Perlukah Follower Bagi Blogger?




 “Kok aku sumpek, ya, lihat fakir follower. Semacam menjadikan teman sebagai komoditas untuk keuntungan pribadi.”

‘Maksudnya apa, Kak?”

Saya bingung ketika suatu hari tanpa uluk salam seorang teman akrab menyapa saya di whatsapp dengan pengantar demikian. 

“Nggak apa-apa. Barusan lihat statusnya teman di facebook.” Lantas teman saya itu mengirim gambar tentang status teman yang dimaksud. Dan saya hanya terbahak mentertawakannya.

“Trus kamu follow, Kak?”

“Iya, di facebook saya temenan di IG juga.”

Percakapan ini sekitar sebulan lalu. Percakapan absurd yang membingungkan, karena memang teman saya ini tiba-tiba saja menyapa dan membuat tajuk percakapan yang saya sama sekali nggak paham :D Jadi intinya apa percakapan di atas?

Teman saya jengah, melihat lingkaran pertemanannya di facebook rajin menghitung follower, baik di instagram mau pun di twitter. Lah, emang teman saya siapa? Sebutlah teman saya ini X. X dulu adalah seorang blogger, tapi sekarang X sudah nggak aktif ngeblog lagi. Lantas temannya X siapa? Temannya X ini blogger juga dan sekrang masih aktif ngeblog. X merasa jengah, merasa temannya ini menjadikan followernya sebagai komoditas untuk meraih keuntungan pribadi.

Kadang, kalau ketemu X saya bilang, bahwa indikator follower sebagai blogger itu sekarang mulai diperhitungkan. Misalnya, untuk keperluan buzzer perusahaan membuat persyaratan dengan batas minimum jumlah follower sekian ratus atau sekian ribu baik di instagram mau pun di twitter. Jadi, buat saya pribadi (sebagai blogger) tak salah memang ketika menjadikan indikator follower sebagai bahan modal dan bekal seorang blogger untuk menjadi buzzer. Misalnya, menjadi buzzer seprei :D

Tapi, di satu sisi, saya pribadi tak pernah meminta teman-teman untuk mengikuti akun saya di media sosial secara langsung, kecuali memang kami sudah saling kenal, atau bertemu di sebuah tempat kemudian bertukar id akun media sosial. Bahkan, ketika ada event Giveaway di blog sekali pun, saya tak menjadikan follow akun pribadi sebagai salah satu syarat. Kecuali, mengikuti akun-akun media sosial sponsor. Ini lebih kepada prinsip sejak zaman dahulu kala.

Sombong, Naz! Eh, bukan begitu. Dari dulu, dari sejak menggunakan media sosial di twitter dan plurk, saya mengikuti siapa pun yang saya rasa nyaman untuk berteman di media sosial. Mengikuti, karena ingin berteman. Eh, jadi keingetan zaman-zaman multiply mau tutup. Dulu, kami sempat heboh sesama sendiri untuk saling mengikuti akun twitter, supaya kami tidak kehilangan jejak satu sama lain meneruskan silaturrahim.

Nah, karena sekarang perkembangan blog sudah semakin pesat, satu sama lain saling berkaitan dan indikator follower  baik dari twitter mau pun instagram sangat diperhitungkan mau tidak mau saya mengikuti perkembangan tersebut. Jadi, kembali kepada pilihan (sebagai blogger) untuk menjadikan follower sebagai komoditas kepentingan pribadi, atau menjadikan follower sebagai teman yang siapa tahu mendatangkan penghasilan. Rasanya, yang terakhir itu lebih menyenangkan. Jangan sampai juga ada kejadian kayak gini, minta difollow sama teman-temannya, kemudian kalau followernya sudah banyak, dia akan unfollow satu-satu :)))) . Kejadian kayak gitu, buat saya melucukan :D

Jadi, apa pentingnya follower buat blogger? Penting, penting buat menjalin networking, networking pertemanan, karena kita tak pernah tahu rezeki itu datangnya melalui perantara siapa. Dan saya, selalu menganggap bahwa lingkaran pertemanan yang banyak selama ini adalah harta terbesar saya dari blog   ^_^

Sumber gambar dari, https://www.seoclerk.com/twitter/229835/High-Quality-Never-Dropped-4000-Twitter-Follower

9 komentar:

  1. aku mencoba untuk tidak dipusingkan dengan hal seperti ini tapi kayaknya memang followers perlu sekali yaa :)

    BalasHapus
  2. untuk blogger pemula macam saya, fakir follower itu rasanya seperti "kesepian" ehehe ..

    BalasHapus
  3. menurutku tetep penting, hehe. kadanga da info yang aku tahunya justru dari teman yang jarang aku komunikasi sama dia. cuma karena dia ngeadd dulu jadi ya tercipta pertemanan, meski cuma di dumay.

    BalasHapus
  4. Iyap! Bahkan aku ndak minta follow balik utk beberapa kenalan yg sdh pernah ketemu offline. Ada yg mungkin lupa utk follow balik, no problem, Kak. ;) Yg penting dia inget aku kalau ketemu offline.

    BalasHapus
  5. Saya follow beberapa blog karena malas juga kalau mau blogwalking, kalau di follow kan tinggal lihat di dashboar mungkin ada postingan baru :) kalo sosmed.... entah lah, saya masih menganggap sebagai wadah bercanda dan yah itu... silaturahim :) kalau bisa cari uang dari sana yah no problem hehehehe. Met malam Kanaz :)

    BalasHapus
  6. perluuu juga anaz...
    yap networking, dah ngerasain sendiri ko.

    oya dah polbek2an kan kita kakaaa anaz

    BalasHapus
  7. Kanaazzzzz, kangeeeeeen :)

    Udah, itu ajah qiqiqiiq

    @nurulrahma --> minta dipollo bingits *gubraks

    BalasHapus
  8. follower blog drqu jg baru atu.. follow donk mbaa... xixixi..

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P