Mas Aris Kurniawan Basuki, Kenapa Nggak Nulis Lagi?

Koleksi gambar kak Icha


Beberapa minggu lalu, Kak Icha mengirim foto di group whatsapp tentang penganugerahan cerpen Kompas terbaik 2014. Lihat foto yang dikirim itu saya jadi ingat sama Mas Aris, salah seorang teman yang saya kenali di Kompasiana. Paginya, saya langsung mengirim gambar di atas kepada Mas Aris dengan caption, "Mas Aris nggak kangen ini? Ayo nulis lagi, Mas! Nulissss... Nulisss!"

Selain foto di atas, saya juga mengirim screenshot status facebooknya Mas Guntur Alam tentang para pemenang Cerpen terbaik Kompas. dan Mas Aris cuman jawab gini, "Hehehe... jagoanku yang menang. Aku jagoin Faisal, Vika Wisnu dan Agus Noor. Prediksiku masuk nominasi semua."

Emang siapa Mas Aris itu? Jadi, Mas Aris itu tahun lalu menjadi salah satu orang yang beruntung, yang cerpennya menjadi cerpen terbaik pilihan kompas dan tentunya dibukukan. Ini saya tahunya juga telat, sih, pas main ke rumah Mas Aris, barulah beliau cerita. Dan saya, cuman melongo doang, dong -_- terus kemudian jadi salut. Kenapa salut? yah karena setelah Mas Aris cerita bagaimana beliau belajar menulis.

Jadi, Mas Aris itu belajar menulis fiksi di Kompasiana. Mas Aris bener-bener belajar dari nol, dari yang nggak tahu tentang penggunaan tanda baca, eyd atau lainnya. Sampai kemudian tulisan-tulisannya dimuat di kompas.com dan berlanjut Mas Aris mengirimkannya ke kompas cetak. Mungkin memang tuah Mas Aris yang bagus, beberapa kali kirim tulisan dimuat dan salah satu cerpennya menjadi yang terbaik. Kalau melihat antrian cerpen di Kompas yang beribu setiap minggunya, ini memang beneran tuahnya Mas Aris. Selamat, Mas Aris.

Tapi sayangnya, sekarang Mas Aris sudah jarang nulis lagi. Bahkan boleh dibilang nggak pernah nulis. Dulu, waktu masih di Malaysia saya sempat nongkrongin tulisan-tulisannya Mas Aris, baca sampai khatam. Apalagi yang cerita orang duduk di atas kuburan demi mengejar wangsit. Bingung mau nulis apa, soale saya suka gitu tulisan macam tulisan Mas Aris itu banyak mengangkat sisi kemanusiaan. Kemarin saya juga sempat bilang gini ke Mas Aris, "Mas Aris keren, ya. Di saat orang lain mengejar dan berbondong-bondong tulisannya masuk Kompas, tulisan Mas Aris dengan mudahnya lolos. Bahkan menjadi salah satu terbaik dan dibukukan."

"Itu dulu... Kan pengen lagi." owh, rupanya Mas Aris masih pengen nulis lagi :D :P

"Makanya sekarang saya komporin lagiiii."

"Siap! Waktunya tapi nggak selega dulu, sih. Maklum, family guy." sambil pasang emoticon ingusan :D

Mbak Egi, Pilar dan Mas Aris ^_^


Yalah, Mas Aris sosok Ayah yang baik, yang rajin nyuapin Pilar kalau saya pas ke sana, kalau Mbak Egi lagi istirahat. Semoga ke depannya akan ada lagi tulisan-tulisan fiksi Mas Aris lainnya. Tak melulu di Kompas saja, tapi juga semoga di Kompasiana. Eh, tapi saya juga lupa kapan terakhir nulis di Kompasiana #DiBandemSendal. Ngomporin orang, tapi sendirinya nggak nulis. Tapi, kan saya tetep nulis curcol di sinihhhh.... #NgelesAjaKayakBajaj.

Pokoknya! Masih nunggu Mas Aris nulis! Dah itu ajah :P


2 komentar:

  1. Ternyata sedan asyik dengan keluarganya ya, Kak. Semoga Mas Aris akan kembali nulis!

    BalasHapus
  2. Aku kaget waktu tahu yang jadi terbaik tahun 2015 itu Faisal. Soalnya dulu sering liat nama dia ikutan lomba antologi. Ternyata sekarang makin sering nulis buat media ya.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P