Akhirnya, Bertemu Dengan Miftahudin

Di antara Miftah dan Mbak Atiek :)


Beberapa hari lalu saya menuliskan tentang Miftahudin di Instagram seperti ini,

Namanya, Miftahudin. Berasal dari Tegalgubug, Cirebon. Saya tak mengenali orang ini sebelumnya, sehinggalah suatu hari @ibu_atiek bercerita kalau Miftah ini ingin mengikuti Jambore Relawan.
Miftah, bekerja sebagai kuli serabutan dengan penghasilan tak menentu. Tapi keterbatasan itu menjadi kelebihan baginya. Ia membuat taman baca. Ketika ia bekerja, buku-buku diletakannya di depan rumah memudahkan siapa saja membacanya. Akhir pekan, ia keliling dengan motornya mengajak siapa saja untuk membaca. Ia membeli buku dari hasilnya sebagai kuli.
Miftah, ingin mengikuti Jambore Relawan, tapi ia tak mendapatkan undangan. Kata Mbak Atiek, ia sedikit memaksa karena ingin berkenalan dengan banyak teman.
Cerita Mbak Atiek menguras emosi saya. "Orang ini harus datang" tekad saya.
Menggunakan jatah kuota dari Hibah Buku, Miftah akan datang pada acara Jambore Relawan nanti.
Ah! Selalu ada mutiara-mutiara yang tak nampak....
Menuju Jambore Relawan 2015

Ini tulisan di instagram. Waktu saya baru diceritain sama Mbak Atiek. Saya langsung terpukau oleh cerita Mbak Atiek. Mendengar semangat Miftah, juga segala hal yang dilakukan oleh anak muda itu langsung "jatuh hati" bagaimana tidak, ia konon membangun perpustakaan dengan modal seadanya. Dan dia, juga bukan dari kalangan civitas akademis dengan gelar berderet. Miftah, hanya lulus sekolah dasar, ia hengkang ketika tidak naik kelas di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yah, ia hanya lulusan SD.

Pun ketika ia bercerita kalau pernah menjadi kuli bangunan di Jakarta. Sisa-sisa uang belanjanya ia gunakan untuk membeli buku. Itulah banyak hal yang membuat saya “jatuh hati” dengan Miftah. Maka ketika tanggal 28-29 November acara Jambore Relawan (jamrel) dilaksanakan, saya bertemu langsung dengan Miftah. Anaknya sepertinya pemalu, tak banyak omong dengan orang baru, tak nampak sombong dnegan apa yang dia lakukan. Terlihat lugu, tapi jangan salah ketika diajak ngobrol betapa ia anak yang cerdas dengan segala macam idealisme yang dimilikinya.

Ada yang membuat saya terenyuh dalam hati ketika hari pertama Jamrel. Dari awal, dalam email pemberitahuan kepada peserta kami meminta mereka membawa piring, gelas dan sendok sendiri. Karena kami panitia tidak menyediakan. Rupanya, tak semua orang membawa peralatan makan, termasuk Miftah. Hari pertama makan Miftah menggunakan kertas nasi. Ia semangat sekali mengajak saya makan. 

“Kanaz, sini makan. Sini, sini makan bareng,” Dengan ekspresi ketulusan yang ia tawarkan, hati saya justru tersayat-sayat merasa bersalah. Bersalah karena tidak menyediakan peralatan makan. Tapi, ketika hal tersebut diutarakan kepada Miftah dan teman-teman, ia menjawab dnegan senyman, “Nggak apa-apa, Kanaz. Kita malah senang kayak gini. Bisa makan bareng-bareng.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P