Curug Cilember

Curug Cilember berada di kota Bogor, tepatnya berada di Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua 20 KM dari Bogor. Kepergian saya ke Curug Cilember akhir tahun lalu berawal dari iseng-iseng whtasapp malam-malam dengan Kak Ria. Iseng ngobrol piknik dan alam yang rindang, akhirnya kami malam itu juga mengambil keputusan Minggu 29 Desember piknik ke Curug Cilember. Saya buta arah sama sekali, sedang Kak Ria sibuk bertanya ini itu dengan Mbak Yani yang sudah pernah berkunjung ke sana.



Minggu pagi, sekitar jam enam saya berangkat dari kosan di Ciputat langsung menuju ke terminal Kampung Rambutan janjian dengan kak Ria. Ya, kita berdua saja menuju Curug Cilember di Bogor. Dari kampung Rambutan, kita naik bis Arga Mas jurusan Bogor. Sopirnya berbaik hati mengantarkan penumpang sampai ke Cisarua. Dari Cisarua kami naik angkot sekali lagi turun di pertigaan Cilember. Kalau busnya nggak turun di Cisarua, dari Baranangsiang bisa naik angkot langsung ke pertigaan Cilember. Bayarnya Rp. 10.000.

Sampai di pertigaan Cilember, kami langsung naik ojeg ke atas pintu masuk Curug. Mungkin karena libur sekolah, suasananya sangat ramai. Owh ya, Curug Cilember sendiri terbagi kepada tujuh bagian. Di mana curug tersebut memiliki tujuh tingkatan. Curug paling bawah sekali disebut curug tujuh, semakin ke atas semakin kecil nama curugnya sampai curug satu. Saya dengan Kak Ria hanya sampai di curug lima. Selain ditutup untuk ke curug lebih tinggi lagi, saya juga mengalami sedikit ketakutan melihat keadaan kak Ria yang mengalami aklimatisasi.

Aklimatisasi kalau kata wikipedia, merupakan suatu upaya penyesuaian fisiologis atau adaptasi dari suatu organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada kemampuan organisme untukdapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur metabolisme biokimia di dalam tubuhnya untuk menyesuaikannya dengan lingkungan. Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu lingkungan, derajat keasaman (pH), dan kadar oksigen. Proses penyesuaian ini berlangsung dalam waktu yang cukup bervariasi tergantung dari jauhnya perbedaan kondisi antara lingkungan baru yang akan dihadapi, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.

Jadi, pas kita lagi duduk istirahat menuju curug ke lima, tiba-tiba Kak Ria ngeluh pusing banget. Terus katanya berkunang-kunang juga. Saya beneran nervous dan nggak tahu mau ngapain. Kebayang, sih, kasih teh anget manis gitu. Tapi, kan nggak ada :(. Kak Ria minta minyak kayu putih, pas dikasih dan saya megang tangannya, masha Allah.... itu tangan dingin banget dan penuh dengan keringat. Semakin takutlah saya. mana kita cuma berdua aja. Orang, sih, banyak lalu lalang. Tapi nggak kenal :/ bayangan saya kalau ada hal buruk minta tolong aja ke mereka.

Tapi alhamdulilah, aklimatisasi Kak Ria tak berlangsung lama. Setelah istirahat sebentar dan makan sedikit makanan yang manis Kak Ria sudah baikan dan bisa melanjutkan kembali perjalanan. Melewati jalanan yang sedikit terjal, di kiri kanan jalan terdapat banyak pepohonan yang mengingatkan saya di masa kecil. Pakis, bebungaan liar, pohon andra (Ini serius aku nggak tahu nama latinnya juga nama Indonesia. Pokoknya dulu namanya pohon andra hehehe)

Sampai di curug lima, pegunjung pun ternyata banyak yang sedang bermandi manda. Meski tak sebanyak di curug tujuh, tapi tetap saja kurang nyaman untuk mengambil foto :( hiks, iya, yang penting itu kan ngambil fotonya :D :P

Kami nggak lama di situ, setelah berkeliling sekedar melihat-lihat kelatah lalu lalang orang kami duduk di bawah rerimbunan pohon pinus. Keadaan di Curug Cilember betul-betul mengingatkan saya akan kampung halaman. Pancuran air yang ada di situ, dulu ketika saya kecil di kampung digunakan untuk mandi, membasuh baju juga ngangsu.

Menjelang jam dua belas siang, kami turun ke bawah. Dalam perjalanan pulang, saya banyak bercerita dengan Kak Ria kalau segala sesuatu yang dilihat kali itu, dulu ketika kecil aku kerap menjalaninya. Kalau dulu semuanya bisa dilakukan gratis, dekat dan masih berada di kampung halaman sendiri, kini ketika sudah dewasa saya harus berlelah-lelah menuju ke kampung orang hanya untuk melihat hal yang serupa masa lalu. Eh, bukan nding, bukan untuk melihat hal serupa masa lalu. Tapi untuk piknik :)

Sesekali atau bahkan kerap kali kita memang harus piknik :) salam piknik :)

Curug tujuh, rame bangettttt

 Kak Ria ini sebelum jatuh terpusing-pusing apa setelah? :D :P

Selalu mencintai pinus baik pohon, daun dan bunganya :)


 Pancuran ini kayak di kampung halaman :)


 Curug lima

 Melewati jalanan ini, kalau hujan licin ini


Di bawah curug itu banyak tenda-tenda yang disewakan. Bisa buat camping :)

11 komentar:

  1. aarrkkkk mauuu kesituuu,dah 3 tahunan g mbolang ke air tenjun q mbk huhuhuhu....

    BalasHapus
  2. ahhh baca cilember tuh kaya pernah denger, dimanaaa gitu. oiya baru denger, ternyata suami siaga dan si abang ipar kemaren minggu lagi cerita2 mengenai pendakian gunung via cilember, mangkanya itu ada tenda2 yang disewain untuk pendaki gunung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ratuuuuuu :)

      Aihhhhh, ada tamu lama ini :)

      Hapus
  3. Wuiiih ngelihat foto-fotonya aja udah seger mbak :)

    BalasHapus
  4. kerenn... amazingg.. pingin kesitu tapi nggak tau lokasinya :(
    follback ya sob :)

    BalasHapus
  5. menyenangkan bisa jalan-jalan di suasana alam pegunungan yang sejuk dan indah

    BalasHapus
  6. Kereen ya mbaaa
    jadi pengen kesana juga hehe

    BalasHapus
  7. pernah ke sana sekali.... keren lah Cilember ^^

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P