Bagaimana Mendongeng dengan Audience Orang Dewasa?

Kelas Dongeng Pemula yang dilaksanakan tanggal 10 September lalu. Ramai banget ^_^

Bagaimana Mendongeng dengan Audience Orang Dewasa? Saya sudah bisa mendongeng? Sampai-sampai menulis tutorial?  Owh, sama sekali belum tentu saja. Meski sudah hampir tiga tahun tergabung di Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi) besutannya Kak Aio, saya tetaplah saya. Yang masih belum bisa mendongeng. Atau tepatnya, saya masih malu memulai mendongeng di depan anak-anak (yah paling bisanya di depan keponakan-keponakan :D ahahahaha). Nah, di depan anak-anak saja belum berani, apatah lagi di depan orang dewasa? -_-

Kak Aio adalah mentor yang baik buat kami. Dia memang senior untuk urusan dongeng. Nggak heran, karena jam terbangnya yang sudah tinggi. Kepiaiwaiannya dalam hal dongeng tak bisa diragukan lagi. Karena kelebihan yang dimiliki itulah, ia selalu support kami, para relawan untuk bisa mendongeng juga. Dalam setiap event undangan dongeng, ia selalu mengharapkan relawan-relawan untuk tampil. Menambah jam terbang, juga mengasah kemampuan kata dia. Kak Mila, Kak Yanie, Kak Ana, Kak Fadila dan teman-teman lain sudah mulai sering mendongeng. Buat Kak Aio, keberanian mencoba adalah kunci utama (halaghhhh... saya serius banget, sih?) :D tapi emang iya, sih. Hahahahaha... Kalau Kak Budie dan Kak Bonchie, jangan ditanya lagilah ^_^

Kembali ke awal judul. Jadi, ceritanya tadi malam ada Kelas Online di group whatsapp Ayodi untuk pertama kalinya. Kelas dongeng offline, kami sering lakukan. Tapi untuk online, baru malam tadi mulainya. Dengan tema Mendongeng untuk Audience Dewasa, inilah sedikit rangkumannya yang saya copy paste semena-mena.

Kak Aio: Sejak Kuliah Dongeng terakhir beberapa waktu lalu, kemudian ada yang mengusulkan bahasan tentang "Bagaimana Mendongeng dengan Audience Orang Dewasa?". Nah, ini yang akan gw coba bahas sedikit dan nanti bisa dibahas kemudian atau bagus jika ada yang tanya. Point satu yang harus diingat dulu, sambil pengingat buat semua juga...

Pertama, Mendongeng itu adalah Accrued Skill  
                       
Mendongeng itu adalah keahlian yang butuh dilakukan berulang dan memakan waktu hingga merasa cukup baik nantinya. Contoh sederhananya adalah naik sepeda, nggak bisa jago mengendarai sepeda jika baca buku panduan saja.
                         
Kedua, yang harus AyoDears ingat... Mendongeng adalah KOMUNIKASI. Jadi modal utama adalah elemen dalam komunikasi juga... cerita, suara, ekspresi, dan gesture. 
                        
Nah sekarang kita masuk ke pokok bahasan...

Bagaimana mendongeng ke orang dewasa?   
                      
Pada dasarnya, siapapun senang bercerita dan senang mendengarkan cerita yang baik. Siapapun itu bisa anak, dewasa, orang tua, dewasa atau tua yang terperangkap di tubuh anak-anak, hingga anak-anak yang terperangkap di tubuh tua tapi tidak dewasa atau mungkin cukup dewasa juga. 
                        
Cerita yang baik itu bagaimana?        
            
Kalau pada anak-anak, cerita yang baik itu yang sesuai dengan perkembangan usianya. Kalau pada orang dewasa,  cerita itu yang juga sesuai dengan perkembangannya.

Ini yang tricky.               
          
Buat orang dewasa, alat terkadang tidak mempengaruhi. Buat anak-anak juga sih. Asal kita punya cerita yang kuat. Jadi POINT penting di sini, kita harus punya cerita yang kuat sesuai dengan usia audience yang akan kita hadapi. Kalau orang dewasa, maka ceritanya SESUAI DENGAN atau MENANTANG pengetahuan mereka, pengalaman mereka atau logika mereka. Ini kuncinya.

Dari penjelasan Kak Aio di atas, barulah dibuka tanya jawab. berikut tanya jawab yang diajukan oleh teman-teman, 

Kak Yanie, Gimana, sih, cara taunya cerita itu kuat atau ngga? Ini PR aku dr dulu milih cerita suka susah. Pertanyaan Kak Yanie, yang sudah sering mendongeng di beberapa event dongeng.

Kak Aio: Untuk tahu cerita kuat atau enggak itu sama seperti nonton film. Film dengan cerita yang kuat itu nggak akan mudah dilupakan. Di jalan akan dipikirkan, akan ada perasaan tertentu yang berkecamuk di kita dan beragam lainnya. Tapi film tidak cukup hanya cerita, dia didukung visualnya (cinematography, tatacahaya, dll yg terlihat), audionya (tatasuara, sound effect, theme song, dll yang terdengar), pemainnya.   

Itu kekuatan pendongeng. Cerita, kalau sudah di kuasai. Hanya dengan permainan Nada suara (intonsi), kecepatan (pace) dan tehnik suara lain tanpa meng-UBAH suara,  tapi didukung ekspresi dan gesture yang tepat juga cukup kuat kok. Cara taunya, banyak baca dan rasakan ceritanya. Apakah ada "sesuatu"? Apalagi jika cerita itu bisa menggerakkan seseorang. Itu cerita yang kuat.  

Anis,  Lalu, kalau ke orang dewasa sepertinya kaya "motivator" gitu, ya, Kak? Karena penyampaian nggak pakai imajinasi, atau apa, Kak? Mohon diluruskan. 

 Kak Aio; gw nggak percaya seseorang bisa menjadi motivator. Orang yang bisa memotivasi hanya orang itu sendiri. Karena dia yang mengambil keputusan. Kemudian dia memotivasi dirinya untuk bergerak. Dia bisa mengambil inspirasi dari orang lain, dari kisah orang lain. Nah, dongeng itu kerjanya seperti itu. Dongeng yang menginspirasi itu yang kuat buat orang dewasa. 

Rahmat; Kalo orang dewasa, perlu ekspresi berlebih terutama vokal?  

Kak Aiokalau dirasa perlu dan jadi penguat cerita, kenapa enggak?

Kak Budi, jika tetap ingin menggunakan 'partner', bagaimana memaksimalkan alat peraga bonek? Apa bisa dibuat konsep tanya jawab/ komunikasi dengan si partner?  

Kak Aio, Nah ini bisa aja sih, tapi orang dewasa sudah tau "partner" nya itu apa. Tapi kalau ceritanya kuat, nggak masalah apapun yang kita pakai. It will work.     

Destri, Kak mau tanya, kalo sama anak-anak, kan, naikin moodnya pake lagu atau tarian. Kalau dongeng untuk dewasa naikin moodnya gimana, ya, caranya?


Kak Aio; bisa iya, bisa enggak. Tergantung ceritanya. Nggak bisa pakai lagu. Orang dewasa akan dengar kamu jika sesuai dengan kebutuhan mereka, Minat mereka, atau malah menantang minat mereka dan kamu malah menyadarkan kalau mereka butuh. Ini pasti bisa kena.

Kak Yanie; Kalau orang dewasa, maka ceritanya SESUAI DENGAN atau MENANTANG pengetahuan mereka, pengalaman mereka atau logika mereka. Contohnya apa? #bantukakAna

Kak Aio;  Dalam setiap cerita ada value, pesan dan nilai. Nah, cara penyampaian yang tersirat atau tidak secara langsung itu yang kuat pengaruhnya. Itu yang kadang bikin orang "Ooo..." diakhir. 

Dari tanya jawab di atas, untuk memberikan contoh barangkali memang sulit. Karena, emndongeng itu bukan sekadar teori. Tapi lebih ke praktek. Kak Aio, memberikan penjelasan lagi, 

Kak Aio: Sebenarnya agak sudah juga di WA hahaha. Beda cerita tertulis dan cerita dituturkan lisan.  Beda cara dan beda pengaruh. Nah, dongeng itu kerjanya seperti itu. Dongeng yang menginspirasi itu yang kuat buat orang dewasa. Tertulis itu akan banyak narasi mendeskripsikan hingga kita bisa membayangkan dan mengimajinasikan. Dalam penuturan lisan, kadang deskripsi masih ada, tapi terkadang digantikan ekspresi dan gesture.

Kita suka atas sesuatu itu beda-beda. Kita suka akan sesuatu itu karena kita menemukan keindahan di situ. Indah itu bukan lagi masalah logika. Sesuatu jadi indah itu ketika menyentuh perasaan. Tujuan dongeng itu subyektif dan bisa obyektif. Bisa beda bisa sama.

Putu; Jadi untuk kasus pikih cerita.. Kita boleh subjektif ya kak? Asal kita menguasai dan kita nyaman sama creita itu.. Itu modal pede kita buat dongeng ke org lain?

Kak Aio; Bisa, tapi kalau mau valuenya sampai, harus sedikit menyesuaikan dengan audiencenya.   

Eha; Intinya kekuatan cerita dan teknik yang digunakan, yah, Kak?

Kak Aio: Tehnik bisa sederhana, tapi cerita itu harus kuat. Itulah kenapa, dongeng itu bisa dilakukan siapapun.

Film yang menggugah itu karena ceritanya kuat, cerita yang kuat pasti ada pesan yang kuat.  Sama rumusnya. Dongeng yang menggugah itu karena ceritanya kuat, cerita yang kuat pasti ada pesan yang kuat. Kadang jadi menggugah dan mengganggu. Menggugah perasaan, menggangu pikiran.   


Eha, Gimana caranya membuat cerita yang kuat, Kak?

Kak Aio: Good question. Banyak baca dan rasa. Ceritakan, ceritakan. Terus berulang hingga dapat.

Demikianlah yang bisa saya rangkum. Terima kasih buat Kak Aio. Semoga bermanfaat buat kami. Dan terutama sekali buat saya, semoga setelah ini berani mendongeng. Biar nggak cuman jadi tim medsos aja sama dokumentasi! Ahahahahaha....
                 




2 komentar:

  1. Terima Kasih Ilmunya...
    Sangat Bermanfaat dan Menginspirasi untuk segera diterapkan.

    BalasHapus
  2. aq gk suka dongeng mbak, soalnya kalau didongengin sama ibuku dulu mesti trus tidur. hihihi

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P