Dari Buang Sampah, Sampai Shalat Jamaah (1)

Di salah satu tempat wisata alam (ini setelah dipotret sampahnya saya kutip kok)


Rabu 14 Oktober lalu, Saya sedang menunggu angkot bersama dengan Kakak dan tiga keponakan di depan rumah sakit Panggung Rawi Cilegon. Kakak saya masuk kesebuah minimarket yang ada di pinghir jalan.Di depan minimarket tersebut ada beberapa orang yang jualan juga beberapa orang yang baru keluar belanja dari minimarket. Saya memperhatikan gerak-gerik seorang perempuan bersama anak kecil yang baru keluar dari minimarket. Plastik yang dibawanya kecil saja, lantas ia mengambil barang dari plastik kemudian mengeluarkannya. Sebuah es krim, ia keluarkan. Lantas ia menjatuhkan begitu saja plastik yang dibawanya. Ia membuka bungkusan es krim, memberikan isinya kepada anak kecil di sebelahnya dan tak segan pula ia menjatuhkan bungkus es krim begitu saja seperti ketika ia menjatuhkan plastik dari minimarket tadi.

Saya memperhatikan dengan seksama, geram dan kesal dibuatnya. Padahal, tak jauh dari tempat tersebut ada dua tempat sampah. Tak lama, ia mengajak anak kecil di sebelahnya untuk membonceng motor, karena sudah ada perempuan satu lagi yang menunggunya. Sebelum ia menaiki sepeda motor yang tepat berada di depan saya, saya sempat menegur perempuan tersebut,

"Mbak, Mbak, itu sampahnya kenapa dibuang sembarangan? Kan, ada tempat sampah di situ?" saya menunjukan tempat sampah yang ada di depan minimarket dan tak jauh darinya.

Perempuan itu melihat saya dengan raut wajah yang susah sekali digambarkan. Sepertinya, amarahnya langsung naik ke ubun-ubun. Benci sekali dengan teguran saya dan bergeming tidak memungut sampah yang dibuangnya. Tanpa dosa, ia menaiki motor dan entah saya tak melihat lagi kelebatnya. Saya beranjak langsung memungut sampah plastik dan bungkus es krim yang dibuangnya dan meletakannya di tempat sampah. 

Mungkin, saat itu perasaan kami sama. Sama-sama menyimpan kesal dan amarah di dada. Perempuan itu kesal bukan main kepada saya yang menegurnya membuang sampah merata-rata. Sementara saya juga kesal melihat tingkah polah perempuan itu yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Mungkin juga, ia menganggap saya orang gila :D

Kenapa, sih, saya serese itu untuk urusan sampah? Ah! kalau ditanya kenapa, akan berderet panjang jawaban dan itu tanpa penyelesaian. Kalau kita menaiki commuterline dari arah Bogor menuju Jakarta, di sepanjang jalan Depok sampai Pasar Minggu, banyak ditemui tumpukan sampah di sepanjang jalur tersebut. Kadang, dalam hati saya selalu merutuki diri "Saya bagian dari orang-orang yang membuang sampah tersebut" 

Ngomongin sampah ini bukan perkara mudah. Sampah dan kebersihan urusan banyak orang, bukan hanya petugas sampah yang sudah dibayar saja. Dan saya lagi belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalau makan permen atau bungkusan apa di jalan, bungkusnya saya simpan di tas kalau sudah menemukan tempat sampah, barulah saya buang. Kalau pergi dengan teman-teman komunitas, kami juga keras sendiri dengan sampah. Kami membawa trash bag dan biasanya kami lantang menyuarakan dengan adik-adik untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Kalau lihat sampah itu diambil, bukan difoto." saya pernah membaca kalimat ini dari instagramnya Bu Maria yang dikutip dari kalimatnya Pak Ridwan Kamil. Sejak membaca kalimat tersebut, saya  belajar mengurangi memotret sampah, tapi memungutnya langsung dan dibuang ke tempat sampah. Kalau beli tiket Commuterline, di situ biasanya saya banyak melihat sampah-sampah yang berserak dari kuitansi pembayaran. Kalau kebetulan saya ada, saya akan memungutnya dan membuang ke tempat sampah. Heran, tho? Hal sekecil ini, kertas sekecil itu pun orang tak mau mengambilnya sekedar di kantongin dulu atau malah dibuang langsung. Padahal, tempat sampah yah berderet di situ.

Jujur, orang kita (termasuk saya) kepeduliannya masih sangat lemah untuk urusan sampah. Lihatlah kalau kita main ke gunung, ke laut atau ke mana aja tempat wisata, sampah berserak di mana-mana. Yang sedih itu kalau misalnya main ke tempat wisata alam, keindahannya selalu tercemar dengan sampah para pendatang. Kemarin, waktu ke Batu Lawang ketika berpapasan dengan adik-adik yang cantik dan ganteng, saya berpesan kepada mereka untuk kembali membawa sampahnya ke kampung. Meski lagi-lagi, di kampung tersebut juga sampahnya berserak tak terurus :(

Aduh, sungguh sampah ini bukan urusan mudah. Butuh banyak pihak untuk urusan sampah. Ada tiga faktor penentu sampah, saya, tukang sampah dan terakhir adalah tempat pembuangan sampah. Ketika kita (saya) sudah peduli dengan sampah dengan membuang di tempat yang tepat, lantas diambil oleh tukang sampah, di tempat terakhir ini belum tentu juga sampah berakhir dengan baik. Ada kalanya, saya menghibur diri "setidaknya, saya tidak membuang sampah sembarangan."

Dan tak sedikit, saya memikirkan kalau kelak saya akan tenggelam oleh sampah. Ah! saya jadi ingat urusan shalat jamaah, tapi nanti biar saya tulis lain....

Bersambung....

12 komentar:

  1. Hebat Mabk Anaz beranio menegur. Saya sih masih kurang sigap kalau ada yg buang sembarangan, apalagi dari mobil mewah. Padahal ya geram bener tuh. Biasanya kami kalo jalan ya mungutin sampah dah kayak pemulung sekeluarga. Biarin dah diliat aneh. Moga-moga sadar pada tuh....

    Spicles kalo ngomongin sampah nih. tempat sampah banyaaak, tapi malaaaaas. bahkan untuk ngantongin atau jalan dikit ke tong sampah....

    Doa....

    BalasHapus
  2. Aku pernah moto sampah. Berhubung di kali agak dlm, jd gak aku ambil

    BalasHapus
  3. Aku pernah moto sampah. Berhubung di kali agak dlm, jd gak aku ambil

    BalasHapus
  4. Ihh aku gemes banget sama orang yang buang sampah sembarangan. Temenku sampe kumarahin mba, beli susu kotak sebiji diplastikin, padahal mau langsung diminum susunya, jadi plastik dibuang gitu aja. Aku bilang, "kalo ga butuh diplastikkin kenapa harus pake plastik sih?"

    BalasHapus
  5. yup mbak begitulah orang indonesia, sdh jelas kebersihan sebagian dari iman, artinya iman kita lemah, krn iman itu bukan hanya ditentukan dg rajin solat ya. memang kadang menegur itu seringkali bikin orang marah? aneh kan? padahal dia yg salah.Jadi yg salah itu lebih galak dari yg bener. memang harus muali dari diri sendiri daripada negur bikin kesel!!!! mudah2an bisa jadi contoh buat org lain

    BalasHapus
  6. betul tuh mbak, sip patut diacungi jempol

    BalasHapus
  7. Praktek memang lebih baik daripada teori, mungkin bisa seperti itu ya mbak?

    BalasHapus
  8. Soalnya, Naz, 99% kita-kita ini belum bisa disiplin seperti di Jepang #katanya.

    BalasHapus
  9. Aku jadi ingat saat kita dengan asyiknya memungut sampah di hutan pinus. :D Aku jdi pingin posting ituu. :P

    BalasHapus
  10. Seringkali mobil didepanku buang sampah dari jendelanya. Dan biasanya aku langsung klakson keras2 :)

    BalasHapus
  11. merenung pagi-pagi setelah baca ini. hmm....makasih mba anaz :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P