Kebab Turki Baba Raffi

Kebab Baba Rafi di Cirebon Super Block (CSB)


Senin lalu, ketika di Cirebon bersama dengan teman-teman panitia dan relawan inspirator Kelas Inspirasi Cirebon kami main-main ke beberapa tempat. Dan untuk meet up kelompok kami yang ditempatkan di SDN Gunungsari Dalam Cirebon, kami kumpul di Cirebon Super Block (CSB). Saat mencari tempat untuk kumpul, saya melewati sebuah gerai yang ada di dalam CSB. Sebuah gerai yang tak asing ketika saya berkunjung ke Surabaya saat menghadiri Pameran Produksi Indonesia 2015 (PPI 2015) Kebab Baba Rafi. Tapi gerainya sepertinya sedang tutup, jadi sepi tak berpenghuni.

Saya jadi ingat perempuan cantik yang ngobrolin tentang Kebab Baba Rafi di panggung PPI 2015. Mbak Nilam, salah satu founder Kebab Baba rafi. Beliau menceritakan awal mulanya Kebab Baba Rafi didirikan, sampai kemudian sekarang menjadi franchise yang memiliki hampir 1000 outlet. WOW! bayangin, 1000 outlet! Tak hanya di Indonesia, tapi juga sampai di mancanegara seperti Malaysia, Brunei, Kolombo, Sanghai dan Filipina.

"Bermula dari satu gerobak, kini hampir 1000 outlet tersebar."

Kalau bukan karena niat dan kemauan yang kuat, Baba Rafi tentunya tak akan sebesar sekarang ini. Mbak Nilam, ketika di panggung PPI 2015 menceritakan bagaimana jatuh bangunnya Baba Rafi. Bermula ketika tahun 2003, waktu itu beliau mengisahkan kalau masih berada di bangku kuliah. Saat kuliah belum selesai, Mbak Nilam menikah dengan Mas Hendy Setiono. Memulai bisnis dengan modal dari kado pernikahan (yang berbentuk uang tentu saja) Mbak Nilam dan suami membuka usaha kecil-kecilan (bayangin dong, uang hasil kado pernikahan buat modal dagang. Ini sumpah keren banget) dari usaha kecil-kecilan yang dibuat ini ketika Mas Hendy berkunjung ke Qatar, ia kemudian tertarik ingin membuat kebab baba rafi. Setelah mencoba resep dan menyesuaikan dengan lidah Indonesia, Mas Hendy bekerja sama dengan kawannya Hasan Baraja membuka usaha kuliner kebab. (ini kalau nggak salah inget ada pinjam uang tambahan untuk modal. Mohon maaf kalau salah)

Tak disangka, usaha tanpa disengajanya itu banyak diminati di Surabaya. Tak hanya kebab yang dijual, saat itu mereka juga menjual hotdog, burger dan sandwich. Kebab turki baba rafi dijual seharga Rp. 8000-Rp. 12.000. Kebab baba rafi dikemas dengan sangat baik. Menurut Mbak Nilam, mereka berusaha bagaimana caranya biar ketika makan kebab itu tangan nggak kotor ke mana. Jadi kebab baba rafi dibungkus dengan wrap, baru kemudian dimasukan ke dalam kardus. Kemarin, waktu di Surabaya, saya habis makan satu bungkus kebab. Wew.... hebyat! Sejarah saya bisa makan kebab dengan ludes ^_^

Mengikuti perkembangan zaman, kebab baba rafi terus berusaha selalu mengikuti perkembangan tekhnologi. Menjadi partner pada sebuah film, bekerja sama dengan blogger untuk lebih mengenalkan baba rafi ke berbagai kalangan. Lebaran lalu, baba rafi membuat gerakan 5000 kebab gratis. Tak disangka, seminggu setelah launching sebanyak 7500 kebab dipesan melalui aplikasi. Betapa besarnya kekuatan sosial media. 

Maju di dunia bisnis, tak menjadikan baba rafi lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Adalah baba rafi akademi, sebuah Corporate Social Responbility (CSR) yang bertujuan untuk mengembangakn para usahawan muda belajar mengenai bisnis. Baba rafi akademi mengadakan kelas selama tiga hari untuk para usahawan muda yang ingin belajar mengenai seluk beluk bisnis usaha, dari mulai mencari lokasi, rekrut karyawan dan lainnya. Menurut Mbak Nilam, ini adalah sebuah usaha timbal balik karena selama ini baba rafi sudah didukung masyarakat luas. Sementara ini, kelas bisnis usaha muda baru diadakan di Jakarta. Menyusul kemudian adalah kota Surabaya. Semoga ke depannya semakin banyak kota yang dijangkau oleh baba rafi akademi dalam mengajarkan kelas bisnis untuk para calon usahawan muda.

Setelah menyebar di banyak tempat di Indonesia dan juga mancanegara, kebab baba rafi tak selalunya berjalan mulus-mulus saja. Jatuh bangunnya usaha kebab baba rafi, menurut Mbak Nilam justru itulah yang menguatkan kebab baba rafi tetap berdiri sampai sekarang ini. Kerja sama dengan banyak pihak, bantuan dari banyak pihak, itulah yang menyebabkan kebab baba rafi masih ada dan bertahan sampai sekarang ini.


 Mbak Nilam menceritakan awal mula berniaga

Sesi diskusi yang banyak dihadiri teman2 blogger (koleksi foto milik Mbak Ika)

Nggak cukup waktu buat diskusi di panggung, sampai di media center, Mbak Nilam dikerubutin buat njawab soalan :)


 Ramainya Kebab Baba Rafi di kunjungan PPI 2015

Seriusan, saya habis makan satu itu :D (maruk)

8 komentar:

  1. sayang nggak bisa ikutan PPI di Surabaya kemarin, sebenarnya aku lolos tapi ada agenda traveling ke Semarang Solo Yogya.
    Kisah suksesnya Baba Rafi sangat menginspirasi, jadi pengin coba tapi ga tau di Malang adanya dimana :D

    BalasHapus
  2. kebabnya mantap banget nih, kebab bab rafi emang no. 1...enak sekali...aku doyan banget ama ini kebab :)

    BalasHapus
  3. aku sukaa kebab, tapi kadang nggak habis karya kekeyangan... bolehlaahh nyoba ini kapan2

    BalasHapus
  4. waah... hebat ya... Saya juga suka kebab :)

    BalasHapus
  5. keren ya,dari 1 gerobak lo sampai2 outletnya dimana2...aku paling suka kebab ukuran besar,kl yang kecil g cukup,kurang soalnya hahahaha

    BalasHapus
  6. Aku mau kebab... suka banget malah hehehe. tapi yang ga pedes lo mbak :D

    BalasHapus
  7. kenapa ya saya ga dibikin suka sama kebab ? pkonya kebab burger saya kurang suka .. sukanya nasi atau apa gitu yaa dasar lidah indonesia yaa , senengnya masakan indonesia aja :D

    BalasHapus
  8. kebabnya enak, jadi nagih pengin makan lagi. :D

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P