Drama Kereta Api Menuju Cirebon




"Temen-temenmu...." jam 14.59 tanggal 27 Maret,  Fikri menegur saya di whatsapp.

":|" saya hanya memasang muka datar membalas chatnya.

"Gemes. Kalau aku tak tinggal wae. Lebih ribet dari manajernya Syahrini. Lebih ribet dari manajernya Syahrini," Fikri mengulang dua kali kalimat lebih ribet dari manajernya Syahrini. Saya hanya tertawa terbahak membalas chatnya. 

Pagi itu, Jumat 27 Maret 2014 sehari sebelum keberangkatan kami semua menuju Cirebon, salah seorang teman saya, Kak Yulia membatalkan untuk pergi ke Cirebon. Garuk-garuk kepala saya dibuatnya. Sementara untuk ke Cirebon kali ini PIC tiketnya Diaz, jadi semua data ada dengan Diaz. Jadi pagi itu saya ngerusuh ke Diaz meminta kode booking tiket kak Yulia untuk diprint dan dicancel keberangakatnnya. Nah, dalam proses pinta meminta kode booking ini pun rada ribet. Ini kalau Diaz dekat beneran saya uyel-uyel kepalanya. Saya sudah bilang berkali-kali kalau Kak Yulia sudah biasa mengubah keberangkatan, tapi Diaz tetap saja khawatir. Gubrakssss.... #PasangMukaDatar

Karena Kak Yulia mau ngeprint tiket, sekalian saya minta tolong untuk diprintkan tiket kami semua. Hari itu, saya juga menuju kantor Gagasmedia janjian dengan Fitri untuk mengambil buku. Agak ribet karena lagi di jalan, saya bilang di group kalau Diaz suruh kirim email ke Kak Yulia untuk mengirim semua email kode booking tiket. Menjelang siang, di group whatsapp Menuju Cirebon, teman-teman kok pada sibuk membahas print tiket. Padahal saya sudah bilang kalau tiket akan diprint hari itu. Pufff... Itulah kenapa Fikri menulis kalimat seperti di atas hahahaha... Lah wong saya sudah bilang tiket sudah diprint, tapi teman-teman kok masih sibuk membahas besok print tiketnya gimana. Sepak satu-satu ke laut -_-

Meski email sudah dikirim ke Kak Yulia, tapi rupanya Kak Yulia tidak bisa membuka email satu persatu dikarenakan koneksi lemot. yah wis, akhirnya saya minta forward balik emailnya ke saya, dan saya download satu-satu baru saya kirim kode booking melalui whatsapp. Dan rupanya ada satu tiketSebelum itu, Kak Yulia mengabarkan kalau ada satu kode booking yang tidak bisa diprint. Owh, ternyata saya salah mengirim kode, huruf A saya tulis 4. Nah, pas saya kirim whatsapp ternyata Kayulia udah beranjak meninggalkan stasiun. Jadi hari itu hanya ada satu kode booking yang belum bisa diprint. Sorenya kak Yulia mengantarkan segepok tiket ke kosan, baru pulang menjelang pukul embilan malam.

Malam itu, saya belum beres-beres barang bawaan, buku juga belum diberesin masih teronggok begitu saja. Sementara di group Kelas Inspirasi ada diskusi dan di BBM, Rony yang saya pesankan pin untuk booth Hibah Buku di Kementrian Perindustrian tanggal 14-17 April juga sibuk menanyakan koreksi desain. Waduh, mendadak mumet. Sampai kemudian akhirnya saya matikan paket internet :D trus akhirnya tidur. Eh, sebelum itu SMS Fikri menanyakan perihal lampion apakah jadi dibawa atau tidak.

"Ya udah kalo gitu bawa juga gak apa-apa. Udah tidur sanah. Besok pasti lebih ribet lagi." dan saya jawab kalau dah jalan, mah, nggak ribet malah rame. Tapi, apa iya nggak ribet? :)))) pukul 10 lebih, saya tidur

Kemudian besoknya....

Saya bangun sebelum pukul tiga pagi. Mengemas sedikit baju, memasukan peralatan mandi, mengikat buku, memasak mie goreng dan bersiap-siap mandi. Menjelang pukul empat kurang, saya menanti-nanti dering telpon dari pak Amin, sopir taksi langganan yang biasa mengantarkan saya kalau bebergian pagi hari. Sampai pukul empat lewat, pak Amin tak kunjung menelpon, akhirnya saya menlpon beliau. Kabar yang saya dapat kalau pak Amin tak bisa menjemput karena mobilnya tak bisa distarter membuat saya sedikit bete, ini berarti kudu jalan ke depan dengan membawa sedikit beban yang lebih berat. Saya mengabarkan kepada Nita, akhirnya kami berjalan ke depan mencari taksi. Sampai di gang depan, Kopaja P20 jurusan StasiunSenen lewat di depan kami, akhirnya kami naik Kopaja. Penghematan ini ^_^

Alhamdulilah, sampai di stasiun pas adzan subuh berkumandang. Saya menuju mesin cetak tiket, untuk print tiket yang belum bisa kemarinnya. Rupanya itu milik Mbak Irma dan Mbak Isti. Teman-teman yang lain sudah sampai, kami janjian di ruang tunggu. Selesai shalat subuh, kami kembali ke ruang tunggu mengecek tiket satu-satu. Kami seperti lupa waktu, kalau kereta akan berangkat pukul 05.30 pagi. Jam 05.19 menit kami baru beranjak meninggalkan ruang tunggu menuju pintu masuk. Belum sampai di pintu masuk, terdengar pemberitahuan kalau kereta Kutojaya Utara akan segera berangkat. What!!! kami segera berlari-larian, lupa satu sama lain. Enam belas tiket sudah dipegang oleh Kak Like, berlari-larian kami menuju gerbong kereta (Hyak ampun, saya nulis ini kok ngakak hahahaha) 

Sampai di gerbong kereta, hape saya berdering, nama Kak Iwan terlihat di hape. Ya Allah, saya melupakan sepasang suami istri yang belum masuk ke gerbong. Dengan suara yang terengah-engah, saya menyuruh kak Iwan masuk saja langsung menuju gerbaong kereta, bilang saja tiket sudah ada pada rombongan yang 16 orang. Tak lama Kak Iwan muncul dan langsung masuk ke gerbong kereta. Sampai saja Kak Iwan masuk, kereta langsung meninggalkan Stasiun Senen. Dan kami, masih mencari dua orang, Mbak Irma dan Kak Isti! Astaghfirullah... Dari sejak shalat subuh, saya tak membuka group whatsapp. Ternyata Kak Isti sudah sampai sejak pukul setengah lima pagi, sedang Mbak Irma belum sampai di stasiun!!. Makkkk... kepiye iki? Bayangkan betapa tidak enaknya saya dan juga teman-teman yang lain.

Setelah di dalam kereta, kami baru intens membuka whatsapp dan ngobrol. Kami memang tidak satu gerbong, karena beli tiketnya tidak berbarengan. Kami lebih banyak memantau Mbak Irma dan Kak Isti. Tadinya saya pikir mereka akan naik kereta Tegal Ekspress, tapi mungkin sudah tidak ada tiket. Dan kabar terakhir, Mbak Irma dan Kak Isti naik bis. Gubraksss... bisa enam jam lebih itu :/

Pukul 09.30 kereta sudah sampai di Prujakan. Fikri sudah menunggu kami dengan sopir elf dan langsung berangkat menuju Dompyong Wetan, kampungnya Fikri. Alhamdulilah, kami ber 14 sampai dengan selamat. Menjelang pukul sebelas, Fikri menjemput empat teman kami yang baru datang di Stasiun Babakan, Kak Weni, Kak Fitri, Kak Tika dan Kak Ica. Hampir jam lima sore ketika  Mbak Irma, Kak Isti dan Kak Apip sampai dengan selamat. Alhamdulilah, meski dengan penuh drama, kami semua sampai dengan selamat di halaman belakngnya kak Fikri. Eh, masih ada satu orang lagi yang belum sampai, Monik! Monik berangkat jam lima sore dariJakarta dan sampai di Cirebon pukul delapan malam. Dan untuk Monik sendiri, saya meminta tolongMas Dhani untuk menjemput di Prujakan dan diantarkan ke Dompyong Wetan. Tepat jam sembilan malam, Monik dan Mas Dhani sampai di Halaman Belakang.

Untuk kegiatannya, bersambung lagilah, besok (kalau rajin, tapi)

Kak Jeni, Kaken, Kanopi dan Kadiaz
Kawili, Kak Jaka, Kak Salman dan Kalike
Indah ^_^
Kak Iwan dan Kak Dewi, sepasang suami istri ^_^
Alhamdulilah, kami sampai :)

Quin tidur sepanjang jalan

Mienya saya kebagian segini doang, itu pun hasil ngerampok yang lagi dimakan Salman hahahaha

Alhamdulilah, Mbak Irma, Kak Isti dan Kak Apip sampai dengan selamat ^_^


Alhamdulilah, sampai di halaman belakang :)




9 komentar:

  1. ternyata naik kereta api ada dramanya juga ya mbak...hahaha

    BalasHapus
  2. emang unruk hal apapun yang paling enak itu last minute ya naz... :D

    BalasHapus
  3. Nyimak...dan menunggu kelanjutannya :)

    BalasHapus
  4. Gak sabar baca lanjutannyaa. Benar2 drama ya

    BalasHapus
  5. sudah lama ga blog walking, kangen juga
    tapi sekrang ga sempat lagi
    salam sukses ya

    BalasHapus
  6. Ckckck.... ribetnya yg mp naik kereta aja

    BalasHapus
  7. ikut deg-degan baca drama naik keretanya mbak

    BalasHapus
  8. mbak, sampai sekarang saya masih penasaran gimana rasanya naik kereta. Sepertinya pemandangannya indah ya mbak sepanjang perjalanan. Alhamdulillah semua selamat sampai tujuan :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P