Tentang Surat Cinta Dari Papua

Ini bukan cerita baru di blog saya mengenai Surat Cinta Dari Papua. Surat yang sudah dua tahun berlalu, tapi saya masih suka menyebut-nyebutnya. Surat yang sedianya akan saya bukukan tapi selalu urung dan urung tak kunjung terlaksana. Dan di balik semuanya, dari puluhan surat yang sampai ke tangan saya dua tahun lalu, tiga anak dari Papua, saya pernah bertemu dengan mereka. Ya, bertemu dengan mereka. Meski bukan di Papua, tapi sekurang-kurangnya mengobati kerinduan saya kepada mereka.

Bersama Saharudin :)

November tahun lalu, ada event Konfrensi Penulis Cilik Indonesia (KPCI) di Jakarta. Saya mengetahui acara tersebut ketika Mbak Haya dan Mbak Indah up date beberapa foto-fotonya di facebook. Pun ketika suatu pagi Mbak Haya mengunggah foto enam anak-anak dari Papua, saya tak tahu kalau salah satu anak yang di foto itu adalah Saharudin. Saharudin adalah salah satu anak yang menang dalam lomba kecil-kecilan menulis surat dua tahun lalu. Dia, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD) menempati juara harapan dua. Lengkap cerita bisa dibaca di sini .

Barulah saya tahu ketika suatu hari Pak Guru Arif mengabarkan di facebook melalui foto yang ditag kepada saya kalau Saharudin ikut serta sebagai salah satu peserta KPCI. Surprise dan perasaan senang menyelimuti saya. Di benak terpikir, saya harus bertemu dengan Saharudin. Harus! Ya, harus! Dan alhamdulilah setelah bersusah payah menembus kemacetan serta nyasar ke beberapa tempat, saya sampai juga di hotel Twins, tempat di mana acara KPCI diselenggarakan. Beberapa kali saya berhubung dengan Mbak Indah di twitter juga Mbak Haya di Facebook. Saya juga mengajak teman, Kak Ria. Akhirnya, setelah ikut menikmati makan malam yang dihidangkan, saya dengan Kak Ria masuk ke aula. Dibantu oleh Mbak Indah yang mencari-cari Saharudin bertemulah saya dengannya yang sepertinya sudah kelihatan lelah. Alhamdulilah....

Setelah bersalaman dengannya, saya dan Kak Ria menyempatkan diri berbincang-bincang dengannya. Anaknya sedikit cuek, atau boleh dibilang anaknya cuek banget hehehehe. Iya, cuek. Lah wong pas itu acara dipanggung lagi sibuk ada yang nyanyi, dia sibuk menggambar. Saya tak lama bertemu dengannya karena acara pun masih berlanjut. Melihat puisi-puisi yang dibawa oleh Saharudin, khas sekali tulisan anak-anak dari Fakfak yang menceritakan tentang indahnya laut mereka juga dengan segala isinya.



Pantun-pantunnya Saharudin

Nah, selain Saharudin, saya juga bertemu dengan dua anak Fakfak lainnya, Ridwan dan Rahim Patur. Saya bertemu dengan mereka bulan Desember tahun lalu ketika saya berkunjung ke Jogja mengikuti event Blogger Nusantara. Ini tentu saja atas bantuannya Pak Guru Arif Lukman. Suatu malam, ketika kami (saya, Ijal, Kalisdong, Kaindri) menyusuri Malioboro bertemu dengan Pak Guru Arif. Kami diajak ke museum (yang saya lupa namanya :D) di situ sedang ada pameran foto. Berceritalah kami banyak hal, termasuk Pak Guru menceritakan Ridwan dan Rahim yang ada di Jogja. Mereka berdua sedang mondok di Krapyak juga sekolah di sana.

Ketika mereka berkirim surat dua tahun lalu, mereka masih duduk dibangku kelas enam SD. Sekarang, mereka berdua belajar di Jogja, atas kebaikan hati seorang hamba Allah yang memang tak ingin disebut namanya memberikan beasiswa kepada mereka. Saya pernah mengorek jawaban dari Pak Guru tentang siapa di belakang Ridwan dan Rahim sampai mereka ada di Jogja, Pak Guru tetap mengelak.

"Biarkan kami aja yang tahu, Mbak. Dan Gusti Allah yang membalasnya." kata Pak Guru di dalam mobil bersama dengan istrinya, Bu Guru Erma dan bidadari mungilnya siang itu yang baru mengantar saya menemui Ridwan dan Rahim. Siapapun mereka, yang memberikan beasiswa kepada Ridwan dan Rahim, semoga Allah memberikan keberkahan kepada semuanya. Baik donatur, Pak Guru juga Ridwan dan Rahim. Aamiin.



Waktu ngobrol dengan Bu Guru Erma, ia bilang kalau melihat mereka di Jogja sungguh terenyuh hatinya. Bagaimana tidak, mereka jauh dan sangat jauh dari kedua orang tuanya. Di Jogja, kalau boleh dibilang mereka hanya seorang diri tanpa sanak saudara. Tapi dengan kehadiran Pak Guru Arif, ak Guru Maman yang kerap menjenguk mereka, kesendirian mereka menjadi sirna. Mereka, pulangnya kalau sudah lulus SMA. 

"Aku, tuh, Mbak, melihat mereka ngenes atiku. Mereka jauh dari keluarga, tapi mereka tetap semangat untuk belajar." Bu Guru, sambil menggendong malaikat kecilnya berujar. Ridwan, Rahim dan Saharudin adalah anak-anak yang keren sangat keren karena dari ujung Timur Indonesia, Karas akhirnya ia sampai di Pulau Jawa. Senang bisa mengenali mereka melalui perantara Pak Guru Arif Lukman.



20 komentar:

  1. terharu baca ini mbk,kecil2 ke jakarta,jauh sama orangtua pula,,iyha kalau jakarta-batam deket,,ini papua... :(
    wah,keren ya saharudin mbk,,,^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saharudin ke Jakarta hanya mengikuti event KPCI, Mbak. Dia nggak belajar di Jakarta. Yang menetap di Jogja dan belajar di sana Ridwan sama Rahim :)

      Hapus
  2. Dunia ini sempit ya Mbak... siapa sangka akhirnya bisa ketemu juga dg anak2 Papua itu di Jakarta dan Yogya.

    BTW acara hibah buku utk kelud itu harus berbentuk uang ya? Berbentuk buku bisa kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ngarep bisa ke Papua nggak mungkin hehehehe

      Boleh buku fiksi, Mbak :)
      Buku tulis juga alat tulis

      Hapus
  3. Hwaaaa..... indahnya silaturrahmi.... semoga Ridwan dan Rahim dapat menjadi kebanggaan bangsa

    BalasHapus
  4. kondisi alam papua yang indah bisa jadi inspirasi untuk puisi ya

    BalasHapus
  5. Semoga kalian nantinya menjadi orang sukses ya, Nak ;)

    BalasHapus
  6. semoga mereka bisa menjadi orang sukses dan bisa jadi kebanggan untuk kampung halamannya.. Aamiin

    BalasHapus
  7. Semoga anak-anak ini kelak akan menjadi pengerak kemajuan di bumi timur sana.

    BalasHapus
  8. Aku ngerasa malu sama mereka kak anaz :'" Nanti ajak ajak aku kalau ada seperti ini yaaa :"3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Miftah. Mari kita menyurati mereka :)

      Hapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P