Kambing Kurban Dibawa Maling

Kampung halaman saya di belakang sawah-sawah di atas (foto dokumentasi Mbak Sri)

Saya, sampai setua ini belum pernah berkurban :( khutbah tadi pagi ketika selesai shalat iedul adha membuat saya berpikir. Kalimat dari bilal khutbah, "Kita mampu membeli seperangkat home teathre dan gadget yang harganya mencapai jutaan, tapi untuk berkurban sebagian dari kita belum mau dan selalu merasa keberatan" lebih kurang, seperti itulah kalimat bilal iedul adha. Sontak kalimat tersebut menyentil hati nurani saya. Semoga tahun depan saya mampu dan mau untuk berkorban. In Sha Allah, aamiin....

Ngomong-ngomong kurban, saya jadi inget teman. Teman yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri (entah beliau mau menganggap saya atau tidak :/) Sebutlah teman dekat saya ini Mbak Nia. Beliau ini, murah hati. Melihat aktivitas saya yang sering mengunjungi tempat-tempat terpencil (meski nggak sering-sering amat) mengetuk hatinya untuk juga membantu tempat tersebut.

Bulan lalu Mbak Nia menghubungi saya via inbox FB, katanya pengen kurban ke Pulau Tegal. Saya berkoordinasi dengan Mas Paeng, salah satu teman di Lampung yang kerap berkomunikasi dengan Pak RT serta Pak Nur di Pulau Tegal. Tapi karena Pak RTnya belum pulang kampung karena beliau sedang membuat kapal di pulau lain, akhirnya kurban ke pulau Tegal batal.

Sementara waktu semakin pendek mendekati hari H iedul adha. Mbak Nia mulai bingung ke mana ia akan berkorban. Karena kebiasaan Mbak Nia kurbannya tidak di lingkungannya. 

"Atau punya wacana tempat lain? Galau udah mepet bingung nyari tempat," tulis Mbak Nia suatu hari melalui inbox FB. Pesan tersebut dikirim pada tanggal 8 oktober.

"Di kampungku, Mbak. Kadang juga gak ada yang kurban sama sekali." tulis saya mengusulkan.

"Serius????? Bukankah gubernur dan trahnya kaya raya?" Mbak Ni sepertinya terkejut. Ia menganggap kampung yang saya sebut adalah Serang.

"Lah, kampungku. Pemalang." Pemalang adalah kota kelahiran saya. jauh, sih, sebenernya dari Pemalang kota. Lah saya di desanya, ndesit euiiiii :)

"Ealahhhh.... Kirain Serang xixixix"

Dan tanpa pikir panjang, Mbak Nia menyetujui usul saya untuk berkorban di kampung kelahiran di Pemalang Jawa Tengah sana. Saya berhubung dengan sepupu yang berada di kampung halaman. Rupanya memang iya tak ada yang kurban, sepupu juga langsung survey harga kambing. Saya sampaikan lagi kepada Mbak Nia dan ia lagi-lagi tak keberatan. 

Menurut sepupu, harga kambing sudah semakin mahal karena waktunya mepet. Rata-rata seharga dua juta perekor. Tak lama saya sampaikan kepada Mbak Nia, dan setelahnya Mbak Nia mentransfer uang dua juta ke rekening sepupu saya. Rupanya, kambing di kampung sudah habis dibawa ke Jakarta. mencarilah sepupu saya ke kampung tetangga. Alhamdulilah dapat, tapi menthok dengan harga 2,1 juta. Katanya, kambingnya besar tingginya mencapai pinggang sepupu (sepupu saya gede tinggi orangnya). 

Dengan rasa tak enak hati, saya kembali melaporkan kepada Mbak Nia kalau harga kambing 2,1 juta. Tapi Mbak Nia ini masih dengan kemurahan hatinya, ia tak protes dan kembali mengirimkan sisa uang. Kabar Mbak Nia mengirim sisa uang saya terima hari Senin 14 oktober. Alhamdulilah, terimakasih, Mbak Nia.

Senin sore kemarin, sepulang dari kantor kakak saya di Serang whatsapp bertubi-tubi. Ia bercerita kalau kambing untuk kurban sempat hilang. Membaca ceritanya, jantung saya deg-degan, kaki juga lemas bahkan ketika kakak menyudahi cerita, saya menangis. Ya, menangis. Ceritanya sungguh di luar nalar.

Kambing yang sudah dibeli diletakan di rumah Wak Wasir, Wak Wasir ini punya kambing jantan juga. Senin pagi, Wak Wasir heboh, ia kehilangan kambingnya. Tak hanya kambingnya yang hilang, tapi juga kambing yang untuk kurban. Pagi itu, semuanya heboh dan kecoh. Sepupu saya langsung pergi ke kampung atas, bertanya kepada banyak orang tapi tak ada satu pun yang melihatnya. Dari situ sepupu saya langsung menuju ke pasar Moga bersama dengan Dika, anaknya Wak Wasir. Ia mengelilingi semua penjual daging kambing mencari kambing yang dibelinya sehari lalu. Hasilnya tetap nihil.

Saat berkeliling mencari kambing, sepupu saya ditelpon oleh temannya kalau kambing yang hilang sudah ditemukan. Duh, pas kakak cerita sampai di sini perasaan saya legaaaaa.... Dan, tahukah kambing itu ada di mana?

Yang pertama kali melihat kambing tersebut cucunya Wak Wasir, disangkanya orang yang sedang sembunyi memakai sarung karena warna kambingnya hitam pekat. Rupanya itu adalah kambing yang dibeli oleh sepupu saya untuk kurban. Katanya, maling batal membawa kambing kurban karena talinya terlepas. Tali lehernya tidak kencang diikatnya. Dan ketika ditemukan, kambing kurban sedang memakan rumput dengan lahapnya.

Subhanallah.... Beneran, saya terharu banget diceritain kasus kambing kurban ilang ini. Kambingnya Wak Wasir juga alhamdulilah tidak jadi dibawa maling. Di kampung saya sekarang memang lagi musim maling katanya. Masya Allah... huhuhuhu... Alhamdulilah, Allah masih melindungi semuanya :((

Buat Mbak Nia, terimakasih banyak atas kepeduliannya kurban di kampung saya. Mohon doakan saya, supaya tahun depan bisa kurban seperti Mbak Nia. Dan kurban Mbak Nia kali ini tentunya berbeda dengan kurban-kurban sebelumnya.  Gagal ke Pulau Tegal, dipindah ke kampung saya cobaannya justru lebih berat lagi. Semoga rezeki Mbak Nia semakin barokah sehingga banyak tangan yang dibantu. Aamiin....

Selamat hari raya kurban 1434 H
Mari memaknai arti sebenar kurban.


13 komentar:

  1. Kalo mo berbuat baik itu memang susah ya mbak, tapi klo mo bikin dosa, malah cepet banget :D

    BalasHapus
  2. hehehe kalau Serang lagi hangat2nya ya mbak kasusnya

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah...kambingnya nggak jadi hilang :)

    Banyak maling, mungkin karena apa2 mahal kali ya ?

    BalasHapus
  4. Yang saya heran dan bikin penasaran adalah, kok yakin bisa nemuin lagi misalnya itu kambing tau2 ada di pasar? Bukannya kambing hampir sama semua bentuk dan penampakannya? Xixixixi ... ups maaf, ini benar2 menggelikan dan salut aja sih. klo saya yg mengalami, paling langsung menyerah, kecuali sebelumnya si kambing sudah saya kasi tanda permanen misalnya tanduknya dikasi boardmarker anti air hahahaha ...

    gara2 ini, jgn2 taon depan anaz qurban, terus kambingnya dikekeping deh di kamar xixixixi

    BalasHapus
  5. untung ketemu :) kalau hilang beneran mungkin akan dianggap sedekah.

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah ketemu.. Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi.
    Kalau di komlek saya, malam diul adha ronda di perketat, mencegah terjadi hal-hal yang tak di inginkan seperti di atas..

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah, kambingnya bisa ditemukan lagi, Allah telah melindungi semuanya dengan menjaga niat yang berkurban untuk tetap berbaik sangka.

    Untuk bisa kurban tahun depan, bisa dengan cara menabung secara konsisten tiap hari ke dalam celengan khusus, misalnya 5 ribu rupiah per hari.

    BalasHapus
  8. ikut deg2n juga bacanya,alhamdulillah ketemu ya mbk....semoga tahun depan bisa qurban kambing/sapi aminnnn

    BalasHapus
  9. Ya Ampuuun, koq ada yang punya niat jelek di hari lebaran ya, Mba. Eh, ikut qurban gabungan saja, Mba. Sapi satu untuk 7 orang. Nabuung2. .. :D

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah,,,kambingnya ketemu... Ehya mbak, itu gunung apa ya? Berarti kampung halaman mbak di kaki gunung ya? Sweeeetttttttt :)

    BalasHapus
  11. Syukurlah akhirnya ketemu juga. Memang susah susah gampang kalau sudah berurusan dengan pengelolaan Daging Kurban.

    BalasHapus
  12. Wah, ada juga ya yang mau maling kambing qurban, innalillahi

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P