Tak Perlu Jadi Penulis, Tapi Teruslah Menulis

Judul di atas, adalah sebuah kesimpulan dari obrolan saya, teman-teman dengan mas Pras, editor majalah story. Siapa Mas Pras? Beliau adalah editor majalah story, majalah remaja yang isinya banyak  dimuat cerpen. Selain itu, sebelumnya mas Pras adalah ketua FLP untuk wilayah Jakarta, beliau menjabat selama dua periode. Bagaimana ceritannya saya bisa sampai ke sana?


Berawal dari kesibukan beberapa waktu lalu menjelang deadline BHSB fase kelima, berkunjunglah saya ke rumah beliau bersama dengan tiga orang teman lainnya, Chipto, Indra dan Aini. Sebelumnya saya tidak begitu mengenali Mas Pras, kecuali hanya kenal begitu saja. Tapi, saya mengenali istrinya, Mbak Era ketika beliau berkunjung ke Malaysia. Dari situ, akrablah saya dengan beliau. Dan saat pulang kemarin, Mbak Era wanti-wanti, kalau bisa diminta berkunjung ke rumahnya. Selain silaturrahim, Mbak Era juga mau menyumbangkan buku untuk BHSB.


Akhirnya ketika awal bulan lalu kami sepakat untuk mengambil buku, singgahlah kami ke rumah beliau. berangkat dari Bogor jam delapan pagi menuju Tangerang. Karena ada sedikit kesalahan, akhirnya nyasalah kami kejauhan dari tujuan yang seharusya. Sampai di rumah Mbak Era, menjelang jam dua belas siang. Sampai di rumah Mbak Era dan Mas Pras, kami disuguhi dengan halaman rumah yang adem. Pepohonan di kanan kiri, sebuah pendopo juga air mancur buatan membuat pemandangan seperti di pedesaan.



Tanpa disuruh, beberapa dari kami langsung ndeprok di pendopo. Di pendopo ini, teman-teman sering mengadakan diskusi. Yah, di rumah beliau ini memang sering diadakan pertemuan kelas menulis. Jadi tak heran, kalau tiap akhir pekan banyak orang-orang yang berdatangan. Ketika kami sedang berbincang, setelah Mbak Era menghidangkan minuman, dua orang anak SD pun datang ke rumah. Ternyata mereka  hendak membeli buku. Tak lama kami berbincang, adzan dhuhur berkumandang. Saya dan Aini masuk ke dalam rumah mengikuti Mbak Era untuk menunaikan shalat dhuhur, sementara Chipto dan Indra pergi ke masjid.

Masuk ke rumahnya, menuju ruang shalat saya senang banget melihat rak buku dengan isinya berjajar-jajar rapih. Ada rasa sesal, kenapa selama saya nganggur tidak berkunjung ke rumah Mbak Era biar bisa puas membaca? Hiks. Selesai shalat, sambil menunggu Chipto dan Indra rupanya Mbak Era menghidangkan makan siang untuk kami. Walah, malu juga tidak menyangka akan dijamu makanan :) setelah semuanya berkumpul, kami langsung menuju meja makan dengan malu-malu mau :D :P

Dan di meja makan inilah, kami ngobrol panjang lebar dengan Mas Pras, sementara Mbak Era berjalan ke sana kemari menemani kami juga sesekali menonton televisi. Kami ngobrol macam-macam, mengenai dunia penulisan, buku, perkembangan dunia sastra juga majalah story. Saat menanyakan berapa banyak cerpen-cerpen yang masuk ke majalah story tiap bulannya, ternyata ia bisa mencecah ribuan. Ya Allah, banyak bangetttt. Dan baru saja up-date dari Mas Pras yang sedang membuka e-mail majalah story sudah ada 6000. Gilak! #geleng-geleng

Dunia sastra, juga serba sedikit dibahasya. Dunia buku, juga diulas oleh Mas Pras. Lantas, ketika membahas dunia perbukuan inilah saya sempat bertanya, "kalau semua ingin jadi penulis, siapa nanti yang akan membacanya, Mas?"

"Yah, jangan jadi penulis. Tapi teruslah menulis." ujarnya

"Maksudnya, Mas?" saya bertanya lemot, menyadari otak celeron saya yang cepet panas tapi lambat aksesnya :D

"Iya, tidak perlu menjadi seorang penulis. Tapi bukan berarti harus berhenti menulis. Karena kalau memfokuskan diri hanya untuk menjadi penulis kita akan terhenti dengan sendirinya saat tidak menghasilkan uang. Tapi kalau mempunyai keinginan terus menulis, tidak peduli, ia mendatangkan uang atau tidak ia akan tetap menulis."

Nyessss.... Kalimat itu, seolah menjadi penawar di saat kehausan. Selama ini saya tercari-cari identitas sendiri. Saya nulis buat apa, sih? Yah saya nulis untuk tetap menulis dan tak harus jadi seorang penulis.

Begitulah, obrolan kami di sela-sela makan siang. Alhamdulilah, setelah kami kenyang dengan makan siang dan perbincangan, kami beranjak dari meja makan dan kembali ke pendopo untuk berbincang-bincang kembali juga foto-foto di area pendopo :) juga penyerahan buku dari Mbak Era untuk BHSB yang diterima oleh Aini :)

Sekitar jam dua kami pamitan meninggalkan rumah Mbak Era dan mas Pras menuju Bekasi untuk mengambil buku yang lain. Begitulah, kunjungan kami hari itu. Bertemu, bersilaturahim untuk mengambil buku. Tapi, tak hanya buku yang kami dapatkan, ada hidangan makan siang, sedikit perbincangan dengan banyak artian juga  jalinan silaturrahim dan persahabatan :)

Terimakasih, Mbak Era, Mas Pras atas hidangan makan siangnya juga buku-bukunya. Terimakasih juga untuk Chipto, sang guide penunjuk jalan, Indra yang nyetir seharian juga Ain yang menjasi teman seperjalanan :) terimakasih banyak.... Semoga kebaikan teman-teman mendapat balasan dari Pemilik Sang Maha Baik. Aamiin....


keluarga sakinah, kata Indra :) 

 Adem....

Mas Pras, editor majalah story :

 Chipto narsis :P :)


Narsis bareng :)

Penyerahan buku untuk BHSB 

47 komentar:

  1. Wah, rumahnya adem banget ya? Banyak pohon2 gitu... pasti siapa saja yang disana pasti kerasan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Reni. Bikin betah berlama-lama di sana :)
      Pengen ke sana lagi

      Hapus
  2. BHSB sekarang episode keberapa mbak? Rencana mau dikirimkan kemana? Ingatkan aku agar tak terlewat ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi liburan, Mbak. Insya Allah ke depannya kita akan ke Lampung. Sep, Insya allah diingatkan :)

      Hapus
  3. Seru yah Mbak ternyata ada juga penyerahan buku untuk BHSB dari teman-teman.Sukses selalu Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kebanyakan dari teman2 kok bukunya :)

      Hapus
  4. ooo kirain mirip kuiknot neng blogku...

    maap...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah nulis yo, Kang? Mungkin Anaz terlewat :)

      Hapus
  5. Subhanallah ... adem banget, rumah dan obrolannya, bener2 mencerahkan

    BalasHapus
  6. Setuju Mbak Anaz, yang penting terus menulis :)

    #hayuuuuu...

    BalasHapus
  7. nek lagi kendo ngene iki arep nulis twit baen bebeh koh

    BalasHapus
  8. Inspiratif mbak. "Teruslah menulis." Semoga saya mampu seperti saran mas pras

    BalasHapus
  9. iya mbak bener banget kadang stigma menulis untuk jadi penulis pro yang menerbitkan buku dan dapat royalti selalu membayangi pikiran tapi justru jadi stress kalau harus fokus kesana nanti kalau gagal gimana hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, iya. Saya juga kadang gitu kok :) tapi pas udah diskusi dengan Mas Pras jadi ngeh deh :)

      Hapus
  10. Menarik... btw buku dari pekanbaru ke kalimantan udah smpe belum ya???xixiixix

    BalasHapus
  11. Postingannya keren banget, Fun Institute sebuah nama yang menarik. Tetap semangat... :-)

    BalasHapus
  12. Pengen deh ikut ke rumah keluarga mas Pras

    BalasHapus
  13. Menulis terus ya mbak, walaupun tulisan diblogku amburadul hehehe. APa kabar mbak anaz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah baikkkkkk

      Yuk, terus menulis :)

      Hapus
  14. Waaaaaaaaaaaaa keren.. mengispirasi bgt...

    nyambuk buat nulis walaupun yang ga genah ya teh :)

    BalasHapus
  15. Blog adalah sarana untuk terus menulis, hidup Mak Anaz...eh salah hidup ngeblog..

    BalasHapus
  16. tuh kan naz, gag perlu jadi penulis, tapi teruslah menulis (blog)
    hihihih... ditambahkan :P

    BalasHapus
  17. nasehatnya luar biasa.... bermakna dalam...

    oh ya.. yg membuat saya penasaran itu adalah. kenapa ga ada foto rak bukunya???????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh, ada foto rak bukunya. Lupa mau dipublish :D
      Udah kebanyakan, sih hehehe

      Hapus
  18. ahhh, bener banget, teruslah menulis, entah dibayar atau tidak, teruslah berkarya, hasil akan mengikuti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaa....
      Mbak Maya berkunjung ke siniii

      Hayuk, mari kita sama-sama terus berkarya

      Hapus
  19. hehehe..jadi semangat aku, sip..sip..pokoknya nulis.

    BalasHapus
  20. blogwalking..
    kunjungan pertama sobat..
    di tunggu ya folbacknya :)

    SitusTopInfo

    BalasHapus
  21. Saya bukan penulis, namun suka dengan menulis. Lebih suka menulis di blog dengan tema jogja tercinta...

    BalasHapus
  22. dalem banget..sy tetap menulis karena sy suka..
    :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P