Gaji Kamu Berapa, Naz?


Sumber gambar dari sini

Dulu, dulu waktu masih di Malaysia, saya sering emosi pake banget kalau ditanya "Gaji kamu berapa?" huehehehe... iya, suwer itu bikin saya gimana gitu. Saya selalu merahasiakan nominal gaji saya ketika ditanya. Tapi, lama kelamaan saya harus membiasakan diri bertemu dengan banyak orang dan ditanya soalan yang sama, "Gaji kamu berapa?" akhirnya saya menjadi biasa-biasa saja. Jadi gini, tadi malam itu tengah malam buta sekitar jam 12 malam lebih saya masih tergolek kesana kemari nggak bisa merem-merem. Trus mendadak ngobrol di whatsapp dengan Mbak Sumarti Saelan, a.k.a Mak Icoel kerend :) 

Ngobrol ngalor ngidul, ngetan ngulon. Ngomongin dunia blog awalnya sampai kemana-mana akhirnya. Mak Icoel itu menyangka saya blogger tajir yang banyak orderan karena saya dianggap lebih lama ngeblog. Buehehehe.... Saya mah ngeblog nothing to lose aja, mau ada orderan atau nggak kalau saya mau ngeblog ya, ngeblog. Dan saya nggak mau memaksakan ketika saya dilanda malas, yah sudah saya akan tinggalkan blog. Ya, itu saya.

Tiba-tiba Mbak Icoel nanya gini, "Eh, Naz, gimana rasanya setelah sekian tahun biasa bergaji tinggi di Malaysia, sekarang bergaji standar di sini?"

Hahahaha... Saya tertawa sendiri membaca pertanyaannya via whatsapp. Tapi saya malah mengirim emoticon. Saya bilang ke Mbak Icoel, salah besar kalau menganggap gaji saya besar ketika di Malaysia. Justru gaji sekarang saya lebih besar dengan yang di Malaysia. Iya, kalau diukur secara nominal memang lebih besar. 

"Salah besar, malah gedean gaji sekarang. Dulu gaji saya di Malaysia nggak sampai 1, 5 juta. Meski gaji sekarang yah habis untuk bayar kos dan makan sehari-hari"

"Mosok??? Rp?? Mosok sih? Murahnya, hihihi" see, sepertinya Mak Icoel nggak percaya. huehehe

"Iya, Mbak. Gaji saya kecil banget. Tapi ada yang tak  terbayar, pengalaman dan itu sangat mahal."

Tahun 2012 lalu, ketika saya berkunjung ke Makassar mengikuti ajang kopdar Blogger Nusantara saya bertemu dengan teman baru. Kami ngobrol apa aja, termasuk dia lebih banyak bertanya dengan saya mengetahui saya seorang tenaga kerja. Dan, seperti biasa tak jauh-jauh ditanya "Gaji Mbak Anaz berapa?" Saya bilang apa adanya kalau gaji saya tak sampai 1,5 juta. 

"Kalau gaji cuma segitu, kenapa harus jauh-jauh jadi pembantu ke luar negeri, Mbak? Kan di Jakarta bisa nyari kerja yang lain" duer! saya langsung menukas kalimatnya.

"Wah, Mbak, jangan "mencumankan" gaji saya. Secara nominal, gaji saya kecil. Tapi ada banyak hal yang saya dapatkan dan itu tak terukur oleh nominal uang. Meski di sana saya hanya bekerja sebagai pembantu, saya nggak akan melupakan asal muasal saya menjadi kayak gini juga "gara-gara" jadi pembantu." aih, tsah.... aku njawabe, rek :))))) iya, dan mbak yang saya lupa itu meminta maaf. Kayaknya saya kelihatan emosi :D :P (maaf yah, Mbak)

Nah, ngomong-ngomong gaji saya di Malaysia, mau tahu dengan lengkap gaji saya? Nah, saya ini ke Malaysia Januari 2006 pertama kali saya datang ke sana, saya digaji RM.380, itu pun dipotong tiga bulan. Saat itu, nilai tukar RM terhadap rupiah Rp.2.400 setiap RM.1. Jadi bisa dihitung kalau dirupiahkan gaji saya sebulan Rp. 912.000 (hohmaigod kecil sekali hahahaha) :D Setahun kemudian majikan saya menaikan gaji menjadi RM.400. Yah, naik RM.20, alhamdulilah. Saya lupa kapan dinaikan menjadi RM.450 dan terakhir sampai saya berhenti gaji saya sebesar RM.500. Nilai tukar naik turun terakhir saya tahu mencapai Rp. 3000/ RM.1. Jadi bisa dihitung kalau dirupiahkan mencapai 1, 5 juta. Kalau rupiah menguat, yah gaji saya nggak nyampe 1,5 juta hehehe.

Setelah moratorium Indonesia-Malaysia bisa dibaca tulisan saya di sini (haisah promo banget) :)))) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menetapkan gaji pembantu yang sudah lebih dari dua tahun harus bergaji RM.600 dan itu jelas-jelas ada dalam surat kontrak kerja dan harus ditanda tangani majikan. Saya pun pernah berbicara langsung dengan majikan saya, kalau gaji seharusnya itu RM.600, tapi dengan beberapa alasan majikan saya bilang kalau tak mampu menggaji sebesar itu. Saya diam. Kesal tentu saja, tapi saya kembali berpikir ikut dan bekerja dengan majikan saya itu ada banyak hal yang saya dapatkan. Saya diberi kebebasan, kebebasan untuk saya belajar banyak hal dan bertemu dengan banyak orang.

Asbab dan sebab saya mengenal dunia blog juga karena sejak di Malaysia dan bekerja dengan majikan saya. Mengenal banyak orang dan teman juga asbabnya sama, dari blog. Saya jadi ingat ketika makan tengah hari dengan dengan Pak Suryana Minister Counselor beserta dengan jajaran staffnya, saya pun ditanya, "Gaji kamu berapa, Naz?" dan lagi-lagi ketika saya menyebut nominalnya, satu sama lain saling menyahut.

"Wah, ini gimana, Pak? Mosok gaji Mbak Anaz masih kecil gitu?" Kata Bu Dewi

"Kamu ikut saya aja kalau gitu." kata Pak Suryana menimpali.

Iya, selalu begitu. Dan kembali, lagi-lagi saat saya sudah pulang ke Indonesia saya selalu berpikir, bahwa kesuksesan itu tak bisa diukur secara materi. Sebagai TKW yang tujuh tahun bekerja di negara orang, saya adalah TKW yang gagal. Gagal membawa jumlah nominal uang yang banyak. Bahwa saya kerap menangis, bahwa saya kerap enggan pulang, saya kerap malu dengan saudara-saudara saya, terutama dengan Ibu karena tak membawa uang.

Tapi Allah itu Maha Kaya dan yang pastinya, Ia Maha Sempurna, Sempurna mengatur jalan cerita hidup saya. November saya pulang ke Indonesia, kemudian bulan Februari 2013 saya kembali ke Malaysia. Tak lama, setelah mengikuti ajang Srikandi Blogger 2013 di mana saya menjadi salah satu finalis saya kembali ke Indonesia pada bulan April 2013. Alhamdulilah menjadi salah satu juara favorit. Dari situ, saya lama tak kembali ke Malaysia karena ada tawaran pekerjaan atas rekomendasi seorang teman yang saya kenali. Saya diterima bekerja dengan referensi tulisan dari blog saya. September 2013 saya kembali ke Malaysia untuk mematikan permit kerja dan akhirnya, selesai sudah visa kerja saya sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia dengan gaji seadanya, pulang tak membawa harta, tapi saya mendapatkan banyak penglaman yang tak ternilai harganya.

Sekali lagi, bahwaTuhan itu Maha Sempurna. Sempurna mengatur hamba-hamba-Nya. Pun sama ketika di dunia blog saya yang tetep kere ini, saya tak peduli ada tawaran atau enggak menjadi buzzer, itu nggak penting. Kalau ada dan sesuai saya ambil, kalau enggak saya yah nggak mekso ;). Nothing to lose, Allah akan memberikan apa pun kebutuhan hamba-Nya. Saya masih bisa beli buku tiap bulan, saya masih bisa makan, masih bisa bayar kos dan saya masih bisa ngukur jalan. Alhamdululah, segala puji milik Allah. Saya percaya dan saya harus yakin tentang ini. 

Sudah dulu, ini semua gegara Mak Icoel :))))))

Dan 25 Januari 2010 saya pernah menulis Gajinya Berapa...??? Hihihi

19 komentar:

  1. Standar gaji di Indonesia memang masih bikin bingung. Masing-masing kantor yang bersebelahan mungkin beda lho standarnya, biasanya karena bosnya. Padahal kan sudah ada standar UMR yang harus dipatuhi perusahaan, Kalau mereka melanggar seharusnya kena denda dong, trus duitnya dikasih ke kita, hehehe

    BalasHapus
  2. Hihihi...ini nih hasil ngalor ngidul kaga jelas dari Kpop jadi Kepo :P

    Yup benar, meski kaget +ga nyangka soal gaji tapi aq setuju soal rencana Allah untuk umatNya dan pengalaman jauh lebih mahal dari pada uang, tapi bawahnya teteup ada galaunya getooh Naz, soal jodoh teteup keluar :v :v

    BalasHapus
  3. Kalau mbak Anaz gak ke Malaysia kita belum kenal ya :)

    BalasHapus
  4. maklum naz, kalo di indo memang semua diukur dengan materi :-(
    saya ngga keberatan menggaji art saya dengan nominal lumayan (hampir mendekati gaji anaz). Karena saya sudah tau kemampuannya dan memang layak ^^
    Kalo pengalaman mah ngga ada harganya ya naz :-D

    BalasHapus
  5. sing penting disyukuri yo, Mbak. Jadi rejekinya berkah dan barokah ;)

    Wong banyak org kaya materi tapi miskin hati karena tidak bersyukur :)

    BalasHapus
  6. teh,.... sing penting pengalaman ya teh... dulu hajiku kecil kok... sekarang gajinya gede... lah ga kerja.... gajinya dibayar jaga anak hihihihihi
    ttp semangat ya tehhhh

    BalasHapus
  7. pengalaman lebih mahal nilainya daripada gaji yang diterima setiap bulan mbak :)
    tetep cemungud kakak

    BalasHapus
  8. pengalaman adalah guru yang paling baik.... #katapepatah sih...
    Yupp...setuju banget, Tuhan maha adil.

    BalasHapus
  9. he he,,kaya bgt ya pengalamannya mak,,gajinya mang ngga seberapa,,tp pengalaman yg 7 tahun itu yg tak ternilai harganya :)

    BalasHapus
  10. mba anaz, main2 ke ambon dong. hehe :D

    BalasHapus
  11. sama dgn yg pernah diucapkan suami saya mak naz. dimulai dari kerja di warnet, ngasisteni dosen, sampe sekarang, alhamdulilah.. semua memang ada waktunya. dan yg diberatin suami jg pengalaman.

    BalasHapus
  12. smua ada hikmahnya ya mbak anaz, saluut ^^

    BalasHapus
  13. pengalaman itu guru yang terbaik, ya, Naz :)

    BalasHapus
  14. saya salut sama Mba Anaz..
    melihat perjalanan selama 7 tahun terakhir sampai sekarang, sungguh bukanlah perjalanan yang mudah..
    Sukses selalu ya Mba Anaz..

    BalasHapus
  15. anaz, pasti selalu ada hikmah dibalik itu. toh dengan gaji tersebut dikau bisa bekerja dengan aman sentosa kan? ga seperti TKI2 yang katanya bergaji waah tapi pulangnya dalam kondisi tidak baik2 saja. ya disyukuri saja lah ya Naz :)

    BalasHapus
  16. berapa pun gaji kita, harus disyukuri yah Mbak.
    karena Allah akan menambah rezki kita jika kita mensyukurinya, ya kaann Mbak?? :)

    BalasHapus
  17. Kamu sungguh-sungguh menikmati proses, Mbak Anaz.
    Terkadang orang suka terlalu konsen pd tujuan/hasil sampe melupakan transformasi proses mereka loh.
    Inspiring bgt deh cerita kamu! :D

    BalasHapus
  18. bener tu mbak, biasanya banyak yang kepo tentang gaji hehehhehe

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P