Merindukan Om Christ

Saya meletakan Burlian nya Tere Liye yang belum selesai dibaca. Mata berkaca-kaca pada beberapa kalimat yang tertera. Saat membacanya pada bab ke 3  Menanam Masa Depan, ada sebuah kalimat yang membuat saya sedikit terusik "Sekolah itu seperti menanam pohon, Burlian, Pukat." Bapak tersenyum.
Saya seperti pernah mendengar kalimat tersebut entah beberapa tahun yang lalu. Ya, sepertinya belasan tahun yang lalu. Tak serupa kalimatnya, tapi sama maknanya.

"Ana tahu, gak, sekolah itu seperti mengumpulkan emas sedikit demi sedikit dari atas bukit. Sekarang Ana tidak merasakannya, tapi kelak ketika Ana sudah dewasa akan tahu manfaatnya."
Kalimat di atas diucapkan oleh Om Benny majikan saya ketika saya masih kelas 1 Mts (setara SMP) saat itu usia saya 15 tahun. Sungguh terlambat untuk usia kebanyakan ketika aku baru duduk di kelas 1, sedang yang lain, yang sebaya denganku sudah duduk di bangku kelas 3 SMP bahkan sudah ada yang kelas 1 SMA.

Tidak, tidak. Saya tak pernah tinggal kelas, bukan juga saya siswa yang lembab tak pandai tulis baca. Tapi selepas lulus Sekolah Dasar (SD) saya tak meneruskan sekolah, tapi langsung bekerja.
Allah mentakdirkan saya bertemu dengan Om Benny, Om Davy dan Om Christ. Usia saya 15 tahun saat itu. Bersama dengan kakak, kami bahu membahu bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah di mana mereka bertiga tinggal. Ketiga-tiganya bekerja di satu tempat yang sama PT Cabot Indonesia.

Pagi hari, sebelum berangkat sekolah saya membantu Kakak beres-beres, nyapu Juga ngepel. Sekitar jam tujuh pagi saya akan berangkat sekolah. Sepeninggal kami semua pagi-pagi, tinggallah kakak seorang diri. Dialah yang akan meneruskan pekerjaan rumah, cuci baju, nyetrika dan beres-beres lainnya.
Siangnya selesai pulang sekolah, saya istirahat sampai sore. Barulah menjelang sore saya meneruskan pekerjaan memasak. Kakak biasanya nyapu halaman depan, bakar sampah sama bantu-bantu masak *kadang2 :D

Kembali ke alam sekolah, sebetulnya saya ndhableg setengah hidup. Berkali-kali dan berulang kali saya merajuk dengan Om Christ, minta berhenti sekolah. Biasanya ketika saya mengutarakan niat berhenti sekolah Om Christ dengan santainya akan bertanya, "Emang kenapa Ana mau berhenti?" Pertanyaan sederhana itu berhenti tanpa ada jawaban.

Atau pernah suatu pagi dengan malasnya saya izin kepada Om Christ, "Om, Ana nggak masuk, ya, hari ini?"

"Iya."

Singkat saja jawabannya Om Christ, tapi jawaban sesingkat itu membuat saya terdiam cukup lama dan mengubah pikiran untuk tetap melanjutkan sekolah. Dan mulai hari itu, dengan berbagai stimulasi Om Christ memberikan banyak semangat serta pengajaran ke saya. Sekolah dan belajar tetap menduduki tingkat pertama. Dan alhamdulilah akhirnya saya lulus Aliyah. Sesederhana itu, tapi ia membekas sangat lama dan tak akan terlupa.

Dibanding kakak yang tak begitu lama tinggal dengan Om Christ, saya menghabiskan waktu hampir lima tahun ikut dengannya. Om Christ, jarang sekali memarahi saya. Ia mendidik saya dengan caranya, ia memberikan kebebasan kepada saya sepenuhnya. Ah, malam ini dan sejak tadi saya mengingatnya.
Saya baru ingat kalau Om Christ lahir tepat pada 25 Desember. Selamat hari lahir, Om. Berkah usia berkah hidup.


14 komentar:

  1. om chris masih adakah mbk???bener2 sayang banget ya sm mbk anaz ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah, Om Christ masih panjang umur.

      Tadi pagi OL dari hape, jadi nggak diupload fotonya
      Ini mau ditambahin foto, Mbak :)

      Hapus
  2. Saya sempat terkecoh dengan Judulnya
    Makum saat ini kan momenya NATAL :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe :)
      Pas kebetulan Om Christ juga lahir bulan Desember

      Hapus
  3. Foto diatas, foto keluarganya mba?
    PT. Cabot.... saya jadi ingat, pernah ke perusahaan itu ketika saya SMA. Disitu saya bermain degung (lupa dlm rangka apa). Group degung kami berkenalan dengan yg namanya Mr. Cristopher.

    BalasHapus
  4. saya kira ini cuma fiksi mbak, ternyata ini beneran?? sekolah di usia 15 tahun.. benar2 luar biasa ..

    BalasHapus
  5. Salam buat Om Christ.. sepertinysa saya juga harus berguru kepadanya.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga m Christ baca ini

      Eh, aku kirim dulu linknya :)

      Hapus
  6. Semakin kagum saya pada anda, apalagi dengan dunia blogger yang anda jalani bermanfaat untuk mereka yang sangat membutuhkan ilmu, semoga hibah sejuta buku blogger indonesia sukses dan mencerdaskan anak bangsa Indonesia.

    BalasHapus
  7. jelas itu tidak sederhana, tapi luar biasa, om christ jempolan
    :D

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P