Berkunjung ke Kampung Orang Asli Serigala

Bersama dengan adik-adik Kampung Serigala dan Poji tentu saja


Kampung Orang Asli Serigala, apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar kalimat tersebut? Sebuah cerita tentang asal muasal serigala? Atau kampung yang dulunya banyak serigala? Kembali, pertanyan-pertanyaan itu juga bergelayut di pikiran saya. Ini masih dalam rangka menghadiri  Eat Travel Write 3.0 (ETW 3.0) di Selangor pada bulan April lalu, lanjutan dari tulisan sebelumnya yang ini di Kampung Felda Kedangsa.

Mendekati pukul empat sore, kami beranjak meninggalkan Kampung Felda Kedangsa, menuju perkampungan orang asli. Lagi-lagi, perut dalam keadaan kenyang lenang. Cuaca panas tidak menyurutkan semangat teman-teman mencicipi lontong yang katanya enak sekali. Perut saya memang sudah tak muat. Inilah kenapa saya tak ikut mencicipinya. 

Menuju Kampung Orang Asli, lagi-lagi kami harus berganti kendaraan dari bus menaiki lori. Melewati jalanan yang sempit, kanan kiri hutan kelapa sawit, kami disambut hujan lebat. Tapi ia tak mengurangi kegembiraan, curah hujan yang tempias ke dalam lori membuat kawan-kawan yang ada dalam lori tertawa gembira. Apalagi, kalai lori menabrak ranting-ranting pohon yang berjuntai di tepi jalan.

Sampai di Kampung Orang Asli Serigala, hujan masih belum reda. Kami disambut oleh para tetua kampung dan anak-anak muda di depan sebuah tempat seperti aula. Berderet-deret meja telah disiapkan berisi lagi-lagi makanan. Ya, dalam itinerary sore itu, kami akan melihat proses memasak Nasi Buluh dan Ikan Buluh. Sekumpulan remaja menyambut kami dengan mengalungkan janur juga memasangkannya di kepala kami. Rangkaian janur yang dibuat kalung dan topi disarungkan kepada seluruh peserta yang hadir. 



Iringan ketukan bambu di atas kayu langsung terdengar. Tiga  orang lelaki di depan kami sedang menyiapkan musik tarian orang asli di antara renya hujan. Disusul beberapa remaja perempuan yang menari mengikuti ketukan bambu di atas kayu tersebut. Dengan make up tipis-tipis juga mengenakan kalung dan topi yang dibuat dari janur pelepah kelapa beberapa anak remaja perempuan menari mengikuti irama ketukan bambu di atas kayu. Terlihat sederhana, tapi istimewa buat saya.



Usai pertunjukan sambutan, dua orang pak Cik langsung beraksi di depan kami. Menunjukan beberapa buluh bambu untuk persiapan memasak Nasi Buluh dan Ikan Buluh. Konon, menurut Pak Cik Buluh bambu yang digunakan untuk memasak bukan sembarang buluh. Ia dicari dari hutan dan sekarang sulit ditemukan. "Kalau bukan untuk sambutan tamu, kami sudah jarang yang mencarinya." Kata Pak Cik yang menyiapkan masakan. Ia meraih buluh bambu, menunjukannya kepada kami. Kemudian, ia menunjukan ikan nila yang sudah direndam dengan beberapa perencah tradisional. 

Ini buluh bambunya


Eh, bumbu tradisionalnya daun lilih aja, sih. Lain-lain itu garam saja dan perisa jika suka. Kemudian, ikan-ikan tersebut dimasukan ke dalam bambu, setelah itu ikan siap untuk dibakar. Setelah selesai pertunjukan ikan, Pak Cik pun menunjukkan bagaimana caranya memasak nasi menggunakan buluh bambu. Caranya, lebih kurang sama. Hanya medianya saja yang berbeda.

Tanpa menunggu lama, kami bisa langsung menikmati sajian Ikan Buluh dan Nasi Buluh. Rupanya, warga Kampung Serigala sudah menyiapkan maskaan untuk kami. Karena proses memasaknya memang lama. Baik nasi mau pun ikannya, rasanya sama-sama enak. Makanan khas tradisional dari Kampung Orang Asli Serigala. Yang bikin saya berkerut kening, sebenernya mengenai daun lilih ini. Mungkin, daun ini hanya ada di hutan-hutan Malaysia.

Poji, mengajak saya ke tepi rumah. Kononnya, mau diminta buat testimoni ala-ala jalan-jalan cari makan yang menyebalkan. Iya, menyebalkan karena ini ada sesi pengambilan video dan saya harus berlakon gitu :D nyahahaha... Rasain banget ini, mah :D tak lama pengambilan gambar, Sham dan panitia lainnya meminta kami cepat-cepat beranjak meninggalkan Kampung Serigala menuju penginapan karena hari sudah semakin petang. Sebelum meninggalkan Kampung Serigala, saya dan Poji sempat mengambil gambar dengan anak-anak Kampung Serigala. Buat saya, hari itu yang paling berkesan adalah di Kampung Serigala. Sayangnya, waktu sangat terbatas. Karena menurut Sham, penginapan Sri Berkat yang akan kami tuju itu sangat jauh dari Kampung Serigala.

Kenapa namanya kampung Serigala? Karena dulunya, di kampung ini banyak serigala berkeliaran.

Ikannya dimasukan dalam bambu


Mbak Olip semangat nyicip

Dikerjain Poji, ala-ala Jalan-jalan Cari Makan :))))))

Semua foto-foto yang bagus di sini milik @akugraphy ^_^ 
Bersambung....


5 komentar:

  1. Itu nasi buluh kalau di daerah sumatera (Aceh atau Medan) yang disebut lemang apa ya..? Perjalanan seru, Mbak.. berbaur dengan mereka-mereka yang masih menjunjung tinggi adat.

    BalasHapus
  2. Seru mbaaa travelingnya euy. Hal yg paling menyenangkan kalau bisa mengenal adat, kuliner, dan berkenalan langsung dg masyarakat kampungnya ya...

    BalasHapus
  3. Hihi sebelum baca aku kira kaya di film"bisa berubah jadi serigala, ternyata banyak serigala dulunya, tapi liay suasananya asik deh mak ^^

    www.leeviahan.com

    BalasHapus
  4. Seperti di negara kita ya mba, masih ada suku aslinya. Nama kampungnya agak horor menurut saya :p btw, itu nasi buluh ngga ada penampakkannya mba?

    BalasHapus
  5. howalah
    takkiro anaz dadi wolferine...

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P