperti perawat atau pengasuh bayi.

Yah,mungkin yang bapak katakan itu benar, pengiriman PRT ke luar negeri akan menghancurkan martabat bangsa. Tapi, Pak menteri, sesekali, lihatlah ke bawah kepada mereka para PRT yang rela mengadu nasib ke negara antah berantah yang tak dikenalnya. Tak hanya itu, sesekali bapak lihat juga lingkaran setan di dunia pengiriman tenaga kerja. TKI, dari sebelum keberangkatannya ke luar negeri pun sudah diperjualbelikan di negeranya sendiri. Dihargai perkepala satu juga, atau bahkan lebih rendah dari itu. Masih teringat jelas alasan kuat saya berangkat ke Malaysia beberapa tahun lalu, dari sebuah SMS yang mengejutkan juga mencuit hati kecil saya,

"Kalau kamu nggak mau berangkat ke Malaysia, kamu cari orang aja. Satu kepala saya hargai satu juta."

Innalillahi.... Darah saya mendidih. Semiskin-miskinnya saya, saya tak akan ikut memperjualbelikan orang sebegitu rupa. Melihat flayer tersebut, mengingatkan saya akan peristiwa beberapa tahun lalu. Yah, di dekat kita, yang notabene masih rakyat Indonesia sendiripun sudah memperjualbelikan saudara sesamanya. Hentikan jual beli TKI dimulai dari dalam negeri dan mengecam keras penjualan TKI di luar negeri!

15 komentar:

  1. yang namanya agen jarang yg gk nipu ya mbak...

    di tempat saya byk TKI yg ke malaysia mbak, ya mau gmn org di kampung pendapatannya dikit. sbnrnya masalah2 kyk gini tuh salah sapa sih? pemerintah kita, kita yg notabene sbg warga negara, atau agennya???
    *bingung

    BalasHapus
  2. tidak sedikit TKI yang bisa membantu perekonomian keluarganya ya mbak anaz, masa harus dihentikan sih. yang harus diperbaiki itu sistemnya jangan hanya memanfaatkan TKI2 itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gua setuju dengan Mbak Lidya. Yg kayak gitu justru membuka kesempatan bagi mereka2 yg pengen cari rejeki ke luar negeri. Jangan dihentikan, tapi diperbaiki sistemnya, diawasi pemerintah dengan benar...

      Hapus
  3. per kepala satu juta??? Astaghfirullahal'adzim ... sudah sebegitu rendahnya moral orang yang dengan ringan menjual saudara sebangsanya sendiri, dengan dalih apapun!
    Astaghfirullah.

    Lingkaran ini harus segera dihentikan. Kita perlu orang2 jujur dan bersih untuk mengelola negeri ini

    BalasHapus
  4. TKW itu kayak barang dagangan yg dipajang di etalase yg ditawar-tawarkan oleh SPG (Agen). Kadang miris kalao pas lagi main di Agen trus ada majikan sama agen tawar menawar harga. Wes embuhlah mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat ini kalau melihat cara mereka menawarkan TKI (PLRT) di Singapura. Biro jasanya kecil, biasanya di mall sederhana, letaknya mojok/nyempil seuprit. Di tempat sempit itu para PLRT yang mereka sediakan didudukkan berbaris.

      Apa nggak bisa ya menyediakan tempat yang lebih patut, sehingga nggak terkesan TKI itu barang dagangan yang dijual di warung-warung? Memang mereka agen yang menawarkan "Maids on sale" itu sudah keterlaluan! Mesti segera ditindak, diperkarakan biar dia tahu menghargai manusia.

      Hapus
  5. sungguh biadab orang yang memperjualbelikan sesamanya untuk memanjakan naluri hedonisnya.

    BalasHapus
  6. Haduuh ngerinyaa,, mungkin sistim nya yang harus dirubah, misalnya para calon prt itu dibekali sedikit ilmu dulu disini...

    BalasHapus
  7. Sedih aku melihat ini mbak, prihatin dengan pemberitaan kayak gini
    Tapi setelah di cek kan cuma tukang cukur rambut tuh.. jadi keknya cuma sekedar provokasi aja kali ya,,

    BalasHapus
  8. saya juga tahu berita ini dari sosmed (sosial media) yang berkali-kali mengangkat topik ini, selain itu faktor pemerintah yang seenaknya ngomong seperti itu patut di berikan pelajaran agar mulutnya dapat dijaga.!!!

    BalasHapus
  9. pak mentri! jadi PRT sonoh biar tau rasanya gimana!

    BalasHapus
  10. iya,,ramai sekali berita ini di blog juga mbak,,miris bacanya...
    dan seenaknya sekali pemerintah ngomong,,,gak tahu gimana perasaan mereka,,ckckc

    BalasHapus
  11. pastinya ada asap pasti ada apinya mbak

    BalasHapus
  12. Pemimpin negeri ini memang susah untuk nyambung dengan warganya karena menara gading mereka terlalu tinggi. Tapi logikanya, kalau tidak terpaksa, siapa juga yang mau bekerja di sektor domestik yg sangat berbahaya bagi perempuan itu? Pemerintah harus mampu memberi jaminan pada warganya agar tidak perlu terpaksa menerima pekerjaan berbahaya seperti itu. Jika masih ada, bukan bangsa yg malu, tapi mereka yang harus malu karena tidak bisa memberi jaminan apa-apa pada warganya. Pemerintahlah yang gagal.
    Diatas itu semua, Anaz jaga diri baik-baik ya :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P