Jombloku, yang Sudah Tidak Jomblo Lagi



Tiba-tiba, saya sampai pada tulisan enam tahun lalu, "Inul, Pembantu dari Indonesia" saya baca lagi satu-satu, juga komentarnya. Ada banyak sekali kesalahan eyd di sana-sini. Penggunaan titik koma yang nggak pas pemakaiannya. Ah! Tapi saya tak ingin membahas segala isinya. Tapi lebih kepada individu yang saya tulis enam tahun lalu. 

Saya terdiam sejenak. Tertegun. Inul, kembali membuat saya berdecak kagum, mengucap syukur. Sungguh, Allah sebaik-baik Maha rencana, Pemilik cerita. Kalau saya tidak membuka lagi tulisan lama, pastinya saya sudah lupa dengan garis hidup Inul di masa kecil dulu. Inul kecil yang mengikuti orang tuanya sebagai transmigrasi di Sumatera. Inul kecil bertelanjang kaki menuju sekolahnya merentasi hutan bersama dengan Ayahnya. Otak kerdil saya bertanya-tanya, apakah Inul masih mengingat detail cerita kisah hidupnya kini? Entahlah.... Saya tak pasti. 

Tapi, ada keyakinan di hati kecil saya, bahwa orang seperti Inul itu dibesarkan oleh masa lalunya. Ia menjadi orang yang kaya hati. Barangkali, ia kini tersenyum bangga mengingat masa lalunya di usia tiga belas tahun. Merentasi pulau Sumatera menuju Pulau Jawa, hanya dengan secarik kertas. Mengikuti kisah hidup Inul di masa lalu, betapa sekarang saya selalu tersenyum melihat kehidupannya. Jombloku, sudah tidak jomblo lagi. Inul, sudah menikah dengan salah seorang teman blogger. Mereka, kini sudah dikaruniai seorang anak. 

Sampai hari ini, saya belum pernah bertemu dengan Inul. Tapi kami sering mengobrol di inbox. Dia, yang acap mengajari saya mencari uang melalui blog. Dia, yang kerap pula memaksa saya "menguangkan" blog. Sampai kemudian saya luluh dan mau belajar darinya. Inul keren, ya? Terima kasih, Inul ^_^

Inul, kini sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Tapi, tak sembarang ibu rumah tangga, karena di sela-sela kesibukannya mengurus rumah dan mengasuh anak, ia masih sibuk juga mencari uang di blog. Kalau saya, sih, sudah berhenti :D hahahaha. Semoga keberkahan dan keselamatan selalu bersama Inul ^_^

Dulu, ada teman yang bertanya kepada saya, kenapa saya tidak menyukai para motivator-motivator yang beredar di layar kaca? Jawab saya sederhana saja, saya lebih suka bertemu dengan orang-orang seperti Inul secara langsung. Belajar dari kisah hidupnya, bukan teori semata-mata. :)

7 komentar:

  1. Terharu, untuk yang kesekian kalinya, peluk mbak Anaz... :*

    BalasHapus
  2. Setuju. Daripada yg cuma bisa cuap-cuap semu kayak Mario Teguh, yg ngomong berdasarkan pengalaman pribadi nya seperti Inul ini yg lebih berarti ya...

    BalasHapus
  3. hehe, orang yang ada di depan mata kita itulah yang bisa jadi motivator ya, mb anaz. kisahnya nyata dan bisa diambil hikmahnya. bukan polesan karya sutradara acara talkshow dan bukan pencitraan. :D

    BalasHapus
  4. aku juga lbh menyukai motivator yg lgsg merasakan kehidupannya dibanding motivator layar kaca :-)

    BalasHapus
  5. sama, Naz. Kalau megetahui kisah hidup langsung dari seseorang yang dikenal rasanya memang lebih memotivasi :)

    BalasHapus
  6. Pengalaman orang lain itu berharga ya, Mbak.. Aku pun sering banget tertegun denger cerita orang yg mampu melalui masa sulit. Berasa ketampar :')

    BalasHapus

Personal blog, kadang anti sama spammer yang hanya menyebar link. Lebih mengutamakan pertemanan antarpersonal. Komentar kembali dimoderasi masih banyak obat-obatan yang nyepam :D :P