Sederhananya Malaysia dalam Promo Pariwisata



Ada sebuah anekdot yang acap saya dengar ketika masih di Malaysia, "Banyaknya mahasiswa kedokteran Malaysia yang belajar di Indonesia, karena nanti akan kembali mengobati orang-orang Indonesia." Beredarnya anekdot seperti itu bermula ketika banyaknya warga Indonesia yang berasal dari Medan, Aceh, Batam dan sekitarnya datang berbondong-bondong ke Penang-Malaysia untuk berobat. Beberapa alasan keluarga pesakit yang berobat ke Penang adalah, bagusnya pelayanan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit setempat, sehingga mereka lebih memilih berobat ke Penang-Malaysia berbanding ke Jakarta atau Pulau Jawa lainnya.

Kalau dilihat lagi secara kebanyakan, mayoritas mahasiswa Malaysia yang belajar di kedokteran itu mengambil pendidikan di tiga negara, Mesir, India juga Indonesia. Saya tak tahu pasti berapa prosentase dari ketiga negara tersebut. Tapi saya mendapatkan maklumat tersebut dari adik ipar anak majikan saya ketika saya masih bekerja di Malaysia. Kebetulan, adik ipar anak majikan saya kuliah di kedokteran. ia mengambil kuliah dokter di Malaysia dengan biaya beasiswa, sementara pacarnya yang kuliah ambil kedokteran atas biaya sendiri mengambil gelar dokternya di negara India.

Lantas, apa hubungannya kedokteran, rumah sakit juga dengan pariwisata Malaysia?

Senin, 11 Januari 2016 lalu Mbak Olyp mengajak saya kopdar di Grand Indonesia bertemu dengan Sham, salah satu teman dari Malaysia yang bekerja di Gaya Travel datang ke Jakarta. Sham saya kenali ketika saya diundang oleh Gaya Travel saat event Pesta Candat Sotong 2014 lalu di Terengganu.

Sepulang kerja, saya meluncur ke Tebet untuk bertemu dengan teman-teman Skeolah Raya. Setelah maghrib, baru saya meluncur ke Grand Indonesia menaiki Gojek. Kalau boleh dibilang, saya itu paling malas menuju mall Grand Indonesia. Entahlah, buat saya Grand Indonesia itu simbol kesombongan :))))) #Abaikan. Dan kalau bukan karena akan bertemu dengan Sham, tentunya saya malas sekali mengunjungi Grand Indonesia. 



Sampai di Grand Indonesia, sudah pukul 20.00 lewat. Sham dan Mbak Olyp sudah sampai, mereka sudah menghabiskan minuman juga kudapan yang terhidang di atas meja. Setelah basa basi bertanya kabar, Sham langsung membicarakan tujuan dia datang ke Jakarta minggu lalu. Rupanya, ia ada misi untuk bertemu dengan beberapa media besar di Jakarta dan Bandung untuk sebuah kegiatan "Medical Tourism Fam Trip" yang akan dilaksanakan pada 7-11 Maret 2016. Setelah sukses dengan Candat Sotong, Jom Jelajah Koperasi dan beberapa serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Gaya Travel rupanya kali ini mereka menjelajah pula bagian kesehatan (rumah sakit) 

"Kenapa berkunjung ke rumah sakit?" saya bertanya penasaran.

"Sebab, menurut data rumah sakit setempat, pengunjung Indonesia yang berobat ke Penang ini mulai berkurang. Sebetulnya, pengurangan ini ada beberapa sebab, salah satunya adalah turunnya perekonomian global. Jadi ia sangat berpengaruh kepada rumah sakit. Medical Tourism Fam Trip dibuat untuk kembali menggalakan orang Indonesia untuk kembali berobat ke Malaysia," wow! saya tercengang. Bahkan, untuk urusan rumah sakit pun pemerintah ikut campur untuk mempromosikan. "Kita, ni, di Malaysia promosinya kurang, berbanding  rumah sakit di Singapura." tambah Sham lagi. Saya langsung terbayang rumah sakit Elisabeth Singapura. Tak bisa tidak, bahwa pelanggan Indonesia pun banyak di rumah sakit Elisabeth tersebut. 

Kedatangan Sham ke Jakarta dan Bandung kali ini tujuannya buat berkoordinasi dan berkomunikasi langsung dengan beberapa media-media yang ada di Jakarta. Baik media cetak maupun media televisi. Mbak Olyp, langsung memberitahukan kepada Sham, kalau saya kerja di Indonesiana (blog milik Tempo)

"Kalau gitu, besok saya ke kantor kamu." kata Sham di sela-sela obrolan kami. Selain ke Tempo, Sham juga akan berkunjung ke Kompas, Jakarta Pos, Jawa Pos dan beberapa media lainnya. Untuk Kompas, jakarta Pos dan Tempo Sham bisa satu arah karena ketiga-tiga kantor tersebut berada di Palmerah. Kami ngobrol apa saja, biasalah selayaknya ketemu dengan teman-teman blogger. Jam sepuluh, kami mulai beranjak pulang. Saya bareng Mbak Olyp naik taksi turun di Sudirman, sementara Sham naik taksi menuju penginapannya di daerah Sarinah.

Besoknya, Sham betul-betul datang ke kantor. Waktu itu, di kantor lagi rada sibuk karena ada acara Tempo 45 tahun juga sekaligus Ngopi di Kantor . Jadilah Sham bisa melihat sedikit hiruk-pikuk di kantor. Bertiga (saya, Mas Rob dan Sham) mengelilingi kantor sebentar. Karena Sham waktunya sangat terbatas. Sham dikenalin ke Mas Yosep, kami sempat berbincang-bincang tak begitu lama mengenai konsep "Medical Tourism Trip" sebelum beranjak meninggalkan kantor, Sham dikenalkan juga dengan Mas Wahyu dan dikenalin orang dari majalah treavel Tempo (ini saya baru tahu :D)

"Sham, naik gojek aja ke Jawa Posnya." saya ngomporin Sham buat naik gojek untuk mengejar waktu.

"Eh, nanti tak kotor ke baju?" nah! ahahahaha... seriusan saya ketawain dia

Sham naik gojek! :D


"Nggaklah, Sham. Lagian nggak hujan." dan akhirnya Sham akur, mau naik gojek :))))

Setelah Sham pulang, saya ngobrol dengan Mas Rob sama satunya lagi saya lupa :D. Kata Mas Rob, komunikasi yang dibawa Sham itu bagus. Ia datang langsung mengunjungi media, padahal dia bisa saja berkomunikasi via email. "Ini yang dibahas sama Bre Redana mengenai Senjakala Digital. Kehadiran, itu penting, kehadiran yang terlihat." ya, dan saya pun mengamini apa yang dismapaikan oleh Mas Rob. 

Saya jadi terngiang-ngiang ketika Sham bilang, "kami tak banyak punya pariwisata, jadi kami harus semaksimal mungkin memanfaatkan pariwisata yang ada. Sementara, Indonesia begitu banyak memiliki pariwisata." itu ketika kami membahas tentang candat sotong (mancing cumi) yang menjadi bagian pariwisata yang dijual secara besar-besaran di Malaysia.


Barangkali, kalau membaca ini Sham akan tahu jawaban kenapa pengunjung rumah sakit Indonesia berkurang dari Malaysia. Salah satunya adalah adanya BPJS, di mana pengobatan dicover oleh pemerintah. Tapi, banyak beredar kabar kalau pelayanan BPJS tidak begitu memuaskan, jadi bukan tidak mungkin kalau setelah ini rumah sakit-rumah sakit di Penang akan kembali ramai oleh warga negara Indonesia. Lantas, apa peduli kita untuk ikut mengembangkan pariwisata ketika di Malaysia, rumah sakit jumlah pengunjungnya turun pun pemerintah ikut campur tangan? :(





4 komentar:

  1. saya kok selama ini belum pernah nongkrong di mall ya, takut harganya yang mahal... paling numpang lewat aja kalau mau nonton film

    BalasHapus
  2. Ekonomi tak bagus jadi segala aspek yg blh meningkatkan ekonomi harus dipromosi

    BalasHapus
  3. selanjutnya transportasi di indonesia disubsidi agar lebih murah
    pada akhirnya masyarakat akan memilih wisata di dalam negeri dengan biaya yg lebih terjangkau :D

    BalasHapus
  4. Waw.. saya tercengan dengan cerita ini.. pantas mereka selangkah lebih maju dari kita..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P