Guru dan Buku

Di sebuah tempat, saat saya dan beberapa teman sedang sibuk menyusun buku, seorang anak berusia sekitar 10 tahun hilir mudik keluar masuk ruangan. Ia sibuk memilih-milih buku untuk dibaca. Buku yang diambilnya tipis saja, sepertinya ia tak butuh waktu lama untuk membacanya. Lagi pun, di depan ruangan ada kakak-kakak cantik dan ganteng yang menemani sang adik membaca.

Di ruangan tersebut, ada juga seorang guru yang berbincang dengan kami. Ketika anak muridnya sibuk memilih buku, sang guru pun bercerita mengenai muridnya tersebut. Katanya, murid terseb ut prestasi akademiknya tak seberapa. Kata lain dari yang diceritakannya adalah bodoh. Kami senyam-senyum saja mendengar ceritanya. Sang guru juga mengingatkan kami dalam menyusun buku, cerita komik yang katanya tak mendidik jangan diletakan pada susunan paling depan.

Kami manut saja, mengubah posisi susunan buku, meletakan buku-buku cerita inspiratif di bagian depan dan menyusun kembali cerita komik di bagian belakang. 

Besoknya, ketika kami berbincang di bawah pohon mangga kembali membicarakan kejadian sehari sebelumnya. Sebelum kami meletakan buku-buku di jejeran rak, tentunya kami sudah memilah-milah mana buku yang layak dibaca untuk anak-anak. Buku yang diminta jangan diletakan di depan itu komik scooby doo, komik petualangan yang menurut saya itu komik yang keren. Teman-teman lain juga menganggap itu buku yang cocok untuk anak-anak, sesuailah untuk bacaan anak. Eh, tapi itu menurut saya dan teman-teman dan pendapat kami tak sama dengan sang guru yang mengingatkan kami kemarin.

"Eh, padahal, kan, kalau bisa anak-anak dibebasin aja, ya, baca bukunya. Itu kalau monoton bacanya anak-anak juga bosen," Ijal menimpali kami ketika bercerita. 

Guru dan buku, seyogyanya saling berkaitan. Ketika guru adalah orang yang menjadi panutan, maka buku juga merupakan panutan melalui bacaan. Memberikan kebebasan membaca kepada anak-anak, serupa juga dengan memberinya kemerdekaan untuk belajar banyak hal. Tak melulu belajar itu-itu saja yang terkadang menurut orang tua (atau guru) baik adanya, tapi membosankan bagi anaknya.

Semoga saya bisa belajar dari banyak hal, dari hal-hal yang saya temukan dari banyak keadaan.

4 komentar:

  1. Masa perkenalan anak-anak dengan buku, sebaiknya membaca yang ringan-ringan dan sesuai dengan dunia mereka. Nantinya, ketika beaar anak akan memilih sendiri mana yang baik untuk dibaca ....

    BalasHapus
  2. baca buku itu jg bljr berimajinasi lo..baca sambil mbayangin tokoh.tempat dll.....penglman hehehe

    BalasHapus
  3. dulu... aku juga suka bangeet nyari yang komik dulu, pokoknya yang ada gambarnyaaa daaah. Ternyata anakku berbeda denganku, dia mencoba membaca tulisan apa yang ada di buku tersebut, meskipun belum bisa membaca, namun dia mengira-ira dari gambar yang ada

    BalasHapus
  4. Tidak selamanya komik tidak memberi pelajaran. Di Universitas Flores, seorang dosen bernama Pak Anno Kean, sedang melakukan penelitian dan pengembangan buku sejarah Bung Karno menggunakan komik. Rencananya komik Bung Karno tersebut akan dijadikan buku pelajaran... belajar tak selama lewat tulisan, lewat gambar pun keren dan lebih mengena di otak anak-anak :D *sok teu*

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P