Saat Harus Menjadi WNA

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mamiri, minggu pertama.

Kalau dihitung-hitung, sepertinya ini tahun ke tujuh saya berada di Malaysia dan selama itu pula saya bekerja mengikuti majikan yang sama. Kalau dua tahun lalu saya tidak tinggal dengan majikan, itu karena saya mengikuti anaknya. Dan sekarang saya kembali tinggal dengan majikan sementara menghabiskan permit kerja. Awal saya datang, rumah majikan saya berada di Gombak. Dan kini majikan saya sudah pindah rumah di Kajang. Kalau dulu ketika di Gombak saya sering didatangi ayam-ayam tetangga, sekarang yang datang bukan lagi ayam. Yang datang adalah gerombolan monyet, ia memakan apa saja yang ditanam Abah maupun Mbak Samini.

Di seberang rumah majikan saya ada rumah sederhana yang dihuni oleh sepasang suami istri dan seorang anaknya. Sebenernya, anaknya ada dua, tapi yang satu lagi sudah menikah. Mak Cik Janah, begitulah saya memanggilnya. Sementara dengan kedua anak dan suaminya saya tak begitu mengenalnya. Mak Cik Janah dan suaminya ini berasal dari Indonesia. Mak Cik Janah asli keturunan dari Minang, sementara suaminya berasal dari Pekanbaru. Mereka semua sudah lama berada di Malaysia, sejak dua puluhan tahun yang lalu katanya (atau malah lebih, ya?)

Setiap berbincang dengan Mak Cik Janah, ada saja cerita yang dikisahkannya. Sejak kedatangannya, tentang keluarganya, suaminya, anaknya juga bagaimana ceritanya ia menghuni rumah di seberang jalan rumah majikan saya. Mak Cik Janah,  sudah puluhan tahun menetap di Kajang. Rumah yang ditempatinya itu bukanlah miliknya, ia hanya menunggu dan menjaga rumah tersebut beserta  menjaga kebun yang ada. Rumahnya memang dikelilingi kebun, beragam buah-buahan ada di sekitar rumah tersebut. Dari Nanas, pisang, rambutan, mangga, rambutan hutan, durian juga sayur-sayuran yang banyak ditemui.

Awalnya saya mengira Mak Cik Janah masih seorang Warga Negara Indonesia (WNI) ternyata, sejak tahun lalu ia sudah menjadi warga negara Malaysia dan sudah memegang IC (Identity Card) biru dan tahun ini dibolehkan ikut mengundi dalam pilihan raya ke 13. Jadi, bulan lalu ketika Mak Cik Janah barengan dengan majikan saya beserta rombongan persatuan Minang ke Jakarta untuk jalan-jalan beliau jadi pengunjung. Yah, pengunjung di "bekas" negara sendiri. Entah apa rasanya....

Waktu Mak Cik Janah ke Jakarta, saya masih berada di Indonesia jadi sempat singgah ke hotel dan menginap di sana selama dua malam.

"Mak Cik pernah ke Jakarta?" 

"Sama sekali nggak pernah, ini pertama kalinya Mak Cik ke sini." Jawabnya

Ya, itulah Mak Cik Janah, tak pernah berkunjung ke ibu kota. Sekalinya berkunjung ke ibu kota ia telah menjadi warga negara asing. Mak Cik Janah, hanya satu dari sekian banyak orang WNI yang berada di Malaysia kemudian menentukan pilihan untuk pindah kewarganegraan. Tentunya bukan hal mudah ketika membuat pilihan tersebut.

"Kenapa Mak Cik pindah warga negara?" Tanya saya ketika kami sedang berbincang.

"Sebab cari uang di sini lebih mudah," katanya tersenyum sumringah. "Mak Cik nggak tahu harus ngapain kalau pulang ke kampung halaman." Ujarnya lagi menambahkan.

Ah, retorika anak bangsa ketika hidup di luar negara begitu lama dan tak tahu harus berbuat apa ketika pulang ke negaranya sendiri. Eh, ini saya diminta nulis sekitar rumahmu, tapi kok nulisnya di sekitar rumah majikan saya, ya? Lak abis gimana wong sayanya tinggal di rumah majikan. Dan semoga, semoga kedatangan saya kali ini benar-benar untuk mematikan permit kerja saja kemudian pulang, jadi saya bisa menuliskan tentang sekitar rumah saya  Aamiin :D

 Bersebrangan jalan rumah majikan saya dan rumah Mak Cik Janah


Penampakan rumah Mak Cik Janah

26 komentar:

  1. Ironis sekali ya El, jauh-jauh ke Jakarta bukan dari kampung halamannya melainkan dari kampung di seberang negeri dan sudah menyandang status WNA pula. Padahal kampungnya cuma terpisah laut di Sumatera. Bayangan saya lalu pada mereka yang di Indonesia Timur. Mereka pasti sangat amat banyak yang belum pernah menginjak ibu kota negara. Apakah kisah mak cik Jannah akan terulang pada mereka???

    BalasHapus
  2. Wahhh... sedih ya bisa pindah kewarganegaraan hanya karena mudahnya cari kerjaan... harusnya pemerintah terbuka matanya untuk memperbanyak lapangan kerja dan mempermudah penerimaan tenaga kerjanya, kalau ribet yah begini, merantau ke negeri orang.... lebih sadis, jadi warga negara sana....

    Btw smg Mbak Anaz bisa pulang ke Indonesia.... jangan ikut2an sama Mak Cik Janah...

    BalasHapus
  3. melu pindah wae naz nek luwih penak nengkono...
    jolali nek pas muleh nggowo monyet yo...

    BalasHapus
  4. aku beberapa kali berkunjung ke Malaysia karena kebetulan suamiku ada pekerjaan disana jadi bolak balik ke sana. Aku suka dengan malaysia, lebih tertib, teratur dan terjamin kesejahteraan penduduknya. Jangankan orang2 seperti Mak Cik Jannah, temanku yang orang Aceh dan bekerja di Jakarta, sudah berencana jika pensiun nanti, dia ingin menghabiskan masa tuanya di Malaysia. Itu sebabnya dia menabung sebagai syarat untuk mendapatkan kartu khusus untuk mereka yang ingin jadi warga negama malaysia.

    BalasHapus
  5. tak pinjemin sekitar rumahku mau ngga Mbak Anaz??? :D

    BalasHapus
  6. Wow pengalaman yang luar biasa ya Naz (eh boleh saya panggil Anaz ya? Usia saya kayaknya jau lebih tua dari Anaz kan? hehehe).

    Alasan itu sering jadi alasan pindah kewarganegaraan wong bagaimana lagi, orang hidup kan butuh duit ya :)

    Anaz kapan balik ke kampung sendiri? Tertarik pindah kewarganegaraan gak?

    BalasHapus
  7. wah, asyik ya banyak pengalaman tinggal di negara lain :-)

    BalasHapus
  8. Bagus banget halaman rumah Mak Cik Janah nya yah :D

    BalasHapus
  9. Aku baru sekali ke malaysia, waktu itu ke kl n genting..tapi aku ngeri ke malaysia lg hihihi..ngeri ama polisinya..

    BalasHapus
  10. tersentuh, mbak. ngrasain hidup jauh dari rumah sendiri juga, :'(

    BalasHapus
  11. sama2 merasakan hidup jauh dari kampung halaman, mbak. terenyuh, :'(

    BalasHapus
  12. Sebelumnya salam kenal, Mbak Naz..
    Membaca tulisan Mbak Naz tentang Mak Cik Jannah yang berpindah kewarganegaraan ya memang sebuah dilema ya. Kecintaan kita pada negara Indonesia harus dikesampingkan demi tuntutan kehidupan.

    Btw, rumah Mak Cik Jannah sangat asri ya.. Teduh dan sejuk pastinya.. :)

    BalasHapus
  13. hidup itu pilihan kan kakak... termasuk memilih kewarganegaraan. lagipula harus realistis terhadap hidup itu sendiri... tapi tetap ada yang bolong di ulu hati saat membaca tulisan ini... hhhhh :)

    BalasHapus
  14. hebat... salut... :D salam kenal yaa...

    BalasHapus
  15. Hmm, banyak Cik Jannah, Cik Jannah yang lain. ternyata hujan emas dinegeri org memang lbh enak daripada hujan batu di negri sdri. sakit bo

    BalasHapus
  16. sudah 7 tahun bisa bikin paspor malaysia dong..

    BalasHapus
  17. Itu pilihan mak cik Jannah :)
    rumah mak cik itu cantik yah, asri banget.

    BalasHapus
  18. Kisah ini mirip seperti film yang pernah diputar di bioskop tanah air yang berjudul "Tanah Surga... katanya". Ya, jangankan pindah warga negara, demi uang ada yang tega menjual agama, harga diri, dan membunuh sesama kok.

    BalasHapus
  19. hai Anaz, akhirnya saya mampir di sini hihihi :D sepakat dengan yang lain, asri banget tuh rumah mak cik Jannah :D

    BalasHapus
  20. ternyata materi tetep bisa mengesampingkan cinta tanah air yah. e tapi yah namanya juga hidup kan pilihan yah, kalau ada yg lebih baik, giman dong ? :D

    BalasHapus
  21. Sedih dengar ceritanya mbak, lagi2 masalah uang yang menggadaikan kewarganegaraan eh menjualnya malah ya

    BalasHapus
  22. Sereem yaa.. :(
    Kok media massa sibuk mengangkat kasus yang itu-itu aja sih.. kasus perpindahan kewarganegaraan seperti ini tak pernah diangkat.. bisa jadi selama ini kita telah kehilangan banyak SDM WNI.. Padahal pemerintah kita suka tidur.. kalau ga "ditabok" media ga bangun :(
    Saya share ya.. semoga bermanfaat..

    BalasHapus
  23. Miris baca tulisannya, lagi-lagi Indonesia seperti tak punya daya upaya mempertahankan dan mensejahterakannya masyarakatnya T_T

    BalasHapus
  24. Wahh.. aku juga tinggal di Malaysia. Sempet tinggal di kajang sejak kuliah di UKM dari tahun 2010. Sekarang aku tinggal di damansara. salam kenal mak. :)

    Untuk case seperti ini, sebenernya banyak banget di alami oleh para pekerja yang ada di Malaysia. Ironi memang. Tapi bagaimanapun juga, itu pilihan hidup mereka.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P