Jatuh Cinta (lagi) Berkali-kali



“Anaz... Anaz. Sudah tidurkah?” Jumat malam 18 Februari 2016 pukul 22.49, salah seorang teman menegur saya di whatsapp. Sebelumnya, saya baru selesai mencuci piring dan di saat mencuci piring itu saya mengingat teman yang menegur.

“Belum. Kepiye, kak? Ada apa? Mau beliin saya tiket?” naluri keisengan selalu menghantui teman-teman dekat saya.

“Ogah!.” Balasnya lagi via whatsapp kejam. Doh, tak jadilah saya jalan-jalan gratis :D

“Trus ada apa?”

‘Sik sik...”

Dan tak lama setelah itu ia mengirim sebuah foto saat kami kumpul di salah satu kafe di daerah Jakarta yang menyediakan segala macam cemilan kekinian. Tak lama dia kirim foto, saya pun mengirim sebuah foto ke dia, dengan gambar salah satu teman (sebut saja namanya Nuril mehehehe) yang lagi duduk di tepi sungai, niat saya sih ngajak ke tempat tersebut. Lantas saya menanyakan lagi ada apa dengan foto yang dia kirim.

“Ingat yang aku bilang mau ngobrol tapi enakan malam?” 

“Yooo,”  Dan karena foto yang saya kirim itu, dia surprise banget dan mulai lupa dengan bahasan apa dia menyapa saya. “Mau ngobrol apa, sih?” saya kembali mengingatkan niatnya :D:P

“Ingat kamu pernah tanya aku, soal pernah dekat sama brondong? Baru mau bilang, aku Cuma sempat jatuh hati sama brondong sekali.” nah, teman saya ini ajaib! Gara-gara saya sering foto sama teman-teman pemuda keren, saya dikasih julukan ratu brondong -_- padahal mah, ya, foto doang.

“Owh iyaaaa... jadi, kamu jatuh hati sama si Nuril? Seriusan? Zoom in zom out.” Sambil saya kirim emot macam-macam tentu saja.

“Hahahaha... sudah berlalu. Tapi beneran iyes.”

“Kok bisaaaa? Eh, soalan aneh ini. Hahahaha...” saya terpingkal-pingkal membalas chatnya tentu saja. Kalau dekat, segala macam benda tentunya sudah saya lemparkan ke dirinya :)))))

“Menangkap banyak hal menarik dari dirinya sepanjang ngobrol di kafe. Dan itu buat pertama kalinya aku ngalamin jatuh hati sama orang di pertemuan pertama.” Saya masih terpingkal tentu saja, dan membalas chatnya pun sekenanya.

“Ya Tuhan... Anaz kok nggak pernah jatuh hati sama brondong, ya? Ih, aneh beneran, Kak. Sumpah saya bengong. Hahahaha...”

Dan begitulah, sepanjang chat saya lebih banyak mentertawakannya. Meski saya sadar, apa pun yang berhubungan dengan perasaan tak dapat dicerna dengan logika, tapi akal sehat bisa memilihnya. Apalagi, urusan jatuh cinta. Pun dengan kawan saya yang satu ini, dari penampilannya dia bukanlah jenis orang yang mudah jatuh cinta. Jarang sekali pula dia menceritakan tentang masalah hati pada setiap interaksi. Orangnya kadang terlihat tegas dan acap serius, tapi bukan berarti ia tak bisa diajak menggila. Maka ketika ia curhat telah jatuh cinta dengan teman saya yang baru diajak bertemu sekali, saya tentu saja tertawa. Apalagi, teman saya itu usianya jauh lebih muda. Tapi,  balik lagi siapa bisa menolak jatuh hati?

“Sekarang masih jatuh hati, Kak?”

“Ntah, mungkin enggak. Menarik aja dia, cuek ngojek terus ambil S2 CSR, cinta Indonesia banget dan sholatnya cukup tertib. Aku, sih, nggak larut jatuh hati. Karena sadar beda usia lumayan jauh kayaknya. Hahahaha...,” padahal, beda usianya nggak begitu jauh :D mehehehehe. “aku kadang kepoin akun-akun media sosialnya.”

Mencerna lagi obrolan di atas, saya jadi balik ke diri sendiri. Semacam cermin untuk berkaca, saya jadi meraba ke dalam diri. Tak jarang, saya pun acap jatuh hati pada tempat yang salah. Pada tempat yang tak seharusnya. Sama seperti kawan saya di atas, ia jatuh hati padahal baru bertemu sekali. Tambah jatuh hati lagi, ketika melihat Nuril banyak melakukan hal-hal yang dianggap baik. Lumrah dan wajar. Kembali kepada pemilik hati, sejauh mana ia bisa mengatasi hati dan perasaannya (hati sama perasaan itu sama nggak, sih?)
Jadi ingat, sekitar akhir tahun 2013 saya mengagumi seorang teman yang memang keren. Keren karena hal-hal yang dia lakukan. Lain itu, saya tidak tahu kenapa harus mengagguminya. Tapi, saya sadar sejauh mana saya mengagumi teman tersebut. Hanya bisa mengagumi diam-diam dan mendoakannya diam-diam tentu saja, sampai akhirnya saya berhasil melepaskan semua perasaan kagum dan yang terpendam dalam hati itu betul-betul menjadi rasa tulus kepada seorang teman. 

Halagh, ini jadi saya yang curhat :))) ahahahaha... malah kepengen curcol bersambung :D (kayak rajin aja)

3 komentar:

  1. Selama cinta itu ada di hati mansuia, ia tidak akan pernah lekang dan tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas. Seperti kata dalam bait lagu dari penyanyi Doel Sumbang bahwa Cinta itu anugerah dan berbahagialah karena kita bisa punya cinta, sebab kita akan sengsara bila tak punya cinta

    BalasHapus
  2. makasih sharingnya :) iya kadang alasan jatuh cinta ngga bisa dimengerti pakai logika :)

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P