Membaca Puisi-puisi Rois Rinaldi



"Nggak pantes Kanaz ngefans sama dia, karyanya saja nggak ada yang tahu." Siang-siang di kantor, saya hampir tersedak ketika Novita, salah seorang kawan dekat menulis demikian di whatsapp. Novi, yang selalu menganggap saya sombong ketika saya bilang tak mengenali beberapa penyair-penyair muda Indonesia itu selalu meledek saya. Aan Mansur misalnya, penyair muda kelahiran Makassar itu pernah bertemu saat taping Mata Najwa, tapi saya abai tak menyapa atau sekadar menyalaminya. Sementara teman-teman di group whatsapp, sudah ribut sendiri. Ya, bacaan saya tentang buku-buku penyair tak banyak tentunya. Selain punya bukunya Taufik Ismail, lainnya tak ada lagi. Sangat terbatas.
Lantas, ketika suatu hari Adi bercerita tentang seorang sosok yang katanya acap mendapatkan penghargaan di luar negeri, kerap pula mengunjungi berbagai negara untuk menghadiri acara sastra, saya terkesima.
"Memang dia orang mana, Di?" 
"Orang Kramat, Kanaz. Dia juga punya taman baca."
"Eh? Orang Kramat? Sebelah mana?" Ketika Adi menjelaskan semuanya, saya pun bukannya paham. Karena banyak tak mengenali daerah Kramat, selain rumah Kakak saya.
Begitulah, awal saya mengenal namanya. Tapi, mengetahui namanya tak membuat saya tertarik untuk mencari siapa dia dan sepak terjangnya di dunia sastra. Sampai suatu hari, ketika mengadakan acara Literasitainment, saya meminta Adi untuk mengundangnya membacakan puisi. Meski akhirnya, ia tak dapat datang karena sesuatu dan lain hal. 
"Emang buku terakhir yang Kanaz baca apa, sih? Masak Rois aja nggak tahu? Aku ada bukunya!" Itu Novita, kalau ngomong kadang sangat cabai sekali. Pedas, serupa sambal tanpa garam dan tambahan sedikit gula. Makanan pembuka puasa yang belum selesai saya kunyah itu terhenti, saya memandang Novita. Tertawa.
"Emang semua orang Kanaz harus tahu dan kenal?"
"Iyalah, Kanaz mah sombong, sih." Teh manis yang masih setengah gelas itu, berasa saya ingin tumpahkan ke Novita. Tapi itu sebatas canda tentu saja.
Sekali waktu, facebook saya diadd olehnya. Jadilah saya bisa melihat kegiatan Rois di media sosial. Dan saya, sesekali googling tentangnya. Tak banyak yang saya tahu. Selain dari beberapa cerita Adi ketika bertemu sesekali. Kami pun sempat bertemu sekali, ketika kami mengadakan baksos di kampungnya Cholis, Pun hanya sebentar, karena dia harus segera pulang, karena ada hal lain yang harus ia kerjakan. 
**
"Owh, ini rupanya kampung penyair hebat itu. Sepertinya, kalau kita mau jadi penyair, harus tinggal di desa-desa seperti ini. Eh, tapi ini jangan bilang-bilang kang Rois." Celetukan Rahmat, membuat kami berempat di mobil tertawa. Minggu lalu bersama dengan Adi, Kak Magda dan Rahmat kami singgah di kampungnya Kang Rois, Desa Cibelut-Cilegon. Saya tak pasti ia masuk kelurahan Pelamunan, Kecamatan Kramatwatu atau mana. Sore itu, atas keinginan Kak Magda dan diaminkan oleh semuanya, kami ingin makan di saung, di tengah sawah. 
Koleksi foto milik Adi

Diajaklah kami oleh Rois ke kampungnya untuk mencari saung di tengah sawah. Di kampungnya Desa Cibelut, hamparan sawah hijau masih banyak terbentang berhektar-hektar. Jalan raya yang tak begitu luas itu diapit oleh sawah-sawah. Betullah celetukan Rahmat, bahwa seorang penyair hebat itu lahir dari tempat-tempat yang indah. Eh, tapi masih indahan kampung halaman saya, sih #KemudianLariKeHutan 
Karena sering diledek dan dicela semena-mena sama Novita, hari ini iseng saya googling mencari puisi-puisinya Rois Rinaldi. Kalau Novita sih katanya punya buku-bukunya. Tak sulit tentu saja, karena ternyata begitu banyak tebaran puisinya di dunia maya yang ditulis entah oleh siapa. 
MENCARI ALAMAT
Di saat aku mencari alamat kantor pemerintahan
aku bertemu seorang pemulung
aku bertanya padanya
lalu ia menunjuk tong sampah dan pergi
CILEGON-BANTEN

BANGSA MISKIN
Telah kita saksikan
Berbondong-bondong anak bangsa
Ke luar negeri, jadi pambantu
Miskin sekali yah, bangsa ini?

HUJAN
seorang wanita renta memutar-putar tasbih, penuh takjub hati tengadah penuh pada Tuhannya, di ruang yang lain seorang cucu memanggil neneknya, ketakutan, hujan menutup jendela, petir menyambar suara-suara.
HUJAN II
"kenapa hujan enggan menyentuhku?" tanyaku pada sepi
lantas dari seberang hujan kulihat gelap berlari cepat ke arahku



Tak apa dikata sombong oleh Novita, karena tak mengenali penyair-penyair muda Indonesia. Barangkali, setelah ini saya bisa memesan buku Tak Ada New York Hari Ini yang ditulis oleh Aan Mansur untuk menambah koleksi buku di lemari. Atau, bisa jadi saya membeli buku-bukunya Rois Rinaldi, yang tak hanya ada di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. 



Nah, kan? cerah ceria di sawah mah ^_^


Berhasil makan di tengah sawah, di gubug pulak :D

2 komentar:

  1. Aku juga ngak tau rois rinaldi iku sopo hahahaha. coba tak googling dhisek yooo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Om Cumilebay! Eh, sombong ndink :P
      Nyahahahaha

      Hapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P