Membukukan Banten

Nongkrong iseng-iseng ^_^


Tiba-tiba, saya mengagumi pria yang ada di depan saya. Pria berbadan kurus, berambut panjang yang saya kenali belum dua puluh empat jam. Saat itu Kak Magda mengenalkan kawan barunya kepada saya, Mas Jimo namanya. Persoalan saya mengaguminya sederhana saja, berawal dari perbincangan kami mengenai dunia pendidikan dan kritik mengkritik.Ucapan-ucapannya itu banyak yang bikin saya bengong. Mas Jimo, mengenal anggota dewan yang berkaitan dengan dana pembangunan sekolah. Ia sedang mencari beberapa sekolah yang akan dibangun.Tapi Mas Jimo dengan terang mengatakan kalau dirinya bukan calo dan bukan orang yang meminta persen dari alokasi dana bantuan sekolah tersebut.

"Saya nggak minta bagian apa pun. Saya masih bisa nyari duit, jadi kuli pun saya masih bisa." kata Mas Jimo ketika menceritakan perihal bantuan dana sosial tersebut kepada temannya. Ya, dirinya tak meminta apa pun. Selain ia berharap pembangunan dilakukan di sekolah yang tepat dan kepada orang yang tepat.
Itu satu hal pertama yang bikin saya ngefans sama Mas Jimo.

"Kalau mau kritik pemerintah, yah kritik aja. Sewajarnya, nggak usah berlebihan. Jangan juga gencar mengkritik, tapi giliran dikasih bagian dari pemerintah yang ada duitnya diem." Wogh! ini kami ceritanya sedang membicarakan orang, berghibah. Eh, saya nggak tahu ini ghibah atau bukan, ini ghibah fakta :D. Jadi, saya itu merasakan sedikit kejanggalan dengan si A yang kami kritik itu. Nah, rupanya Mas Jimo ini punya pandangan yang sama dengan si A ini ( atau mungkin kami saja yang berbeda pandangan)

Itu pertemuan pertama saya dengan Mas Jimo yang bikin saya ngefans, eh kagum ndink :))))

Dua minggu yang lalu, saya kembali bertemu dengan Mas Jimo. Seperti biasa dengan teman-teman, Kak Magda, Wawan, Eha dan Kak Dita. Ini Kak Magda kalau saya pulang semangat banget nyulik saya ke mana-mana. Malam itu kami nongkrong di Rumah Kopi, Benggala-Serang. Rumah Kopi ini milik kawannya Kak Magda. Pertama kali masuk ke Rumah Kopi, saya suka karena ada bukunya. Suka banget itu pas lihat ada bukunya Hoegoeng. Saya langsung minta ke kasirnya buat dibawa ke atas.

"Yakin mau dibaca?" tanya pemilik Rumah Kopi. Saya nyengir nggak yakin, karena kalau sudah ngumpul biasanya kami lebih banyak ngobrolnya. Ngobrol santai-santai ^_^ 

Tak ada niat untuk ngomongin hal-hal penting. Karena memang kami nggak mau ribet dengan hal-hal penting. Rutinitas harian buat kami sudah cukup ribet untuk dilupakan sejenak ketika bertemu. Ngobrol sambil minum kopi ditemani cemilan khas dari Rumah Kopi, tiba-tiba Mas Jimo urun pendapat.

"Nulis buku mengenai Banten, yuk?" Dita yang duduk di depan saya terlihat mulai gelisah. Sepertinya, ia terlalu serius menyimak obrolannya Mas Jimo. "Sudut pandangnya dari kita-kita aja, baik sebagai pendatang atau pun warga lokal Banten.Gaya bahasa pun nggak harus resmi, sesuai karakter teman-teman aja. Nanti buku ini buat dokumentasi kita aja, kalau kita pernah nulis tentang Banten." kata Mas Jimo lagi mulai menjelaskan sedikit demi sedikit mengenai idenya itu.

Kalau ngomongin buku tentang Banten, saya menelusuri jagat google, sepertinya memang sudah agak banyak yang menuliskannya. Tapi sebagian besar ditulis oleh praktisi (praktisi iki opo, tho? :D) Kalau nggak salah inget, teman-teman relawan Rumah Dunia juga sudah pernah menuliskan buku mengenai Banten ini. Nah, konsep yang ditawarkan oleh Mas Jimo ini menulis berdasarkan pengelaman dan sudut pandang kita atau siapa saja yang mau terlibat dan melibatkan diri menulis mengenai Banten. Tentunya, ada banyak sekali perubahan-perubahan dari Banten sebelum menjadi propinsi, sampai menjadi propinsi.

Mas Jimo sendiri sudah beberapa kali menulis tentang beberapa buku, kalau ngobrol di facebook, beberapa buku yang pernah ditulis Mas Jimo itu,

"Kota Semarang aku nulis dua tema: Dampak Industri Terhadap Pemukiman dan Dampak Komplek Perumahan Terhadap Kampung. Batang, aku nulis tentang Masyarakat Kampung Dekat Perkebunan. Lombok utara, aku nulis Tentang Kampung Komunitas Minoritas Kaum Buda. Batanghari aku nulis tentang Jalan Raya dan Relasi Etnis di Jambi. Syukurlah, semua bukan buku untuk dikomersilkan. Jadi nulis ya senulis-nulisnyanya aku, tanpa mikir laku dibeli. Yang kupikir utama cuma biar dokumentasi yang kubuat dibaca orang, siapa tahu berguna."

Huwoooo... itu yang sudah ditulis Mas Jimo banyak banget ^_^ semoga kami bisa mengikuti jejak Mas Jimo, menulis untuk merekam jejak sejarah waktu yang sudah dilewati. Ayo! Siapa yang mau ikutan! ini baru sebatas wacana dan semoga segera terlaksana. AKhir tahun depan, semoga sudah bisa menimang bukunya. Terima kasih atas ide kerennya, Mas Jimo.

Salah satu buku mengenai Banten




1 komentar:

  1. Haduuh aku deg2an baca pembukaannya. Mungkinkah dia ..... Heheheee. Menulis genre seperti ini berarti beliau sangat tekun melakukan riset. Salut.

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P