Perempuan itu Maunya Sendiri-sendiri

Sudah hampir tiga minggu, saya kembali bekerja rutin Senin-Jumat. Menikmati rutinitas baru ini tidak mudah, karena tempat kerja dengan tempat saya tinggal lumayan jauh. Saya tinggal di Citayam-Depok, sementara tempat kerja di Palmerah-Jakarta Barat. Menaiki Commuterline menuju tempat kerja memakan waktu hampir dua jam (tapi memang seringnya dua jam) heuuuu... tua di jalan ini, mah :D. Hari pertama dan hari kedua kerja, saya berangkat siang dan pulang lebih cepat, jadi tidak begitu merasakan hiruk pikuk penuhnya kereta. Hari ketiga, saya berangkat jam delapan pagi, sampai di kantor mendekati jam sepuluh, sedangkan pulangnya jam tujuh malam. Tapi itu tak pasti, kadang saya bisa berangkat lebih cepat atau pulang lebih awal hehehe...

Dulu, tak pernah menyangka kalau rutinitas blogwalking akan menjadi bagian dari kerjaan. Lah, ini korelasinya apa sama judul tulisan? Ah, iya.... Saya terlalu panjang prolognya....

Setelah hampir tiga minggu bekerja di kantor, saya baru mulai shalat jamaah di mushola lantai 5. Meski nggak selalu jamaah, tapi beneran saya kaget pas tahu mushola di lantai 5 dengan sajadah warna merah itu lumayan besar untuk ukuran kantor. Ya iyalah, kantornya juga besar kali, Naz :D :P. Selama ini, saya shalat di lantai 4, bukan musholla memang. Ada ruang kosong yang sering dipakai shalat oleh banyak orang di lantai 4. Jadi, saya ikutan aja shalat di situ karena pekerja baru. Maklumlah, masih malu-malu dan masih belum kenal banyak orang.

Yang bikin saya mulai kerasan di kantor, itu ramainya shalat jamaah ketika maghrib. Jamaahnya banyak, shaftnya yang lelaki hampir penuh, bahkan selalu penuh. Berbeda ketika shalat dhuhur, ashar sama isya yang shaftnya lebih pendek. Untuk jamaah perempuan, shaftnya tidak begitu penuh, karena terkadang ada yang shalat lebih dulu. Nah, di jamaah perempuan ini kadang saya suka nelangsa sendiri dalam hati. Satu barisan shaft, kami tak  saling berdekatan, siku tak saling bersentuhan. Saya suka miris sendiri. Eh, kenapa miris begitu? Iya, dalam jamaah itu jadi kayak masing-masing aja. Saya jadi ingat, dulu waktu ngaji ustadz pernah bilang begini, “Perempuan itu susah, egois. Mau menang sendiri. Lihat aja kalau shalat, jarang banget mau jamaah. Paling sendiri-sendiri.” Nah, itu kalimat bertahun-tahun lalu diucapkan oleh guru ngaji (saya lupa ini guru ngaji di mana.

Kejadiannya bukan cuman di kantor tentu saja. Kalau waktu shalat singgah di mushola perempuan di stasiun, jamaah perempuan tentunya jarang sekali yang jamaah. Berbeda dengan jamaah lelaki, yang selalu berjamaah ketika shalat. Dan saya, mulai merenungi kalimat ustadz beberapa tahun lalu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P