Nunu, Menjadikan Kekurangannya Untuk Maju

Hampir tiga tahun lalu di Makassar :)


"Dengan kondisi fisik seperti ini, apa Nunu sering malu?" suasana surau lantai 7 Gedung Kompas Gramedia  yang berada di Palmerah Barat ini lengang. Hanya ada saya dengan Nunu yang baru saja menyelesaikan shalat ashar setelah sebelumnya mengikuti Digital Library Management Workshop yang diselenggarakan oleh Elexmedia bekerja sama dengan Senayan Library Managmenet System (Slims). Peserta lainnya yang datang dari beberapa daerah sudah pulang lebih dulu.

"Awalnya saya malu, apalagi ketika bertemu dengan suasana baru seperti sekarang ini. Tapi saya lama-lama biasa berhadapan dengan mereka." Nunu menjawab sambil tersenyum pertanyaan saya. Suara cawan beradu dengan pinggan terdengar di luar, di depan ruangan tempat kami sebelumnya mengikuti workshop. Petugas kebersihan sedang mengemas sisa-sisa jamuan makan siang dan minum petang.

Saya memandang takjub Nunu, melihatnya juga mengingat awal mula mengenalinya. November 2012 lalu, saat saya mengunjungi Makassar untuk hadir di ajang Kopdar Blogger Nusantara, saya mulai mengenal perempuan keturunan Bone tersebut. Nunu, nama lengkapnya Nur Sahadati Amir. Ia lahir dan dibesarkan di Ujung Pandang. 

Duduk sebelahan sama Nunu waktu workshop kemarin :)


Sewaktu di Makassar, hari kedua teman-teman blogger menyusuri kota Makassar, saya duduk bersebelahan dengannya di bus. Selama perjalanan, Nunu banyak berkisah tentang kota Makassar, juga beberapa komunitas-komunitas yang ada di Makassar. Dari Nunu, saya mengubah stigma negatif mengenai Makassar yang benar-benar nggak kasar. Terima kasih atas segala ceritanya, Nunu :)

Beberapa minggu lalu, Nunu mengirimi pesan di facebook. Ia mengabarkan kalau dirinya sudah berada di Jakarta sejak 1 April 2015. Saya kembali teringat kalau tahun lalu ketika ia ke Jakarta kami tak sempat bertemu karena tidak menemukan hari yang tepat. Jadi sewaktu beberapa minggu lalu ia mengabarkan sudah berada di Jakarta, saya surprise membacanya. 

"Btw, mba saya kan sekarang tinggal di Jakarta. Kalau ada kegiatan-kegiatan komunitas ajak-ajak saya, Mbak." pesannya di facebook. 

Wah, Nunu sekarang sudah jadi orang Jakarta. Dan kemarin, ketika bertemu Nunu berkisah kalau ia sekarang bekerja di Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian bagian Sumber Daya Manusia. Ya, Nunu kini sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Saya mengetahui Nunu menjadi PNS dari status facebooknya. Ia menuliskan di status betapa syukurnya kepada pemilik Semesta yang telah menggariskan rezekinya menjadi PNS.

"Saya baca dan lihat waktu Nunu diterima jadi PNS. Saya juga melihat waktu Nunu mengabarkan di facebook mengikuti Kelas Inspirasi di Makassar dan terpilih sebagai salah satu relawan pengajar. Nunu keren dan hebat. Saya banyak belajar dari Nunu," Saya menyampaikan kekaguman saya di depan Nunu. 

"Waktu saya ngajar di Kelas Inspirasi, sebelumnya sempat takut. Kepikiran anak-anak akan meledek fisik saya. Tapi, alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Anak-anak nggak ada yang ngeledek saya, saya juga bisa mengajak anak-anak bermain." Nunu menceritakan ketika ia mengikuti Kelas Inspirasi di Makassar.

Di sela kekosongan waktu menunggu komuter line di stasiun Palmerah, Nunu pun rajin bercerita mengenai perjalanan hidupnya sampai kemudian terdampar di kota Jakarta. Sebetulnya, saya yang banyak bertanya dan Nunu tanpa sungkan selalu menjawabnya, termasuk ketika saya menanyakan apakah boleh saya menuliskan tentang dirinya juga menyebutkan tentang kondisi fisiknya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Tulis aja." Nunu menjawab sambil tersenyum.

Ya. Nunu tak sama macam kita yang normal. Kedua tangannya pun tak sempurna, pun dengan kakinya yang lagi-lagi tidak seutuhnya sempurna. Tapi lihatlah, betapa ia tetap semangat menghadapi hidup. Berasal dari daerah di Makassar, kemudian terdampar di Jakarta menjadi seorang PNS. Duduk di sebelahnya kemarin ketika workshop membuat saya merasa bangga mengenalinya. Nunu, buat saya seperti motivator berjalan.

Dulu, ada seorang kawan yang pernah bertanya kepada saya, "Mbak Anaz, kenapa nggak suka sama Mario Teguh?"

Duh, bukan. Bukan saya nggak suka dengan Mario Teguh, tapi saya kurang berkenan menyimak segala macam teori motivasi yang dipaparkan oleh para pakar yang sudah malang melintang. Ada kalanya saya lebih suka membaca bukunya. Dan yang terpenting, saya lebih suka bertemu dengan motivator-motivator yang tak banyak menerangkan mengenai teori. Seperti Nunu orang yang saya kenali kemarin. Ia mengajari saya tanpa dia banyak berkata-kata. Terima kasih banyak, Nunu :) semoga betah di Jakarta dan akan tetap betah, karena pekerjaan bagian Nunu tak ada sistem rolling ke luar daerah, bukan? :)

Nunu mengingatkan saya dengan Yusnita Febri. Seorang sahabt yang sudah pulang ke rumah-Nya. Dan dia memiliki blog dengan tagline Jadikan Kekuranganmu Untuk Maju. Nunu sudah membuktikan bahwa kekurangan yang dimiliki menjadi bekal untuk tetap maju.



Nampang :D :P



14 komentar:

  1. terima kasih ceritanyaa..
    *lirikdiri T.T

    BalasHapus
  2. Entahlah...pada acara bloger Nusantara makassar pun aku datang tapi belum ketemu Ka Naz. hehehe :)

    BalasHapus
  3. apa kabar dengan saya yah, kurangnya banyak banget :(

    BalasHapus
  4. Kurang lebih begitu juga kesan saya waktu kenal kak nunu. Sama dengan kekaguman saya ke mba anaz. Hehee... Kalian berdua inspiratif (y)

    BalasHapus
  5. uni jadi inget dekan kampus uni. beliau sudah almarhum sekarang. Feb 1997 uni ujian skripsi, diuji oleh beliau. kondisi fisiknya malah hanya ada tangan sebatas siku dan 3/4 tangan. kakinya juga ditompang alat khusus agar bisa berjalan. kalau uni berdiri, tinggi beliau hanya sepinggang uni.

    Tapi semua org takut dengan profesor ini. Galaknya minta ampun. Ilmunya banyak, bukunya jadi referensi di kampus. :D

    waktu ujian, uni kira, uni akan mati ketakutan, tapi alhamdulillah malah disukai dan dikasih A.

    waktu uni jadi dosen, beliau masih sempat jadi dekan uni juga, dan beliau yang approve uni jadi dosen..:)

    tulisannya rapi. dan kata papa uni (alm), sejak kuliah dulu *ternyata beliau satu angkatan sama papa uni, sudah keliatan kegigihannya profesor tsb. jadi kalau sekarang dia jadi orang hebat, papa gak heran."

    makasih sudah sharing ini ya anaz... salam kenal untuk Nunu...:)

    BalasHapus
  6. satu lagi,, agar aku banyak2 bersyukur dan bersyukur. Inspiratif!

    BalasHapus
  7. Berada di samping mbak nunu selama di kereta kemarin, bikin aq minder. Semangatnya tinggi buat maju sampai akhirnya di terima di kementrian perekononian. Dan satu lagi, mba nunu itu ceria dan senang bercerita ^__^

    BalasHapus
  8. kisah yang menginspirasi kak anas :)

    BalasHapus
  9. Setuju sekali :) kita seringkali terinspirasi dari orang-orang sekitar kita, bukan dari para pakar motivasi. Meski bgt keberadaan pakar motivasi jg membantu banyak orang dengan sugesti2 positif yg diberikan.

    BalasHapus
  10. like always... very very inspiring :) sama seperti yang nulis :)

    BalasHapus
  11. Salut untuk Nunu :)

    Salah satu anggota MB juga memiliki 'kekurangan' fisik seperti Nunu, tapi masyaAllah semangat hidupnya luar biasa :)

    Sekarang dia sedang ambil S3 karena dia dosen di Unbraw :)

    Anaknya sama menyenangkannya seperti Nunu.

    Alam terkembang jadi guru ya, Nas :)

    BalasHapus
  12. AKu belum kenalan sama Nunu nih. Mbak anaz bahas Yusnita jadi inget lagi nih sedih jadinya

    BalasHapus
  13. Terkadang kekurangan dari seseorang itu bisa menjadi kelebihan :) dan bisa membuat orang tersebut menjadi maju

    BalasHapus
  14. Wah keren banget ka Nunu ini, penuh semangat, percaya diri, dan ramah. Ulasannya juga bagus ini.

    Salam hangat selalu ya mba Anazkia.

    :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P