Lima Massa Dalam Usia

Keraton Surakarta, 15 Nopember 2010

Ketika dewasa menjadi sebuah pilihan,
Maka tua adalah sebuah kepastian
Saat tua menjadi nyata,
Adakah kita akan terlunta-lunta,
Meminta-minta
Kepada sesiapa, yang mempunyai belas kasih dan iba

Ah, tua...
Ternyata engkau menantiku di ujung sana
Adakah aku akan berjumpa?
Atau terhenti, sebelum aku sampai ke sana? 

Foto dan baris-baris kata di atas saya unggah pada 18 Desember 2010 di Facebook. Saat melihat orang tua di manapun keberadaannya, saya kerap menjadikannya cermin diri. Cermin di mana kelak saya akan seperti itu. Menua, renta atau bahkan saya tak akan sampai ke sana.  

Atau pernah suatu ketika, saya menulis status di facebook tentang keberadaan usia saya. Saya tak ingat dengan jelas kalimatnya, tapi saya mengingat jelas kesimpulan status tersebut. Usia, dalam hidup seperti pembagian lima waktu dalam shalat. Mengingat Rasulullah wafat pada usia 63 tahun, maka saya sebagai umatnya kalau diberi umur panjang mungkin tak jauh dari itu semua. 63 tahun dibagi lima waktu. 

12 tahun pertama adalah waktu subuh, di mana kita memulai hari, memulai amalan. 24 tahun adalah paruh waktu kedua dimana ia memasuki waktu dhuhur, 36 tahun adalah paruh waktu ketiga dimana ia memasuki waktu ashar menuju ke senja dan petang. 48 tahun adalah paruh waktu keempat dimana ia memasuki waktu maghribsenja mulai tenggelam dan malam mulai melabuhkan tirai. Dan 62 tahun adalah paruh waktu kelima dimana ia menuju waktu isya. Gelap, akhir hari dan menuju malam untuk terlelap.

Lantas, pada masa apakah saya sekarang ini? Subuhkah, dhuhurkah, asharkah, maghribkah atau justru isya? Menghitung waktu berlalu, sekarang saya sudah memasuki waktu dhuhur menjelang ashar tak lama lagi. Ah, tak lama lagi waktu ashar saya singgahi. Waktu di mana hari masih benderang, waktu di mana hari masih terang. Apa saja yang sudah saya lakukan di saat subuh menjelang dhuhur? Baikkah, burukkah atau tak ada sama sekali  yang saya lakukan. 

Sudah hampir mendekati paruh waktu ashar, beberapa hal yang sudah saya lakukan pada paruh waktu subuh dan dhuhur tentunya saya harapkan ia menjadi bekal di paruh waktu isya. Saya bukan usahawan yang memiliki tabungan milyaran rupiah untuk bekal di hari tua. Saya juga bukan PNS yang memiliki jaminan pensiun untuk masa tua. Saya hanyalah mantan TKW yang tak memiliki harta benda untuk bekal di waktu tua. Sedikit pengalaman dan kegiatan yang dilakukan sekarang ini, kelak saya harapkan ia menjadi simpanan di kemudian hari.

Pulang ke kampung halaman

Pulang. Ya. Pulang ke kampung halaman adalah keinginan saya ketika tua nanti. Menikmati senja menuju isya dan bermimpi mampu mengabdi di kampung halaman sendiri. Membuat taman baca, menuliskan masa kecil, mengajar ngaji di desa membantu guru mengaji yang dulu telah mengajari saya. Ya, itu mimpi dan keinginan sederhana saya menjelang waktu isya. Waktu di mana ia adalah paruh kelima. Gelap, akhir hari dan menuju malam untuk terlelap. 


12 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Road to 64 di BlogCamp
    Segera didaftar sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. rumah adalah istana paling indah di hari tua kita.. tulisannya kereeeeen

    semoga sukses lombanya ya mbak

    BalasHapus
  3. calon pemenang nih Anaz..

    kapan-kapan kalau balek Pemalang, dolan to ning Kesesi :D

    BalasHapus
  4. Mbk..impianmu kok sama ya sama aku..tos duluuuuu,semoga impiannya tercapai aamiin...
    Mohon mf lahir batin ya mbk... :)
    Ketjup dari Siak...

    BalasHapus
  5. terimakasih bagus sekali .. tua bukan pilihan ,, iya betul sekali

    BalasHapus
  6. wah bagus, sukses ya ^_^ ditunggu kunbalnya

    BalasHapus
  7. semoga menang amiin, oh iya minal aidin walfaidin mhn maaf lahir batin

    BalasHapus
  8. dalam ceritanya. semoga sukses dan menang ya.

    BalasHapus
  9. Jadi tersadarkan diri ni.
    Terima kasih kaka sharing artikelnya

    BalasHapus
  10. lima usia dalam waktu,artikel yang bagus mbak.semoga sukses giveaway nya

    BalasHapus
  11. Wih. Sungguh menohok banget, tulisan ini....

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P