Bekasi itu Hanya Selemparan Batu Dari Jakarta


Sebelumnya, saya sempat beberapa kali berkunjung ke kota Bekasi. Awal mula, sepertinya saat @HibahBuku diundang oleh komunitas Indonesia Berkibar yang mengadakan acara di SDN mana entah saya juga lupa. Sekali-kalinya itu saya berkunjung ke Bekasi. Tapi, setelah bekerja di Layanan Kesehatan Cuma (LKC) Dompet Dhuafa saya kerap kali berkunjung ke sana untuk beberapa acara. Seperti Ramadhan tahun lalu, saya juga sempat beberapa kali mengunjungi beberapa pesantren di wilayah Bekasi untuk event Ramadhan Santri Sehat (Sanset)

Minggu lalu, saya kembali mengunjungi Bekasi. Tidak seperti biasanya, perjalanan kali itu lebih lama. Kalau biasanya hanya dua jam, ini hampir empat jam perjalanan dari Ciputat menuju Bekasi belum sampai juga. Rabu, 22 Januari kami berlima dari kantor mengunjungi Desa Lenggah Sari Kampung Cabang 2, Cabang Bungin untuk menyalurkan bantuan dari donatur yang diamanahkan ke kantor kami. Entah itu masuk ke Bekasi mana, saya juga kurang paham. Saya kira, itu sudah masuk daerah luar Bekasi. Ternyata, setelah bertanya-tanya itu masih di Bekasi.

Setelah nyasar juga ke daerah yang lumayan jauh, alhamdulilah kami sampai juga di daerah yang kering tanpa ada genangan air. Sampai di situ, kami disambut warga. Ada yang baru turun dari perahu, ada juga yang sudah menunggu di situ.

"Kampungnya di sana, Neng. Tuh, dari sini kelihatan." ujar seorang bapak-bapak yang baru turun dari perahu kecil sambil menunjukan sebuah tempat yang tak terlihat oleh saya karena tak memakai kaca mata. Saya tertegun memperhatikan sekitar. Sejauh mata memandang, hanya bentangan air yang terlihat. Saya mengira, ini sebuah lautan atau paling tidak sebuah danau.

"Ini sawah, Mbak Anaz" Rika, salah seorang teman menjawab pertanyaan saya.

Tak menunggu lama, barang-barang segera dipindahkan dari mobil ke perahu kecil. Warga menyarankan supaya tidak terlalu banyak orang di dalam kapal. Barang-barang yang dimasukan pun tidak begitu banyak. Jadilah kami yang lima orang dan setumpuk barang-barang diangkut beberapa kali menggunakan perahu kecil. 

Naik saja ke perahu, jantung saya berdetak lebih kencang. Iya, saya deg-degan. Padahal sudah terbiasa menaiki perahu kecil di Pulau Tegal. Ah, tapi ini bukan Pulau Tegal, ini bukan di laut lepas. Perahu kecil berjalan perlahan, dua orang warga mendorong sampai ke tengah, sampai ke tengah mereka naik ke perahu dan menghidupkan mesin. Laju perahu semakin kencang, tempias air berwarna coklat mengenai kamera juga masuk ke dalam perahu. Dua warga yang mengantar kami tak segan bercerita tanpa kami minta.

"Di bawah ini sawah, Neng. Kerugian bukan lagi ratusan juta. Tapi milyaran." kata bapak yang duduknya lebih dekat dengan saya.

"Padinya udah tinggi, Pak?"

"Baru disemai, Neng."

Saya dan Rika saling pandang. Seluas-luas tempat yang kami lihat adalah hamparan air berwarna coklat. Sama sekali tak terbayang kalau di bawah air ini adalah sawah. Dan masih menurut bapak yang mengantar kami, dari ujung ke ujung yang terlihat itu semuanya sawah.

Dan sampailah kami di perkampungan, kampung yang penuh dengan air dan mari kita lihat gambar-gambar saja...

Perahu yang baru sampai

Warga bergotong royong meletakan barang bawaan kami



Ini bukan lautan :(




Sejak awal, komitmen kami memang mengantarkan dari rumah ke rumah. Meski ini lebih repot, tapi alhamdulilah warga sangat membantu kami. Mereka bergotong royong mengantarkan kami. Awalnya, saya berjalan kaki mengikuti perahu, sementara Rika berada di atas perahu. Sedangkan Mas Oing, Mas Andi dan Pak Yusuf berjalan mengkuti warga (meski akhirnya pada nyerah juga naik perahu) :D sama kayak saya yang akhirnya nyerah juga naik perahu karena nggak tahu medan, bawa kamera pula. Rawan terperosok ke got dan sungai-sungai kecil yang kami nggak tahu.


 Ini di Bekasi  ya, Bekasi yang hanya selemparan batu dari Jakarta. Tapi.... Ah, entahlah angkat bahu saya melihatnya :(




Anak-anak itutak mengenal duka




Menurut warga, banjir tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya. Konon, bantuan dari pemda setempat masih sangat minim. Baru beberapa dari caleg dan salah satu bank yang sudah memberikan bantuan. Sayangnya, bantuan dari salah satu bank tersebut pun dipangkas entah oleh siapa. Dalam keterangan gambar, paket bantuan yang diberikan itu berisi minyak goreng, beras, mie instant dan beberapa lainnya. Sayangnya, yang sampai ke warga hanya keping-keping indomie beberapa biji. Ini curhat warga yang saya temui. Ini adalah penyakit bencana yang paling parah, menimbun hak korban banjir untuk disimpan bahkan diperjual belikan. Innalillahi... Wallahua'lam.

20 komentar:

  1. Innalillahi,,,ngeri banget ya mbk,semoga air segera surut

    BalasHapus
  2. Wiiii ngeri sampai segitu, :(
    Tinggi atau rendah yang namanya banjir emang gak enak. Yang paling terasa itu makan dan buang air... gak bisa masak gak ada air bersih, orang jualpun gak ada, dan yang paling rawan memang diare, kamar mandi terendam kadang juga ga bisa disiram, duh serba gak enak pokoknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Nunu. Nggak bisa bayangin ini semua. Semoga mereka diberi kesabaran. Aamiin...

      Hapus
  3. ke bekasi gak mampir mbak ke rumahku yang kebanjiran juga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, nggak tahu tempatnya, Mbak. Dan ini bagian dari kerjaan ;)

      Hapus
  4. Ya Allah, mudah mudahan cepet surut ya banjirnya.. :"(

    BalasHapus
  5. sedih baca yang bantuan dipangkas itu. saya sempat dengar gosip itu dari saudara yang tinggal di Banten, dan ternyata memang benar. Semoga lekas surut banjirnya :)

    BalasHapus
  6. Sayangnya, yang sampai ke warga hanya keping-keping indomie beberapa biji. Ini curhat warga yang saya temui

    BalasHapus
  7. ngeri melihat sawah menjadi lautan, bagaimana dengan mata pencaharian mereka? apa tindakan pemda yah?

    BalasHapus
  8. serem banget mbak... di Bekasi, tepatnya Taruma Jaya juga terkena banjir.. dan tentang bantuan itu, juga keterlaluan banget. kesannya, ngasih bantuan tapi nggak ikhlas gara-gara pencitraan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan pemberinya, tapi yang jadi koordinator nggak amanah :(
      Entahlah...

      Hapus
  9. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un, semoga siklus tahunan banjir ini segera berakhir.
    Negeri ini dikarunia pemimpin yang adil dan berorientasi solusi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Aamiin, Allahumma aamiin...
      Semoga demikian, Pak

      Hapus
  10. wahhh ngeri ya banjirnya... saya ikut prihatin nih... semoga cepat surut

    BalasHapus
  11. Saya sendiri belum pernah ke Bekasi. Bayangan saya, seluruh wilayah Bekasi adalah kota metropolitan seperti Jakarta. Ternyata biasa saja. :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P