Di Malaysia, Ada Pembantu yang Membawa Mobil Majikannya

Desi bersama dengan majikannya Puan Munirah

“Mbak Anaz di mana? Aku di parkiran.” Setelah sibuk mencari wifi gratisan di bandara, akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan Desi, salah seorang teman yang akan menjemput saya di Bandara Kuala Lumpur Insternastioanl Air Port (KLIA) 2 pada 12 Oktober 2015.

“Mbak Anaz di parkiran depan. Di pintu kedatangan internasional.” Rupanya, Desi masih berada di dalam area parkiran bandara. Akhirnya, saya kembali masuk ke dalam area mall KLIA 2 untuk mencari Desi. Alhamdulillah, kami langsung bertemu. Desi mengajak saya menuju mobil yang berada di area parkiran setelah kami bersalam bertanya kabar dan langsung membawa saya ke Shah Alam. 

Saya duduk di samping kemudi. Desi terampil mengendarai mobil, menembus jalanan Sepang yang lengang. Selama perjalanan, kami asyik berbincang berbagai macam topik. Dari mulai menanyakan kabar biasa secara personal, juga sedikit membahas tentang dunia tenaga kerja. Sampai tak terasa, kami sampai di Shah Alam di rumah majikannya Desi. Ya, Desi merupakan salah seorang teman yang bekerja di Malaysia di sektor rumah tangga. 

Ia menyilakan saya masuk ke rumah majikannya. Melewati ruang tamu yang sangat besar, menuju ruang tengah, melewati meja makan, dapur dan sampai ke kamarnya Desi yang berdekatan dengan dapur. Jangan dikira kamarnya sempit dan sumpek. Kamar Desi besar, kamar mandi pun ada di dalamnya. Desain minimalis berwarna putih mendominasi kamar Desi. Juga seperangkat lemari, meja yang ada di dalamnya. 

“Mbak Anaz istirahat aja. Capek di perjalanan.” Saya tertawa menanggapi tawarannya. Perjalanan Jakarta-Kuala Lumpur tidaklah sejauh mana, jadi saya mengabaikan pesan Desi. Saya lebih tertarik melihat dia melakukan aktivitas di rumah majikannya.

Desi Lastati, gadis berusia 24 tahun ini sudah bekerja selama lima tahun di Malaysia. Bekerja di sektor rumah tangga dengan majikan etnis melayu. Perempuan yang mempunyai hobi traveling ini ketika kecil bercita-cita menjadi seorang penulis. Tapi, siapa sangka, garis hidupnya mengantarkan ia menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia. Lulus dari salah satu Sekolah Menengah di Temanggung, ia mengikuti jejak kakaknya merantau ke Malaysia. Berbekal passport dengan visa pelancong, ia mengadu nasib berharap dapat mengubah garis hidup yang lebih baik.

Desi dengan bukunya


“Saya terdesak, Mbak. Yang penting dapat kerjaan majikan muslim. Karena sebelumnya, waktu di Indonesia saya pernah bekerja dengan beberapa majikan berbeda etnis, tapi saya nggak cocok.” Itu jawaban Desi ketika ditanya niat dan tujuannya bekerja di Malaysia. 

Desi, barangkali menjadi salah satu TKW yang beruntung di Malaysia. Selama dua tahun, ia menjadi pendatang ilegal tanpa ada permit kerja. Saat ia masuk ke Malaysia, usianya belum mencukupi untuk bekerja (saat itu, Malaysia menetapkan minimal usia pekerja adalah 25 tahun). Itulah kenapa majikannya tak membuatkan permit kerja. Selama dua tahun menjadi pendatang ilegal, majikannya memberikan peluang ia belajar bahasa Inggris di Cambridge. Buatnya, kesempatan belajar di Cambridge adalah pengalaman berharga. Di kelas, ia satu-satunya pelajar Indonesia.

“Bahkan saya pernah dikira anak duta besar, karena tinggal kawasan mewah.” Cerita Desi sambil tertawa. Ya, majikan Desi tinggal di perumahan mewah di daerah Shah Alam. Sore itu, setelah saya tak menghiraukan tawarannya untuk beristirahat, saya mengtuntit Desi yang akan menyiapkan masakan malam. Rumah dua tingkat yang sangat besar itu dihuni oleh satu keluarga. Majikannya memiliki tiga orang anak. Selain Desi, ada juga salah seorang PRT yang khusus mengasuh anak bungsu majikan. Ia sama-sama berasal dari Tulungagung. 

Jalan-jalan ke Australia bersama dengan keluarga majikan


Desi, selain sibuk mengurus rumah, ia juga mengurusi beberapa pekerjaan lainnya. Saat majikannya mengelola butik, Desi pun diminta mengurusnya. Bolak-balik rumah butik menjadi salah satu rutinitas pekerjaannya sehari-hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Karena kesibukannya itulah, majikannya memberikan kepercayaan untuk mengambil lesen (SIM) di Malaysia. Satu buah mobil Myvi menjadi pegangan Desi sehari-hari. 

Tahun 2012, Desi mengambil sesi kuliah di Universitas Terbuka Kuala Lumpur. Mengambil jurusan komunikasi, Desi berharap bahwa ketika ia pulang ke Indonesia, mampu bersaing mencari pekerjaan dengan ribuan orang-orang berijazah lainnya. 

Esok paginya, saya kembali menyaksikan aktivitas Desi. Menyapu, mengemas, mengepel rumah dan membuat sarapan pagi. Ia cekatan sekali bekerja. Badan kecilnya, dengan gesit menyapu bersih semua pekerjaan dalam sekejap. Setelah ia selesai mengerjakan semua tugasnya, ia mengajak saya sarapan, menyiapkan diri untuk berangkat ke Chow Kit, menghadiri acara workshop bloging.

Saya terkesima melihat Desi dengan segala aktivitasnya. Desi, mematahkan stigma TKW Malaysia yang acap terlihat dan terdengar di berita-berita. Teraniaya, disiksa majikan dan serupa kabar-kabar buruk lainnya. Semoga keberkahan selalu menyertai Desi. Baik ketika di Malaysia, mau pun setelah kembali ke Indonesia. Senang bisa mengenal Desi. 

Sebab bekerja menjadi PRT di Malaysia, mengantarkan Desi menjadi penulis. Beberapa buku antologi telah selesai dibuatnya. Pun ia selalu rajin menulis di blog pribadinya. Ditunggu buku ketiga, keempat dan seterusnya ^_^ 

Rumahnya besar beudddd

Ukuran meja makan segini, Desi acap masak sendiri untuk memenuhi isi meja

Bahkan menguras kolam pun ia kerjakan. Edyan!






Tempat Desi banyak berkutat, dapur :)

14 komentar:

  1. Beruntung sekali mbak desi bisa punya kesempatan seperti itu. Jarang sekali aku dengar ada tkw seberuntung mbak desi.

    BalasHapus
  2. Wah...jeung des. Masuk blog mba Anaz ni

    BalasHapus
  3. Wah mbak desi juga menulis buku....memang dasyat....semoga mba sentiasa dirahmati Allah..aamiin..

    BalasHapus
  4. Ya ampyiiin...itu rumah apa istana. Aduh kebayang dah capek nya ngurusin rumah segede gaban gitu. Tapi bener Mbak. Kisah Mbak Dessy ini menghapus stigma negatif TKW yang bekerja di Malaysia yang kt y byk disiksa majikan. Beruntung ya punya kesempatan belajar lebih contohnya bahasa Inggris. Keren deh.

    BalasHapus
  5. Masya Allah, kerennya Mbak Desi. Barokallah...

    BalasHapus
  6. Desi yang keren, semoga makin banyak TKI khususnya wanita yang punya kesempatan seperti Desi.
    Tulisannya bagus, Naz. Detail :)

    BalasHapus
  7. Desi happy & enjoy ya dengan pekerjaannya apalagi punya majikan yang baik

    BalasHapus
  8. seneng bs tau mba desi setelah baca babu backpaker

    BalasHapus
  9. mbak desi bener2 beruntung dapat majikan super baik begitu :)

    eh tapi aku penasaran soal permit kerja.. awalnya kan masuk malaysia pake visa turis.. nah permit kerja ga bisa diurus krn umurnya blm cukup.. pas umurnya udh cukup, majikannya lgs ngurus kan ya? itu ga ketahuan kah, krn dari pasportnya ketahuan dia ga ada permit kerja sblmnya kan.. free visanya kan cuma 30 hr.

    BalasHapus
  10. Mbak Anaz kapan ngikuti jejak Desi, maksudnya ngambil jurusan komunikasi gitu :)

    BalasHapus
  11. Desinya mau belajar dan terus mengembangkan diri ya mba, lalu majikannya orang yang memahami dan baik, rezeki memang tak kemana.
    Ikut senang baca kisah ini

    BalasHapus
  12. si kecil yang super gesit
    salut banget sama semangatnya

    BalasHapus
  13. inspiratif banget mbak perjalanan hidupnya

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P