Menikmati Satai Kambing di Halaman Belakang




Halaman Belakang. Sebetulnya, ada banyak janji hutang kepada diri sendiri untuk menuliskan tentang Halaman Belakang. Ini dikarenakan saya sudah dua kali ke sana. Pertama, dengan teman-teman KORSI yang nyaris tertinggal kereta satu rombongan. Kedua, ketika saya ke sana sendirian kemudian ditemani oleh Dina dan keesokan harinya adalah Ochie. Cerita perjalanan hampir tertinggal kereta sudah ditulis di sini, tapi isi perjalanan ke sana tidak ditulis -_-. Dan, Jumat lalu rezeki waktu kembali mengantarkan saya ke Halaman Belakang. Tidak seramai dua puluh orang tentunya, tapi hanya lima orang yang menyesatkan diri tengah malam.

Bermula dari niatan Om Agus yang ingin silaturrahim ke kota Cirebon bertemu dengan teman-teman dari beberapa komunitas, saya orang yang tak resmi ditunjuk sebagai narahubung dengan teman-teman di Cirebon. Yah, cuman dengan Mbak Atiek sama Fikri aja, sih, sebenernya :D. Komunikasi-komunikasi dengan Mbak Atiek, saya sedikit bingung menentukan tempat. Inginnya, kalau bisa selain teman-teman Mbak Atiek ada Fikri dan Fitri ikut sekali ngobrol-ngobrol bersama kami. Mbak Atiek mengajukan beberapa tempat, yang saya sendiri nggak tahu barat utara selatan atau mana yang terdekat :D. Awalnya hendak di Palimanan, rupanya itu jauh dari kota dan Fikri merasa keberatan. Akhirnya pindah di kota, di kampus pasca sarjana IAIN. Yang ternyata, akhirnya Fikri pun nggak datang juga -_-. Apa-apaan ini? Huh!

Tanggal 1 Januari 2016, kami meluncur menuju Cirebon bersama dengan Om Agus, Aun, Kak Ije, Hilda juga saya. Berangkat dari Jakarta pukul dua siang, setelah terlambat menunggu kedatangan saya yang paling akhir -_-. Sampai di kota Cirebon menjelang maghrib setelah melewati terang, hujan, terang, hujan lebat dan terang lagi.

Akhirnya, setelah selesai ngobrol di kampus pasca sarjana IAIN, kami (Kak Ije, Om Agus, Aun, Hilda beserta saya) meluncur menuju halaman belakang. Sebelumnya, tak ada niatan untuk mengunjungi Halaman Belakang. Saya kira, setelah selesai ngobrol di Sinau Art, Om Agus akan langsung pulang. Rupanya, setelah mendengar Fikri komentar di facebook menyediakan sate, Om Agus justru mengajak kami ke Halaman Belakang. Sisi lain isi obrolan di tempat sinau art, sepertinya harus ditulis dalam postingan lainnya dan memang harus :)

Tamu tidak diundang :))))))


Jam sepuluh kurang, kami meninggalkan Sinau Art, menuju Halaman Belakang setelah sebelumnya Aun mencari di google map. Saya, meski sudah dua kali ke Halaman Belakang, nggak hapal jalan, apalagi malam-malam. Kak Ije pun demikian. Alhamdulillah, berdasarkan google map yang berhasil motong kompas jalan, kami sampai dengan selamat ke Desa Domyong Wetan. Sementara di tengah perjalanan, saya ngobrol dengan Fikri dan dia nggak percaya kalau kami menuju rumahnya. Benar-benar nggak percaya. Iyalah, soalnya saya sering membual sama Fikri :D dan Fikri, harus menyiapkan satai kambing seperti komentarnya di facebook.

"Ini udah malam, Kanaz. Tukang satainya sudah tutup."

"Pokoknya nggak mau tahu. Sediain makanan yang banyak." dan itu, sih, instruksinya Kak Ije :D :))))) terus Fikri masih nggak percaya. Smapai akhirnya, dia bilang mau nyari makanan sambil jemput Fitri sekalian :)

Sampai di rumahnya Fikri, hampir jam 11 malam. Rumahnya sepi, tak berpenghuni. Ayah, ibu, serta adik-adiknya Fikri sudah kembali ke Jakarta. Kami, tamu-tamu songong langsung masuk ke dalam, membuka garasi dan menutupnya kembali. Tamu nggak sopan, udah datang hampir tengah malam, maksa disedian makanan, masuk sendiri pula tanpa ada yang mempersilakan :D Saya dan Kak Ije langsung pose foto di perpusnya, biar bisa langsung dipamerin sama teman-teman :)))))

Sebenernya ada tiga bungkus


Nggak lama kami duduk, Fikri datang sama Fitri. beneran mereka berdua bawa bungkusan plastik besar kelihatan berat pula. Dalam hati langsung merasa bersalah, gara-gara minta dibawain makanan banyak, ini beneran dibawain makanan banyak banget. Pas dibuka, isinya tiga bungkus satai kambing dan 14 bungkus nasi. Ya Allah.... ini anak dendam apa gimana? Masak kami datang berlima dibawain nasi 14 bungkus? -_- terang aja, Fikri langsung diomel-omelin. yah ama saya, yah sama Kak Ije ;))))) (memang tamu nggak tahu diri hahahaha) Kak Ije malah hebat, ngomelin sambil njambak rambutnya Fikri  :D

"Biasanya nasinya isi dikit, kayak di nasi jamblang gitu. Tiga suap habis, tiga suap habis. Makanya kami pesennya banyak." Fitri dan Fikri memberikan penjelasan. Fikri sibuk mengambil piring dari dalam rumah, sementara beberapa gelas sudah tersedia di meja Halaman Belakang. Seperti biasanya, di meja Halaman Belakang, ada gelas yang sudah tersusun rapih. Biasanya sekalian ada termos, gula juga kopi di situ. Meski nelangsa lihat nasi yang begitu banyak, tapi kami tidak nelangsa melihat satainya. Nggak pakai lama, satai langsung habis, satainya enak. Om Agus pun bilang kalau satainya enak :) dan Kak Ije, dia nggak makan satai sama sekali, karena emang nggak doyan kambing  ^_^  

Terima kasih banyak hidangan satainya, Fikri dan Fitri yang sudah mengorbankan waktu istirahatnya menyambut kami. Terima kasih banyak juga buat Om Agus, Kak Ije, Hilda juga Aun. 

Kami langsung nampang! :D

Sepertinya Kak Ije sedang mengenang pertama kali ke sini yang ketinggalan kereta :)))))))))

kapan ke sini lagi? ^_^


2 komentar:

  1. Wah kayaknya enak tu sate kambing nya...

    BalasHapus
  2. nikmat ya mba klo makan rame2, btw itu 14 bungkus habis kah? :D

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P