Padepokan Kopi



Padepokan Kopi. Kalau saya nyari-nyari arti kata padepokan dalam bahasa Indonesia itu katanya, tempat persemedian (pengasingan diri) raja-raja di Jawa pada masa yang lalu. Tapi sekarang makna padepokan lebih umum merujuk sebagai tempat kreatif seni baik sebagai sanggar seni tari, seni lukis, seni beladiri dan sebagainya. Pokoknya, yang ada kaitannya dengan budaya bangsa macam itulah. Lantas, kalau Padepokan Kopi macam mana? Seperti tempat belajar ngopi mungkin, ya? Hiyah, ngarang banget.

Sabtu 26 Desember 2015, Kak Magda mengajak saya ke Serang. Seperti biasanya, kalau saya lagi ada di rumah, kerjaannya itu nggak jauh-jauh dari diculik sama orang cantik itu. “Culik Suranaz kalau dia pulang” itu sepertinya menjadi slogan tak berkesudahan. Dulu, sih, sama Suraip. Tapi semenjak Suraip menjadi suami akhir pekan dan kini menjadi suami siaga di Bandung, kami (terutama sekali saya, jarang sekali bertemu)

Jam enam lewat, kami menuju Giant demi mencari ikan tongkol buat bekal Piknik Buku yang gagal. Saya kira, setelah dari Giant itu akan pulang, rupanya Kak Magnet sudah punya rencana mengajak saya ke Serang. “Kita ke Padepokan Kopi, tempat ngopi baru punya teman, dia alumni Rumah Dunia.” Kata Kak Magda ketika saya menanyakan akan ke mana. Tak bisa tidak, saya adalah orang yang buta daerah di banyak tempat, tidak kampung halaman yang di Pemalang, apatah lagi Serang.

Mendengar nama Padepokan, kepala saya membayangkan sebuah tempat seperti pendopo, di mana di situ akan banyak berseliweran murid-murid yang akan belajar silat. Ya, isi kepala saya dilemparkan jauh-jauh ke sebuah zaman di mana banyak pendekar yang beredar.

“Sekarang banyak tempat nongkrong, Kak, di Serang itu.” Itu kata Kak Magda waktu saya bilang, “Di sini nggak banyak tempat nongkrong, sih.” Yah saya sotoy saja sebenernya, lah wong kenal Serang aja enggak :D

“Eh, tapi saya lupa tempatnya,” Kak Magda sibuk menyetir, menembus jalanan macet di sekitaran alun-alun Serang yang memang selalu ramai, apalagi menjelang akhir pekan. “Nah! Ini Kak Nanaz, akhirnya ketemu.” Kak Magda menepikan mobil dan memarkirnya di seberang Padepokan Kopi. Memasuki lokasi Padepokan Kopi, bayangan pendopo dengan beberapa pendekar yang beradar langsung buyar dari kepala. Karena yang ada di depan saya adalah sebuah rumah di mana halaman depannya disulap menjadi beberapa bagian. Ada gubug lesehan, ada ruangan dengan dua kursi tempo dulu, ada juga kursi yang dibuat dari ban bekas yang diletakan berhadapan di tengahnya ada meja bulat dari bahan yang sama, hanya atasnya saja yang berbeda diletakan alas kaca. Yah, pokoknya etniklah kalau kata saya, mah :D

Pas lihat ada balon-balon ini saya bilang ke Magda, "Ini balon merusak keetnikan Padepokan Kopi." dan rupanya, malam itu ada yang ulang tahun :D


Di beberapa meja, tersedia kendi berisi air putih, yang ketika saya sentuh, memang terasa dingin dan berembun. Ini jadi inget zaman kecil dulu ke rumah Nenek di Blora, saya pernah minum dari air kendi :D disodorin menu hidangan yang tersedia, saya terkejut melihat harga-harga yang tertera. Berbagai macam cita rasa kopi daerah dibandrol dengan harga yang cukup murah, rerata dari Rp. 6000-Rp. 10.000. Ya, itu murah sekali menurut saya. Sebagai orang bukan penggemar kopi, tapi saya sedikit kenal harga-harga kopi yang katanya enak. Menu cemilannya pun murah, rerata di bawah Rp. 10.000. Eh, saya kalau nemu tempat nongkrong yang asyik dan murah bawaannya pengen dibawa ke Jakarta aja #Ehhhhh

Cemilan di Padepokan Kopi


Saya lupa memesan kopi apa. Mas Koelit Ketjil menyambut kami dengan ramah, diterangkannya beberapa jenis kopi juga cara penyajiannya dan saya hanya menyimak saja. Karena saya memang bukan penggemar kopi, tapi cuman penikmat kopi sachet-an :D. Karena sebelum ke Padepokan kami makam malam dulu, jadilah kami hanya memesan cemilan satu porsi. Tak lama kami duduk, Mas Jimo datang yang katanya malam itu mengajak serta Peri, teman yang saya kenali ketika mengikuti Bimbingan Teknis Asosiasi Tradisi Lisan di Bandung awal bulan Desember lalu. Pun kemudian, Ijal bukan penggemar kopi datang menyusul kami.

Kalau sudah ketemu teman-teman, bermacam obrolan berdatangan. Dari mulai Peri, yang istrinya orang Serang itu rupanya belum lama tinggal di Serang, meski kerap bolak-balik Serang-Bandung dan Bandung-Serang, tapi kali ini ia akan menetap di Serang (ini nulis apa?) :))))) tertarik ketika Mas Jimo menjelaskan tentang Peri yang S2-nya mengambil jurusan teater. Peri berniat mengajarkan teater dalam workshop-workshop untuk para pelajar dan para pendidik. Dari obrolan itu, saya baru tahu kalau teater di daerah Cilegon dan Serang itu sudah banyak, tapi belum banyak yang keluar daerah. Ini kata Ijal dan Mas Jimo. Malam itu, saya dengan Kak Magda benar-benar menjadi pembaca keadaan. Karena selain obrolan-obrolan rasional, tak sedikit pula hal-hal irasional zaman pra sejarah pun dibahas.

Semoga lain kali bisa berkunjung lagi ke Padepokan Kopi mengajak teman-teman dari Jakarta dan teman-teman dari Sekolah Raya, kayaknya bikin acara Ngopi Tiga Generasi, kan bagus ^_^. Sekalian nggeret om Agus mudik ke Banten :)

Cara penyajian kopi (Kak Magda modelnya) :D

Ini cawan kaleng dari zaman apa coba? :D

Berbagai jenis kopi

Ijal, mah, nggak doyan kopi

Suasana malam hari

Suasana siang hari, ini nyulik foto dari lapaknya mas Koelit Ketjil




3 komentar:

  1. Padepokan kopinya enak banget ya, sederhana tapi nyaman banget. Pasti betah kalau ngobrol disitu

    BalasHapus
  2. tempatnya menarik..cuma ya jauh itu..
    konsepnya mirip sama klinikkopi di jogja :D

    BalasHapus
  3. Aslik gw jadi laper pagi-pagi buta liat poto tahunya. Semoga itu bukan tahu formalin. Ehhh tahu sutera di warung lekko udah pernah coba? Enaaaaaaaak

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P