Melaka, Kota Budaya

Melaka adalah sebuah negeri yang terletak di Semenanjung Malaysia. Melaka, dikenali sebagai negeri bersejarah dan juga negeri Hang Tuah. Tahun 2008, Melaka diumumkan sebagai Kota Warisan Dunia ( Word Heritage) Melaka juga kembali diumumkan sebagai Melaka Maju pada 20-10-2010 jam 20:10 di Stadium hang Jebat yang diresmikan oleh Perdana Menteri Malaysia langsung dari Putra World Trade Center (PWTC) Kuala Lumpur. Melaka juga dinyatakan sebagai Negeri Bandar Tekhnologi Hijau. Dikutip dari wikipedia bahasa Malaysia.

September lalu, saya menyempatkan diri ke Melaka setelah berjanji sebelum-sebelumnya sejak setahun lalu. Yah, kami memang sudah banyak kali membuat janji dengan teman-teman kompasianer Malaysia akan berkunjung ke Melaka silaturahim ke rumahnya Ibu Lily. Tapi, janji hanyalah janji, sampai setahun waktu terlewati kami tak juga pergi ke Melaka. Sampai akhirnya bulan lalu saya ke sana seorang diri :)

Berawal dari komentar-komentar saya dengan Ibu Lily di facebook satu hari sebelumnya, akhirnya sabtu esoknya saya menuju ke Melaka. Alhamdulilah majikan saya mengizinkan saya ke Melaka dan menginap di rumahnya Ibu Lily. Bu Lily sendiri, tinggal di Melaka bersama dengan keluarganya. Suaminya seorang dosen di UNITEM (Universiti Tekhnologi Melaka) Sedang kedua anaknya masih belajar di dua universitas berbeda. Saya mengenali Bu Lily melalui blog, kompasiana.

Sabtu petang, saya berangkat dari rumah. Menaiki bus menuju KL Sentral, kemudian baru naik KTM (Keretaapi Tanah Melayu) menuju Terminal Bandar Tasik Selatan atau biasa disingkat TBS. Dari TBS, kemudian saya baru menaiki bus yang menuju Melaka setelah sebelumnya membeli tiket dulu (yah iyalah :D) Ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke luar daerah seorang diri menaiki kendaraan awam. Ada kesedihan tersendiri saat saya berada di TBS, sebuah terminal baru yang belum lama beroperasi ini sangatlah mewah untuk ukuran terminal bus. Menurut saya, ia sekelas dengan bandara. Kenapa saya harus sedih? Sedih inget pelayanan transportasi di negeri sendiri :(

Sedikit pemandangan di TBS

Sebelumnya, saya pernah ke TBS untuk mengantar teman yang juga akan pergi ke Melaka. Membeli tiket, menunggu bus, sampai kemudian masuk ke dalam bus asli saya sambil mikir-mikir aja. "Kapan, yah, negara saya begini?" Ah, sudahlah... Abaikan saja :D

Perjalanan TBS-Melaka memakan waktu dua jam. Karena nggak macet, ia tepat dua jam. Sampai di Melaka jam 20:38 malam. Menunggu dijemput oleh Bu Lily dan suaminya, saya jalan-jalan sebentar di Melaka Sentral. Sampai tak lama kemudian Bu Lily dan suaminya sampai untuk mengambil saya kemudian dibawa ke rumahnya. Jarak dari Melaka Sentral ke rumah Bu Lily sendiri lumayan jauh, 30 menit lebih. Karena masih suasana lebaran, jamuan makan tengah hari menyambut kawan-kawan Bu Lily masih terhidang di meja dan sesampainya saya di rumah bu Lily, pun langsung dihidangkan makanan.

Esoknya, saya diajak bu Lily jalan-jalan menyusuri pusat bandar Melaka. Yang selalu menarik perhatian saya dengan pariwisata Malaysia adalah tingginya kepedulian pemerintah untuk mengolah kesederhanaan pariwisata menjadi istimewa buat pengunjung-pengunjungnya. Pihak kerajaan berani mengeluarkan uang berjuta-juta ringgit demi perbaikan pariwisata yang ada. Bu Lily, sebagai pakar kebudayaan banyak memberikan keterangan yang membuat saya geleng-geleng kepala. Kalau dilihat, pemasukan dari turis yang datang tidak begitu banyak, tapi perputaran uang yang dihasilkan kemudian kembali lagi ke masyarakat sekitar itu yang membuat pariwisata yang ada jadi berkembang dan membantu penghasilan warga sekitarnya.

Udah dulu, ah ceritanya. Mau share foto-foto dulu :D

Bu Lily :)
Benteng A Famosa tinggalan penjajahan Inggris
Cantiknya becak-becak di Melaka, kalau naik becak mengelilingi Bandar Melaka ke tempat-tempat pariwisata bayarnya RM. 40 (eh, 40 apa 100, sih? lupa wehehehehe
Sudut ini mengingatkan saya dengan Kota Tua Jakarta


Sungai ini, awal tahun 2000an kata Bu Lily sangat kotor, tapi kerajaan mengeluarkan uang ratusan juta untuk membersihkan sungai ini. Hebat, kan? Sungai ini akhirnya jadi tambahan pariwisata. Kalau naik kapal (jeti) dan mengelilingi Melaka lewat sungai di atas bayarnya RM. 10 saja

Kapal ini hanya tinggal replika saja, saya lupa nama kapal ini ketika Bu Lily panjang lebar menjelaskan. Jadi pengen ketemu Bu Lily lagi biar diceritain lagi

  Reruntuhan gereja st Paul

Melihat lebih dekat tembok bangunan lama...




4 komentar:

  1. hmmm mau ksana tpi gk da duit heheh komen back yaw

    BalasHapus
  2. waw... malaka memang seperti itu ya? kalo ingin berangkat kesana dari bandung via apa ya bu, oleh olehnya opo yg terkenal dari sana bu...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P