Kopi, Seharga Jatah Makan Sehari


Kami tertawa ketika dua gelas minuman sudah terhidang di atas meja. Dua gelas minuman panas dan dingin diletakan tak jauh dari roti yang sudah tergeletak sebelumnya. Bon belanjaan juga terserak di antaranya. Saya meraih gelas kopi panas, mengambil dua bungkus jenis gula, membukanya kemudian menuangkannya ke dalam kopi. Setelah diaduk perlahan, saya coba mencicipinya. Pahit! Tak lama saya kembali membuka bungkusan gula satu lagi, menuang dan mengaduknya. Dan rasanya masih sama, pahit. Ah, mungkin lidah saya yang tak terbiasa meminumnya, kopi yang saya minum sore itu rasa pahitnya lebih keras berbanding kopi yang biasa saya minum sebelum-sebelumnya.

Dari buku ini ke secangkir kopi

Berawal dari buku kumpulan ceritanya Dee dengan judul Madre, mendadak saya ingin menikmati roti. Ya, roti. Minggu, 27 oktober saya masih berada di kamar seorang teman, Kak Ria setelah sehari sebelumnya kami berkeliling datang ke beberapa acara. Menghabiskan waktu, saya lebih banyak di kamar dengan membaca buku. Setelah khatam dengan bukunya Tere Liye, saya meraih buku kumpulan cerpennya Dee milik Kak Ria.

Madre, yang mengisahkan tentang inti adonan roti. Membaca detail isi cerita tiba-tiba saya ingin menikmati roti. Membayangkan wangi roti yang menguar saat dibakar, mendadak perut saya lapar. Dan akhirnya saya dan Kak Ria sepakat mencari kedai roti. Dalam benak saya, membayangkan bread talk yang masih hangat(bukan promosi berbayar) :D 

Dari rumah Kak Ria (Lubang Buaya) menaiki sepeda motor kami berangkat menuju ke Tamini. Tapi karena macet, Kak Ria membelokan sepeda motor ke arah yang lain. Kata Kak Ria, ke dekat Tamini saja.

Setelah memarkir motor, kami berjalan menuju sebuah kedai roti. Kedai roti yang akan kami datangi cukup terkenal, ia banyak memiliki cabang di mall-mall besar di Indonesia. Tak hanya roti ada di situ, juga tersedia beberapa jenis minuman baik yang panas maupun dingin. Sebelum masuk, Kak Ria berujar kepada saya.

"Saya belum pernah makan di tempat ini lho, Kak."

Saya juga sama dan sambil bercerita serta tertawa-tawa kami memasuki kedai. Deretan roti berjejer rapi, bermacam-macam rasa tersedia. Saya mengambil roti bertabur daging, sementara Kak Ria mengambil roti coklat. Selesai membuat pembayaran, kami beranjak memesan minuman. Melihat jenis minuman yang tersedia, saya memilih kopi, sementara Kak Ria memesan minuman dingin. Entah apa namanya saya juga tidak tahu. Tak ada harga tertera di situ, setelah kasir selesai menghitung harga, dua minuman itu seharga Rp. 69.000.

Roti pilihan Kak Ria

Sebetulnya, ketika mendengar harga tersebut Saya kaget bahahahaha, tapi wajah saya dibuat sekalem mungkin. Kak Ria menyodorkan uang 50 ribuan, pun dengan saya (tapi kembaliannya untuk saya semua :D). Setelahnya kami beranjak ke depan, nongkrong di situ sambil berbincang-bincang dan menunggu minuman selesai diantarkan. Yang ternyata bukan diantar, tapi diambil sendiri buehehehe (katrok lagi saya) pikir saya, udah mahal kok malah diambil sendiri :D :P



Ketika Kak Ria mengambil kopi, terbersit persoalan di hati sendiri. Harga segelas kopi Rp. 30.000 itu sama dengan jatah makan sehari-hari saya setiap hari sebagai anak kos. Setelah Kak Ria sampai dengan baki dengan dua gelas minuman, kami betul-betul tertawa. Mentertawakan ketidaktahuan kami yang dijadikan pengalaman. 

"Ada kalanya, kita harus membayar mahal untuk sebuah pengalaman," kak Ria mengucapkan kalimat tersebut. "Gimana orang-orang yang gajinya lebih kecil, tentunya tak pernah bermimpi untuk membeli kopi semahal ini."

Saya tak menyesal makan roti dan menikmati segelas kopi dengan harga jatah makan sehari. Tapi tentu saja saya tak ingin mengulangi lagi atau sengaja nongkrong di kedai roti dan meminum kopi segelas dengan harga jatah makan sehari. Tak mengapa dibilang katro, tapi kalau ada yang mau nraktir hayo :D :P




27 komentar:

  1. hahahahah :D iya, mba anaz. kalo mahal aku aja kaget. maunya nikmati kopinya malah jadi ga nikmat xD

    BalasHapus
  2. hihihi...wis larang, pahit pulak ya Naz :))

    BalasHapus
  3. pengalaman juga buat saya setelahnya membaca pengalamanya mbak Anaz, rasanya gimana gitu kok gak di ceritain heheee... kopi ya kopi, masa bandrek *mikir :D

    BalasHapus
  4. selamat ya udah nyobain kopi seharga jatah makan sehari. hheheeh.
    anyway, rotinya bikin ngiler :)

    BalasHapus
  5. hehe ... harga sebuah pengalaman memang lebih mahal ketimbang secangkir kopi pahit, Na. Btw madre emang keren, wangi rotinya nyampe kesini. Apakabar, Na?

    BalasHapus
  6. Sama aja kita ya Naz hahahahhhaaaa..... Kalau di cafe aku mending pesen jus atau apalah yg gak bisa kubuat dirumah. Kalau kopi sih sudah puas dengan yg sachetan dirumah. Heheheee

    BalasHapus
  7. Mahal amat yak?
    Benar sih ... anggap saja itu bayaran untuk sebuah pelajaran :)

    BalasHapus
  8. wkwkwkwkwk... itu pernah sy alami di Pelangi Mak.. untungnya ada harganya, dan whatzz.. 1 cangkir kopi seharga 47.000... kalo sy iseng, sy akan beli kopi itu dan akan internetan disana selama 8 jam :)

    BalasHapus
  9. wah Anaz abbis belajar di Kedai Roti uyy, sedaapp ...hehehe

    BalasHapus
  10. Hehe mahal banget ya Mak. Di kota asal saya juga ada coffee shop (ya lebih ke tempat untuk hang out) yang harga segelasnya puluhan ribu. Kalau untuk saya yang minum kopi instan saja cukup, kopi harga segitu rasanya eman-eman hi hi.

    BalasHapus
  11. buat beli bakso mengenyangkan ya mbak hehehe

    BalasHapus
  12. hehe.. aku gak pernah beli kopi itu mbak, selain ga suka kopi juga ga suka harganya :D

    BalasHapus
  13. Iya kak Anaz, dan kopi termahal yang pernah saya beli dgn alasan membeli pengalaman itu tadi adalah seharga 100k / cangkir keciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil... katanya sih kopi luwak.
    cukup 1x seumur hidup wkwkwkwk
    tapi itu sekarang. dulu rasanya enteng2 aja mengeluarkan uang ketika jajan di tempat2 spt starbak dan sejenisnya. untungnya itu semua bermasa-masa, dan sekarang masa seperti itu sudah berubah hehehe

    jadi, kapan traktir saya ngopi2? :D

    BalasHapus
  14. Cafenya berlogo perempuan dalam lingkaran, warna hijau, rambutnya ikal panjang tergerai :D

    BalasHapus
  15. Lebih tepatnya harga mahal untuk sebuah bahan tulisan Mbak, hehehhee... :-)

    BalasHapus
  16. wahahahahaha....*catetttttttttttttt* siapa tau suami ngajak belok kesitu xixixixixi...tapi sekali2 juga boleh kan ya,apalge kl ditraktir *ga nolakkkkk :P

    BalasHapus
  17. tuan rumahnya malah gak jaga lapak nih.. :D

    BalasHapus
  18. Harga kopinya mahal karena kebanyakan yang dateng cuma untuk nikmati wifi gratisa dan prestise gimana gitu. Hehe

    BalasHapus
  19. Besok beli kopine ke aku wae, naz
    Tak kasih diskon deh

    Itu kan Ria kakaknya Susan ya..?

    BalasHapus
  20. ihiy pengalaman, next time mungkin tanya2 dulu yan mbak anaz sebelum beli makanan yang "kira2" mahal dan gak pasang harga :p

    BalasHapus
  21. kopi memang mahal...kalau yg murah bukan kopi namanya :)
    #pedagangkopi

    BalasHapus
  22. hmmm mantap tuh, kalo di gratisin aku juga mau :-P

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P